
Intisari Kapita Selekta hari Sabtu tanggal 28 Juni 2025.
Pemateri: Drs. H. Asep Syamsudaya, M.Si.
Apakah Amal Kita Mendatangkan Rahmat Allah?
Allah Swt. Mahakuasa atas segala hal, termasuk dalam hal menilai hamba-Nya. Untuk itu, tidak semestinya seorang manusia untuk menilai seseorang, apalagi hanya dari penampilan luarnya saja.
Sering kita lihat bagaimana seseorang yang biasanya dicap kurang shaleh amalannya, namun bisa mencapai derajat tinggi misal dengan dipanggil naik haji. Di sisi lain, banyak orang yang merupakan ahli masjid, gemar bertadarus, dan sering bersedekah namun tak kunjung juga dipanggil haji. Mengapa demikian?
Kunci dari amal shaleh adalah dilandasi keimanan kepada Allah Swt. Apa mungkin amal kita sebenarnya tidak didorong oleh iman, melainkan hanya karena ingin dilihat manusia (riya)? Jika demikian, maka mungkin saja amal kita tidak diterima oleh Allah Swt. sehingga hanya malu yang akan tersisa ketika kita berjumpa dengan-Nya di hari kiamat.
Allah Swt. Berfirman:
هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلْغَـٰشِيَةِ ١ وُجُوهٌۭ يَوْمَئِذٍ خَـٰشِعَةٌ ٢ عَامِلَةٌۭ نَّاصِبَةٌۭ ٣ تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةًۭ ٤
“(1) Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)? (2) Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk hina, (3) (karena) bekerja keras lagi kepayahan, (4) mereka memasuki api yang sangat panas (neraka),” [Q.S. Al-Ghasyiyah [88]: 1-4]
Kita masuk surga bukan karena amal ibadah kita, tapi pada dasarnya karena rahmat dari Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda:
لا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللهِ
“Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelamatkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” [HR Muslim].
Muhasabah, Tinjauan Islam dan Filsafat
Maka mestilah kita berintrospeksi diri, bermuhasabah. Apakah kita sudah meluruskan niat? Jika belum, maka segeralah berubah karena perintah Allah Swt. dalam firman-Nya:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” [Q.S. Al-Hasyr [59]: 18]
Menurut sebuah teori filsafat, kehidupan manusia harus menganut asas “BCD” yaitu “Birth, Change, Death“. Kelahiran manusia (birth) menjadi awal dari kehidupan. Kita semua mulai dari seorang bayi yang belum tahu apa-apa. Tapi yang jelas adalah bahwa pada akhirnya, entah itu dalam hitungan hari, bulan, ataupun tahun akan datang kematian (death).
Yang terpenting adalah memanfaatkan ruang waktu antara kehidupan dan kematian dengan change, perubahan. Tentu, perubahan yang diharapkan adalah yang sifatnya positif. Maka, kembalilah kita ke tinjauan Islam sebagaimana Rasulullah Saw. telah bersabda:
من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل امسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من امسه فهو ملعون.( رواه الحاكم)
“Barangsiapa hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan kemarin, maka ia merugi. Barangsiapa hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia terlaknat” [HR. Al-Hakim]
Kunci Diterimanya Amal
Terdapat beberapa kunci agar amal kita diterima oleh Allah Swt sehingga turun rahmat-Nya.
Mengikuti Tuntunan Allah dan Rasul-Nya
Beramal haruslah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Tidak dibenarkan untuk melakukan suatu amal tanpa dasar ilmu. Demikian pula dengan melakukan amal secara setengah-setengah, karena Allah Berfirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةًۭ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” [Q.S. Al-Baqarah [2]: 208]
Ikhlas karena Allah Swt.
Dasar dari semua amal adalah niat, sebagaimana diriwayatkan oleh Umar bin Khattab bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]
Benar-benar merugi jika seseorang beramal hanya karena riya, flexing, ingin pamer dihadapan manusia, karena telah disebutkan dalam firman Allah:
فَوَيْلٌۭ لِّلْمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٥ ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ ٦
“(4) Maka celakalah orang yang salat, (5) (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, (6) yang berbuat riya,” [Q.S. Al-Ma’un [107]: 4-6]
Istiqomah
Pada akhirnya, amalan lebih pada apakah kita bisa mengamalkannya secara konsisten atau istiqomah. Karena jika seluruh kunci yang tadi digabungkan, maka sesuai perkataan dari para jumhur ulama:
- “Celakalah orang yang beriman, kecuali mereka yang berilmu,”
- “Celakalah orang yang berilmu, kecuali mereka yang beramal,”
- “Celakalah orang yang beramal, kecuali mereka yang ikhlas,”
- “Celakalah orang yang ikhlas, kecuali mereka yang istiqomah,”
Istiqomah menjadi kunci menuju surga sebagaimana firman Allah Swt.
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”” [Q.S. Fussilat [41]: 30]
Ingat, Waktu itu Terbatas
Mengingat bagaimana kita telah memasuki Tahun Baru 1447 H, seharusnya kita sadar bahwa waktu terus maju. Tidak bisa kita menghentikan waktu apalagi memundurkannya. Dan sebagaimana dijelaskan dengan filosofi “BCD” tadi, bahwa pada akhirnya ajal telah menanti yang juga tidak bisa dihindari bagaimanapun caranya.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌۭ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةًۭ ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” [Q.S. Al-A’raf [7]: 34]
Maka, segerelah kita memohon ampun kepada Allah Swt. sebelum terlambat sesuai firman-Nya:
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” [Q.S. Ali-Imran [3]: 133]