
Intisari Ceramah Pengajian Akhwat hari Jum’at tanggal 27 Juni 2025.
Pemateri: Drs. H. Umar Djani Martasuta, M.Pd.
Muharram, Bulan Haram yang Dimuliakan
Muharram adalah bulan pertama pada kalender Hijriah dan termasuk dalam salah satu dari empat bulan haram sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًۭا فِى كِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌۭ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَـٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةًۭ كَمَا يُقَـٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةًۭ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.” [Q.S. At-Taubah [9]: 36]
Bulan-bulan tersebut kemudian disebutkan secara jelas pada sebuah hadis:
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّه السَّماواتِ والأَرْضَ: السَّنةُ اثْنَا عَشَر شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُم: ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقعْدة، وَذو الْحجَّةِ، والْمُحرَّمُ، وَرجُب مُضَر الَّذِي بَيْنَ جُمادَى وَشَعْبَانَ
“Sesungguhnya zaman ini telah berjalan (berputar), sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Kemudian Rajab yang berada di antara Jumadil (Akhir) dan Syaban.” [HR Bukhari dan Muslim]
Hijrah: Semangat Perubahan dan Perbaikan Diri
Muharram mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw. dari Mekkah ke Madinah, yang menjadi tonggak awal penanggalan Islam. Meski demikian, hijrah pada dasarnya bukan hanya perpindahan fisik, tetapi simbol transformasi spiritual dan sosial.
Hijrah adalah sebuah proses untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Dengan semangat berhijrah, manusia harus mengingat kembali apa tujuan hidupnya. Allah Swt. telah Berfirman tentang tujuan-Nya menciptakan manusia dan jin:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” [Q.S. Az-Zariyat [51]: 56]
Puasa Asyura: Kesempatan Pengampunan Dosa
Kedatangan bulan Muharram menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah dengan banyaknya amalan-amalan sunah yang disertai dengan pahala yang sangat besar. Salah satu ibadah yang dapat dilakukan di bulan Muharram ini adalah puasa, terutama pada hari Asyura.
Hari Asyura (10 Muharram) adalah hari yang besar dalam sejarah Islam karena beberapa peristiwa penting terjadi tepat di hari tersebut, diantaranya:
- Diterimanya taubat Nabi Adam as.
- Berlabuhnya bahtera Nabi Nuh as.
- Selamatnya Nabi Ibrahim as. dari siksaan api Raja Namrud.
- Bebasnya Nabi Yusuf as. dari penjara.
- Keluarnya Nabi Yunus as. dari perut ikan paus.
- Sembuhnya Nabi Ayyub as. dari segala penyakitnya.
- Selamatnya Nabi Musa as. dan kaum Bani Israil dari Fir’aun.
Peristiwa paling terakhir dalam daftar, yaitu selamatnya Nabi Musa as. dan Bani Israil dari Fir’aun terutama menjadi alasan mengapa kaum Yahudi sangat mengagungkan hari Asyura ini hingga mereka berpuasa. Hal ini diketahui dari sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra.:
قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ فَرَأَى الْيَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ: “مَا هَذَا؟ “قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ نَجَى اللهُ فِيْهِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى قَالَ: “فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ” فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.
“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,
“Hari yang kalian bepuasa ini hari apa?”
Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.” Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.”
[H.R. Bukhari Muslim]
Puasa Asyura memiliki keutamaan yang luar biasa, sebagaimana dalam hadis lainnya yang diriwayatkan dari Abu Qatadah Al-Anshari:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim no. 1162]
Meneladani Kesabaran dan Keteguhan Hati Imam Husain
Hampir 50 tahun berlalu sejak wafatnya Rasulullah Saw., hari Asyura juga menjadi tanggal pecahnya Pertempuran Karbala. Pada jihad itulah, Imam Husain bin Ali, cucu Rasulullah Saw. syahid. Dibalik kisah beliau, ada nilai-nilai teladan dalam hal kesabaran dan keteguhan hatinya.
Dengan berdirinya Kekhalifahan Umayyah, Imam Husain bersabar dengan sistem pemerintahan yang seakan menekan beliau. Namun, dirinya tetap bersabar dengan syarat bahwa Bani Umayyah tidak melanggar perjanjian yang telah disepakati oleh saudaranya, Hasan bin Ali dan pemimpin pertama Umayyah, Mu’awiyah bin Abu Sufyan.
Namun, ketika sang khalifah penerus, Yazid bin Mu’awiyah melanggar perjanjian tersebut, maka Imam Husain dengan keteguhan hati dan integritasnya memutuskan untuk bertindak. Yazid menantang Imam Husain untuk berperang dan sang cucu Rasulullah tidak takut. Beliau mempertahankan keyakinannya hingga titik darah penghabisan, meskipun harus berakhir dengan penangkapan dan eksekusi dirinya oleh Bani Umayyah.
Kejadian yang masuk dalam rangkaian peristiwa Fitnah Kedua ini sangat merusak reputasi Bani Umayyah dan integritas Imam Husain bin Ali menjadi panutan bagi umat Muslim. Sudah sepatutnya kita meniru sifat beliau yang tetap sabar menerima ujian dan tidak takut mati untuk membela kebenaran.
Awal Tahun Hijriah: Momentum Refleksi
Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana bulan Muharram memberi momentum emas untuk kita melakukan refleksi diri atau muhasabah.
Maka jangan lewatkan kesempatan ini untuk menambah amal dengan melaksanakan puasa sunah Tasu’a dan Asyura serta meneladani kisah dari Imam Husain yang tetap sabar dan mempertahankan integritasnya meski banyak ancaman mengintainya.