
Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 29 Juni 2025.
Sakinah, Mawaddah, Warahmah
وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” [Q.S. Ar-Rum [30]: 21]
Rumah tangga yang ideal menurut Islam harus memenuhi tiga syarat yang sudah sering kita dengar, yaitu sakinah, mawaddah, warahmah. Pada dasarnya, apakah arti dari masing-masing aspek tersebut?
- Sakinah: Hubungan yang saling menenteramkan satu sama lainnya.
- Mawaddah: Mencintai pasangan kita karena ada hal yang positif.
- Warahmah: Mencintai pasangan kita meskipun ada hal yang negatif.
Kebanyakan pasangan berdasar pada mawaddah, namun sulit melakukan warahmah sehingga terkadang juga tidak mencapai sakinah. Inilah pentingnya memahami satu sama lain, apa kelebihan dan kekurangan dari pasangan kita.
Namun, perlu dicatat bahwa semua aspek di atas adalah sifat Allah Swt. Dan jika kita mengingat awal ayat di atas yang berbunyi, “Dan di antara ayat-ayat Kami,” maka jelas bahwa satu-satunya pilihan untuk mencapai rumah tangga yang ideal adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah.
Jika Tidak Seideal yang Diharapkan
Lantas, bagaimana jika rumah tangga kita tidak seideal yang diharapkan? Tentu, cerai bukan solusi terbaik. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ya’qub ketika mendapat ujian, maka responnya sesuai Firman Allah:
قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” [Q.S. Yusuf [12]: 86]
Semua urusan tidak perlu diadukan kepada orang lain, terutama yang tidak punya kapasitas apa-apa dalam menyelesaikan masalah rumah tangga. Bukannya rampung, masalah bisa saja meluas apabila hal tersebut menjadi bahan ghibah.
Maka, tentulah Allah Swt. adalah tempat mengadu yang terbaik, karena Allah Swt. pasti Maha Tahu terhadap apa yang bahkan tidak diketahui oleh manusia manapun.
Pujian Rasulullah Saw. Kepada Istri-Istrinya
Rasulullah Saw. tidak perlu harta kekayaan ataupun wajah cantik untuk memuji istri-istrinya. Dalam sebuah hadis:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” [HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471]
Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.
Terlihat bahwa Rasulullah Saw. hanya menginginkan istrinya tetap mengikuti tuntunan Allah Swt. Itupun tidak dengan paksaan harus melaksanakan segala sunahnya, melainkan cukup dengan menjalankan kewajibannya.
Kewajiban yang Tetap Melekat Sesudah Akad
Meskipun akad nikah telah diucapkan, namun masing-masing dari mempelai yang berbahagia tetap memiliki kewajiban yang selamanya melekat. Hal inilah yang sering diingatkan oleh khotib nikah atau penghulu dalam nasihatnya sesuai Firman Allah:
وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًۭٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًۭا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًۭا فَخُورًا
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabīl dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,” [Q.S. An-Nisa [4]: 36]
Yang sering ditekankan dari ayat di atas adalah “berbuat baiklah kepada kedua orang tua”. Kewajiban ini tidak akan lepas dari seorang anak, bahkan ketika dirinya sudah menikah dan orang tuanya pun sudah meninggal dunia. Maka, selalu diingatkan kepada pasangan baru bahwa mereka harus berbuat baik kepada kedua orang tua, termasuk mertua mereka yang sudah dapat dianggap sebagai orang tua sendiri.
Tradisi sungkeman yang diatur oleh penata acara pernikahan hanyalah simbol. Adalah perilaku pasangan tersebut sehari-hari yang akan mencerminkan dengan nyata apakah mereka berbakti kepada orang tua.
Balasan untuk Kekompakan Suami-Istri
Jika sepasang suami-istri berhasil melewati berbagai ujian kehidupan, terlebih jika mereka terus sabar dan setia hingga ajal memisahkan, maka Allah Swt. menjanjikan balasan terbaik untuk mereka sebagaimana termaktub dalam Firman-Nya:
جَنَّـٰتُ عَدْنٍۢ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَٰجِهِمْ وَذُرِّيَّـٰتِهِمْ ۖ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍۢ ٢٣ سَلَـٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى ٱلدَّارِ ٢٤
“(13) Surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedangkan para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (14) (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” [Q.S. Ar-Ra’d [13]: 24]
Kesabaran suami-istri menjalani rumah tangga dengan baik akan membawa mereka, selain dengan pasangannya juga dengan orang tua, leluhur, dan anak-cucunya ke surga Allah Swt.