Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 14 Juni 2026.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab “Madariju as-Salikin” (Pendakian menuju Allah) menjelaskan tentang empat ciri teman yang pantas untuk dipilih dan diperhatikan.
Teman itu Seperti Makanan dan Minuman
Makanan dan minuman adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari manusia. Tanpa makan ataupun minum, manusia akan mati kelaparan dan kehausan. Di sisi lain, makanan dan minuman memberikan nutrisi untuk tubuh manusia dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam kitabnya, Ibnu Qayyim mengatakan bahwa teman itu seperti makanan dan minuman. Setiap manusia memerlukan teman yang memberikan dukungan yang baik dalam kehidupan. Perlu dicatat kata “dukungan yang baik” karena hal ini sangat penting sebagaimana hadis Rasulullah Saw.:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.”
[HR. Bukhari no. 2101]
Hadis tersebut menunjukkan bahwa akan ada pengaruh dari seorang teman terhadap diri kita sendiri. Teman yang baik adalah seperti pemilik minyak wangi. Maka, kita akan ikut wangi bersamanya, yaitu kita akan ikut terpengaruh dengan kebaikannya. Sebaliknya, teman yang buruk seperti pandai besi yang memberikan bau logam. Pengaruh buruknya juga akan terasa pada diri kita.
Teman yang baik tidak selalu mereka yang menyenangkan hati kita, terlebih jika sudah berhubungan dengan urusan duniawi yang melalaikan urusan akhirat. Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya:
وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًۭا ٢٨
Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.
[QS. Al-Kahfi [18]: 28]
Teman itu Seperti Obat
Obat itu dibutuhkan pada waktu tertentu, terutama saat kita sedang sakit. Beberapa teman itu seperti obat, diperlukan pada suatu keadaan khusus. Mereka adalah pilihan terbaik untuk suatu urusan. Meski demikian, bukan berarti teman seperti ini diacuhkan ketika tidak dibutuhkan. Hanya saja bahwa mereka akan jauh lebih bermanfaat jika dipercayakan pada urusan tertentu.
Tentunya urusan yang dapat diandalkan pada teman seperti ini haruslah dalam hal kebaikan. Tidak diperkenankan memanfaatkan seorang teman untuk berbuat dosa. Allah berfirman dalam kutipan sebuah ayat:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ ٢
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.
[QS. Al-Ma’idah [5]: 2]
Teman seperti ini sifatnya saling melengkapi, bagaikan setiap bagian dalam bangunan sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.”
[HR. Bukhari no. 6026 dan Muslim no. 2585]
Teman itu Seperti Penyakit
Ketika manusia ditimpa sakit, maka segala hal akan terasa sulit. Namun, di balik rasa sakit itu, ada pelajaran tentang kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani cobaan yang diberikan.
Ada pula teman yang seperti penyakit. Mereka sepertinya serba kekurangan, sulit melakukan apapun dan terkadang sulit diajari dan diatur. Namun, ada manfaat dari teman seperti ini. Mereka mengajari kita untuk bersabar, memaafkan, dan selalu konsisten mengingatkan mereka untuk berlaku baik. Selama mereka bukan orang bodoh yang tidak mau belajar atau tidak mau diajak kepada kebaikan, Allah terus menyuruh kita untuk menggandeng mereka sebagaimana firman-Nya:
خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَـٰهِلِينَ ١٩٩
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.
[QS. Al-A’raf [7]: 199]
Teman itu Seperti Racun
Racun adalah sesuatu yang menghancurkan dan merusak. Memakan atau meminum racun bisa menyebabkan kematian. Untuk itulah, tidak sepantasnya manusia bermain-main dengan racun, terlebih hingga mengonsumsinya.
Tentu ada pula teman yang seperti racun. Sifat mereka penuh dengan mudarat, menyimpang jauh dari syariat Islam. Berteman dengan mereka menyeret pada hal yang penuh dosa dan menjauhi segala ruang pahala. Adalah teman seperti ini yang harus mendapat perhatian khusus, yaitu wajib hukumnya untuk tidak didekati.
Saat ini, banyak manusia yang hancur karena berada dalam ruang pertemanan yang buruk. Terutama dengan hadirnya kelompok yang mengancam dengan sifat menyimpang seperti mereka yang senang berpacaran hingga kelompok penyuka sesama jenis. Mereka mencoba menjebak manusia dengan memberi mereka sebuah kesenangan yang tidak terduga dan terpikirkan sebelumnya, sebuah tipuan yang nyata.
Namun, pada akhirnya nanti hanya akan ada penyesalan. Allah akan menunjukkan betapa salahnya perbuatan mereka karena semua itu ternyata adalah hasil godaan setan.
يَـٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًۭا ٢٨ لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَـٰنُ لِلْإِنسَـٰنِ خَذُولًۭا ٢٩
(28) Wahai celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), (29) Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur
an) ketika (Al-Quran) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.”[QS. Al-Furqan [25]: 28]
Pada akhirnya, para teman di dunia ini akan bermusuhan, saling menyalahkan satu sama lain.
ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ ٦٧
Teman-teman karib pada hari itu (Kiamat) saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.
[QS. Az-Zukhruf [43]: 67]
Renungan Penutup
Terkadang akan ada teman tertentu yang ketika kita lepas darinya, kita merasa bebas dari jebakannya. Ibnu Qayyim memberi perumpamaan bahwa teman seperti ini, ketika dilepas maka patutlah kita mengucapkan “Alhamdulillah” sebagaimana ketika bersin keluar.
Meski demikian, perlu diingat bahwa pertemanan tidak boleh saling membahayakan. Keselamatan harus berada di atas segalanya.
Pada akhirnya, teman terbaik adalah mereka yang selalu mengingatkan untuk urusan akhirat dan dapat membantu hal yang kita perlukan dalam kehidupan dunia. Mereka inilah yang pertemanannya akan terus abadi, di dunia hingga menuju surga Allah di akhirat kelak.