Intisari Kapita Selekta hari Sabtu tanggal 6 Desember 2025.
Penceramah: Dr. Bambang Budiono

Banjir Bandang di Sumatera
Baru-baru ini, Indonesia berduka dengan terjadinya banjir bandang yang melanda daerah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Skala banjir yang besar telah menimbulkan berbagai dampak bagi masyarakat. Beberapa dusun hancur terkena banjir dan lebih dari 800 orang menjadi korban jiwa dengan sekitar 800 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Sebagai orang yang berpikir, maka muncul beberapa pertanyaan. Apakah bencana ini terjadi murni karena faktor alam atau ada faktor ulah manusia di dalamnya? Apakah bencana ini adalah azab yang Allah turunkan kepada manusia yang bertindak sewenang-wenang itu?
Tinjauan Secara Ilmiah
Curah hujan di Indonesia saat ini sangat tinggi dikarenakan adanya siklon tropis yang membawa awan ke berbagai daerah di negeri ini. Awan yang cukup masif menghasilkan hujan yang intensitasnya sangat deras.
Ketika hujan turun, semestinya berbagai struktur tanah dan vegetasi dapat menyerap air hujan tersebut melalui proses infiltrasi. Namun, beberapa perubahan yang terjadi pada alam menyebabkan infiltrasi tidak maksimal.
Jika pohon-pohon ditebang sehingga hutan menjadi gundul, maka tanah tidak akan mampu untuk menyerap air hujan secara ideal. Lebih lanjut, beban dari air yang berlebih tersebut dapat mengakibatkan tanah longsor. Percampuran antara tanah, air, dan kayu-kayu gelondongan hasil pembalakan akan menghasilkan banjir bandang yang dengan curah hujan yang semakin tinggi dapat menerjang dan merusak alam dan pemukiman warga.
Kesimpulannya, banjir bandang yang terjadi di Sumatera tidaklah murni karena faktor alam saja. Ada pengaruh dari perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab dalam terjadinya bencana ini. Jikalau tidak terjadi pembalakan hutan secara liar, maka mungkin dampak dari bencana ini dapat diminimalkan atau bahkan dihentikan.
Bencana dalam Islam: Hukuman atau Cobaan?
Pandangan terhadap bencana dalam Islam disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Hadid:
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَـٰبٍۢ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ ٢٢
Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.
[QS. Al-Hadid [57]: 22]
Ayat di atas menjelaskan bahwa bencana alam adalah termasuk dari takdir Allah Swt. yang telah ditetapkan di dalam Lauh Mahfuz, terlepas dari apapun atau siapapun yang menyebabkannya.
Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦
(155) Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).
[QS. Al-Baqarah [2]: 155-156]
Dari ayat di atas, kita dapat menyikapi bencana sebagai ujian. Mereka yang sabar akan memperoleh pahala dan kebahagiaan setelah melalui musibah. Manusia juga diingatkan untuk merenung bahwa semua di dunia ini adalah milik Allah dan kepada-Nyalah semua akan dikembalikan, baik itu jiwa maupun harta.
Dapatkah Manusia Menghindari Bencana?
Sebuah pertanyaan lainnya yang menarik adalah, apakah manusia dapat mencoba menghindari suatu bencana? Dalam satu sisi, Allah Swt. berfirman:
وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّۢ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍۢ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦ ۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ١٠٧
Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.
[QS. Yunus [10]: 107]
Untuk mereka yang tidak memahami, ayat di atas memberi jawaban “tidak,” bahwa bencana tidak akan bisa dihindari. Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan dari sifat manusia, yaitu usaha atau ikhtiar.
Dalam sebuah riwayat, diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah meminta pasukannya untuk bergerak memutar suatu desa yang terkena wabah. Para pengikutnya berdalih bahwa hal tersebut berarti Umar tidak menerima takdir yang Allah tetapkan kepada mereka. Namun, beliau berargumen balik bahwa mereka sedang berusaha menghindari takdir buruk untuk menjemput takdir yang baik.
Dari kisah di atas, dapat disimpulkan bahwa takdir sebenarnya sangat tergantung dari usaha manusia. Mereka yang berusaha dan beriman akan diberikan takdir yang terbaik, meskipun tidak semuanya terasa benar-benar baik. Demikian pula sebaliknya untuk mereka yang mendustakan. Firman Allah Swt.:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَـٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ ٩٦
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan.
[QS. Al-A’raf [7]: 96]
Jika kita kembalikan ke konteks bencana alam, perlu disadari bahwa sebagian bencana ada yang dapat dicegah dan ada yang tidak. Sebagai contoh, gempa bumi dan tsunami terjadi secara alami karena tidak dapat diprediksi secara pasti kapan terjadinya. Di sisi lain, banjir bandang seperti yang terjadi di Sumatera baru-baru ini sebenarnya dapat diperkirakan dan dicegah.
Namun, daripada sekadar menyalahkan berbagai pihak, manusia semestinya berusaha untuk belajar perihal mitigasi bencana sebagai ikhtiar untuk menanggapi bencana. Inilah yang membedakan negeri kita dengan beberapa negeri maju seperti di Jepang di mana mereka sudah sangat siap menghadapi berbagai fenomena alam dengan pengetahuan mitigasi yang cukup.
Pada akhirnya, kita dapat mengambil hikmah dari bencana alam ini bahwa mungkin bencana ini mungkin disebabkan oleh ulah kita sendiri dan belum ada kesiapan untuk menghadapinya, sehingga dampak dan akibatnya menjadi sangat besar. Inilah pelajaran dari Allah yang sangat berharga bahwa manusia harus lebih memperhatikan lingkungannya dan selalu bersiap siaga menghadapi apapun takdir yang telah ditetapkan.