Intisari Kajian Tafsir Al-Qur’an dan Fiqih Ibadah bersama Dr. H. Mad Ali, MA. hari Rabu tanggal 3 Desember 2025.

‘Illiyyin, Catatan Amal Baik
كَلَّآ إِنَّ كِتَـٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ ١٨ وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا عِلِّيُّونَ ١٩ كِتَـٰبٌۭ مَّرْقُومٌۭ ٢٠ يَشْهَدُهُ ٱلْمُقَرَّبُونَ ٢١
(18) Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin (19) Dan tahukah engkau apakah ‘Illiyyin itu? (20) (Yaitu) Kitab yang berisi catatan (amal), (21) yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).
Lafadz كَلَّآ dalam ayat ini berarti “sekali-kali tidak,” menandakan larangan yang sangat ditekankan. Dalam konteks surat ini, kata tersebut bermakna sekali-kali janganlah kamu curang.
Kata ‘Illiyyin berasal dari kata dasar a’la yang berarti tinggi. Maka, dapat diartikan ‘Illiyyin berarti “sangat tinggi” yaitu kebalikan dari Sijjin yang bermakna “sangat rendah.” Kitab ‘Illiyyin sepenuhnya berisi catatan amal kebaikan tanpa adanya amal keburukan sedikit pun.
Makna “sangat tinggi” juga dapat berarti tempat kembalinya ruh manusia yang baik. Mulai dari saat nyawanya dicabut, Malaikat Izrail akan melakukannya dengan lembut sehingga nyaris tidak ada rasa sakit. Ruh yang tercabut itu akan dibungkus dalam kain sutra yang putih bersih dari surga.
Selama perjalanan menuju Allah, ruh itu akan mengeluarkan wangi yang luar biasa harum sehingga Malaikat Izrail ditanya oleh para penduduk langit siapakah ruh baik yang dibawanya itu. Ruh akan dibawa ke tempat tertinggi, dekat dengan Allah sebelum kemudian dikembalikan ke bumi untuk menyaksikan pengurusan jenazahnya dan kemudian dimasukkan ke dalam alam barzah untuk menemui Malaikat Munkar dan Nakir.
Karena inilah pada ayat ke-21 dijelaskan bahwa kitab ”Illiyyin ini disaksikan oleh para malaikat yang dekat dengan Allah. Dalam tafsir lainnya, ayat tersebut merujuk pada manusia yang Allah dekatkan kepada setiap manusia, yaitu para malaikat penjaga dan malaikat pencatat amalnya. Mereka inilah yang akan menjadi saksi bahwa hamba tersebut telah beramal baik selama di dunia sehingga kelak akan menjadi penghuni surga.
Surga, Tempat Kembali yang Baik
إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍ ٢٢ عَلَى ٱلْأَرَآئِكِ يَنظُرُونَ ٢٣ تَعْرِفُ فِى وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ ٱلنَّعِيمِ ٢٤ يُسْقَوْنَ مِن رَّحِيقٍۢ مَّخْتُومٍ ٢٥ خِتَـٰمُهُۥ مِسْكٌۭ ۚ وَفِى ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ ٱلْمُتَنَـٰفِسُونَ ٢٦ وَمِزَاجُهُۥ مِن تَسْنِيمٍ ٢٧ عَيْنًۭا يَشْرَبُ بِهَا ٱلْمُقَرَّبُونَ ٢٨
(22) Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan, (23) mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan. (24) Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan. (25) Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih dilak (disegel). (26) Laknya dari kasturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (27) Dan campurannya dari tasnim, (28) (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang dekat (kepada Allah).
Setelah melewati pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, ruh manusia yang beriman akan dibawa ke tempat terbaik di alam barzah, berkumpul kembali dengan ruh-ruh orang beriman lainnya. Ini adalah bentuk dari kenikmatan surgawi pertama yang kemudian akan benar-benar terwujud ketika hari pembalasan tiba.
Maka ketika waktu tersebut datang, para manusia beriman ini akan benar-benar masuk ke dalam surga. Dengan segala kenikmatannya, mereka akan tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Kenikmatan berupa khamar murni yang disebutkan dari ayat 25 hingga 28 di atas hanyalah salah satu dari banyak nikmat yang diberikan. Ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an juga menyebutkan beberapa kenikmatan lainnya seperti bidadari surga yang cantik dan buah-buahan yang lezat.