Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 7 Juni 2026.

Larangan Berkhianat
Seseorang dapat diberikan amanah atau kepercayaan untuk mengelola sesuatu, baik itu dalam bentuk harta ataupun jabatan. Namun, godaan dari sebuah amanah sangatlah besar sehingga bisa jadi orang itu terjerumus ke dalam jurang pengkhianatan. Untuk itulah Allah dengan tegas memperingatkan manusia untuk tidak berkhianat.
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَـٰنَـٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ ٢٧
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
[QS. Al-Anfal [8]: 26]
Mengambil hak orang lain adalah sebuah kebatilan. Allah kembali menegaskan larangan untuk bertindak batil termasuk melakukan suap dalam firman-Nya pada ayat yang lain:
وَلَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَـٰطِلِ وَتُدْلُوا۟ بِهَآ إِلَى ٱلْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا۟ فَرِيقًۭا مِّنْ أَمْوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ ١٨٨
Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.
[QS. Al-Baqarah [2]: 188]
Apa itu Ghulul?
Ghulul merupakan sebuah tindakan mengambil hak orang lain yang berkaitan dengan kepentingan umum. Di masa Rasulullah Saw., ghulul umumnya berkaitan dengan harta dari rampasan perang atau harta simpanan pada baitul mal.
Balasan yang pedih akan dirasakan oleh mereka yang melakukan ghulul, yaitu harus memikul semua beban yang mereka ambil tanpa hak di hari kiamat. Inilah ancaman Allah dalam sebuah ayat:
وَمَا كَانَ لِنَبِىٍّ أَن يَغُلَّ ۚ وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍۢ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ١٦١
Dan tidak mungkin seorang Nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barang siapa berkhianat, niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi.
[QS. Ali-Imran [3]: 161]
Dalam dalil lain, Rasulullah Saw. menyampaikan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Humaid as-Sa’idiy:
اسْتَعْمَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا عَلَى صَدَقَاتِ بَنِي سُلَيْمٍ، يُدْعَى ابْنَ اللُّتْبِيَّةِ، فَلَمَّا جَاءَ حَاسَبَهُ، قَالَ: هَذَا مَالُكُمْ وَهَذَا هَدِيَّةٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَهَلَّا جَلَسْتَ فِي بَيْتِ أَبِيكَ وَأُمِّكَ، حَتَّى تَأْتِيَكَ هَدِيَّتُكَ إِنْ كُنْتَ صَادِقًا» ثُمَّ خَطَبَنَا، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أَسْتَعْمِلُ الرَّجُلَ مِنْكُمْ عَلَى العَمَلِ مِمَّا وَلَّانِي اللَّهُ، فَيَأْتِي فَيَقُولُ: هَذَا مَالُكُمْ وَهَذَا هَدِيَّةٌ أُهْدِيَتْ لِي، أَفَلاَ جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ حَتَّى تَأْتِيَهُ هَدِيَّتُهُ، وَاللَّهِ لاَ يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا بِغَيْرِ حَقِّهِ إِلَّا لَقِيَ اللَّهَ يَحْمِلُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، فَلَأَعْرِفَنَّ أَحَدًا مِنْكُمْ لَقِيَ اللَّهَ يَحْمِلُ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ» ثُمَّ رَفَعَ يَدَهُ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ إِبْطِهِ، يَقُولُ: «اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ» بَصْرَ عَيْنِي وَسَمْعَ أُذُنِي.
Rasulullah Saw. mengangkat seseorang bernama Ibnu al-Lutbiyyah sebagai pengumpul zakat Bani Sulaim. Ketika dia telah kembali (ke Madinah), beliau mengauditnya. Ibnu al-Lutbiyyah berkata, “Ini harta kalian (zakat), sedangkan ini hadiah untukku.” Lantas Rasulullah Saw. bersabda, “Tidakkah engkau duduk di rumah ayah dan ibumu sampai hadiah yang diperuntukkan kepadamu itu datang jika engkau benar.”
Kemudian beliau berpidato kepada kami seraya memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, “Sesungguhnya aku telah mengangkat seseorang di antara kalian untuk melakukan tugas yang telah diberikan Allah kepadaku lalu orang itu datang dan berkata, ‘Ini harta kalian (zakat), sedangkan ini hadiah untukku.’ Sekiranya dia benar, kenapa dia tidak duduk saja di rumah bapak dan ibunya hingga hadiahnya itu datang. Demi Allah, tidaklah seseorang di antara kalian mengambil sesuatu yang bukan haknya, kecuali ia akan menghadap kepada Allah Ta’ala sambil memikul apa yang diambilnya pada hari Kiamat. Sebab itu, jangan sampai aku mengetahui salah seorang dari kalian bertemu Allah sambil membawa unta yang bersuara atau sapi yang melenguh atau kambing yang mengembik.'”
Selanjutnya beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat warna putih kedua ketiaknya lalu bersabda, “Ya Allah, aku sudah menyampaikan.” Hal itu dilihat langsung oleh mataku dan didengar langsung oleh telingaku.
[HR. Bukhari no. 6979]
Seberapa besar harta yang diambil untuk dihitung sebagai ghulul? Bahkan harta sekecil jarum telah dihitung sebagai ghulul.
عن عَدِيّ بن عَميْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: سمعت رَسُول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ((مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَل، فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ، كَانَ غُلُولًا يَأتِي به يَومَ القِيَامَةِ))
Dari Adi bin Amirah Radhiyallahu ’Anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih dari itu, maka itu adalah ghulul (harta korupsi) yang akan dia bawa pada hari kiamat.”
[HR. Muslim dan Abu Daud]
Hingga saat ini, ghulul masih terjadi dengan sebutan “korupsi”. Berbagai kebijakan yang berhubungan dengan uang negara hampir selalu memberi celah bagi para pejabat untuk mengambil sedikit atau banyak dari harta tersebut. Maka perlu diingat ancaman terbesar dari mereka yang melakukan ghulul:
فَإِنَّ الْغُلُولَ عَارٌ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشَنَارٌ وَنَارٌ
(Karena) sesungguhnya ghulul (korupsi) itu adalah kehinaan, aib dan api neraka bagi pelakunya.
[HR. Ibnu Majah]
Harta Hasil Ghulul, Bolehkan Dimanfaatkan?
Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. bersabda perihal harta ghulul:
لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ
Shalat tidak akan diterima tanpa bersuci, dan shadaqah tidak diterima dari harta ghulul (korupsi).
[HR. Muslim no. 329]
Sehingga jika seorang pelaku korupsi menyampaikan harta hasil perbuatan tersebut kepada suatu lembaga untuk amal, maka hukumnya tidak diperbolehkan. Namun, pengecualian diberikan pada lembaga penerima jika tidak diketahui harta tersebut berasal dari perbuatan korupsi.
Cara seorang koruptor mengembalikan harta yang diambilnya secara tanpa hak adalah dengan mengembalikannya kepada pemilik hak tersebut. Namun, apabila sulit untuk mengingat atau menemukan kembali pemilik hak tersebut, maka pelaku ghulul harus menyerahkannya pada negara atau lembaga yang akan menyalurkannya untuk kemaslahatan umat.