Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 23 November 2025.

CCTV, Barang Bukti Kejadian
Di dunia, sebuah closed circuit television (CCTV) umumnya dipasang di berbagai tempat untuk fungsi pengawasan. Dalam hal terjadi kasus di tempat tersebut, hasil rekaman CCTV yang disimpan dalam memori perangkat sering menjadi barang bukti perkara.
Meski demikian, CCTV di dunia terbatas pada lokasi yang disorot kamera serta dalam jangka waktu tertentu. Lebih lanjut, CCTV di dunia dapat dirusak dan disabotase dalam upaya menghancurkan barang bukti.
CCTV dan Memori Allah
Allah telah menetapkan sebuah tempat di tubuh manusia untuk merekam dan menyimpan data tindak perilaku masing-masing hamba-Nya. Firman Allah Swt.:
وَكُلَّ إِنسَـٰنٍ أَلْزَمْنَـٰهُ طَـٰٓئِرَهُۥ فِى عُنُقِهِۦ ۖ وَنُخْرِجُ لَهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ كِتَـٰبًۭا يَلْقَىٰهُ مَنشُورًا ١٣ ٱقْرَأْ كِتَـٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ ٱلْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًۭا ١٤
(13) Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka. (14) “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas amalmu.”
[QS. Al-Isra’ [17]: 13-14]
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah memasangkan memori catatan amal setiap manusia di lehernya yang kemudian akan dibuka pada hari kiamat. Manusia akan melihat hasil rekaman dari amalnya sendiri. Namun, berbeda dengan CCTV dan memori manusia, CCTV dan memori Allah tidak bisa dirusak serta cakupannya menyeluruh, tidak terbatas di satu tempat dan juga menunjukkan hal yang fisik dan gaib. Inilah yang Allah firmankan dalam ayat lainnya:
وَوُضِعَ ٱلْكِتَـٰبُ فَتَرَى ٱلْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَـٰوَيْلَتَنَا مَالِ هَـٰذَا ٱلْكِتَـٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةًۭ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحْصَىٰهَا ۚ وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ حَاضِرًۭا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًۭا ٤٩
Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya.” Dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.
[QS. Al-Kahfi [18]: 49]
Ayat ini menegaskan bahwa rekaman Allah tidak terbatas pada amalan besar, tapi juga amalan kecil, baik ataupun buruk. CCTV Allah tidak seperti CCTV dunia yang bisa ditipu. Baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi akan terlihat dan terbuka. Allah telah memastikan bahwa setiap amal baik, bahkan sekecil apapun tidak akan menjadi sia-sia.
فَمَن يَعْمَلْ مِنَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌۭ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِۦ وَإِنَّا لَهُۥ كَـٰتِبُونَ ٩٤
Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, dan dia beriman, maka usahanya tidak akan diingkari (disia-siakan), dan sungguh, Kamilah yang mencatat untuknya.
[QS. Al-Anbiya [21]: 94]
Dalam ayat lainnya, dijelaskan bagaimana Allah akan menunjukkan seluruh amalan manusia sebagaimana telah terekam.
وَتَرَىٰ كُلَّ أُمَّةٍۢ جَاثِيَةًۭ ۚ كُلُّ أُمَّةٍۢ تُدْعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَـٰبِهَا ٱلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ٢٨ هَـٰذَا كِتَـٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيْكُم بِٱلْحَقِّ ۚ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنسِخُ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ٢٩
(28) Dan (pada hari itu) engkau akan melihat setiap umat berlutut. Setiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan. (29) (Allah berfirman), “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.”
[QS. Al-Jatsiyah [45]: 28-29]
Berdasarkan isi amalannya, Allah telah menentukan bahwa amalan manusia akan dipisahkan antara yang buruk dan yang baik. Firman Allah dalam dua ayat terpisah dalam Surat Al-Muthaffifin:
كَلَّآ إِنَّ كِتَـٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍۢ ٧
Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin.
[QS. Al-Muthaffifin [83]: 7]
كَلَّآ إِنَّ كِتَـٰبَ ٱلْأَبْرَارِ لَفِى عِلِّيِّينَ ١٨
Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin.
[QS. Al-Muthaffifin [83]: 18]
Allah juga membedakan cara memori tersebut dibuka dan diberikan kepada manusia, juga bergantung pada kualitas amalnya. Akan ada yang menerima amalnya dari kanan, itulah mereka yang senantiasa mengerjakan amal saleh. Sebaliknya, akan ada yang menerima catatannya dari kiri atau bahkan dari belakang. Itulah mereka yang sering melakukan amal keburukan.
Dari rekaman amalan tersebut, maka manusia akan diminta pertanggungjawaban secara terikat dan sendiri-sendiri. TIdak akan bisa manusia melemparkan tanggung jawab amalnya pada orang lain. Allah telah berfirman:
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَـٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَـٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍۢ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌۭ ٢١
Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.
[QS. At-Thur [52]: 21]
Maka penting bagi manusia untuk menghisab dirinya sendiri sebelum suatu saat nanti kita akan dihisab.