Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 2 November 2025.

Hujan Sebagai Rahmat
Hujan sebagai rahmat dan karunia Allah akan menghidupkan bumi, menumbuhkan tanaman, dan memberi minum hewan. Firman Allah Swt.:
وَهُوَ ٱلَّذِى يُرْسِلُ ٱلرِّيَـٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَىْ رَحْمَتِهِۦ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَقَلَّتْ سَحَابًۭا ثِقَالًۭا سُقْنَـٰهُ لِبَلَدٍۢ مَّيِّتٍۢ فَأَنزَلْنَا بِهِ ٱلْمَآءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِۦ مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ ٱلْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ٥٧
“Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”
(QS. Al-A’raf [7]: 57)
Poin yang menarik dari ayat di atas adalah pada kalimat terakhir, yaitu bagaimana hujan dijadikan simbol kehidupan setelah kematian. Lebih lanjut, dalam ayat lainnya dijelaskan bagaimana manusia akan mendapat dua pilihan sesudah mati: mendapat ridho atau azab. Allah Berfirman:
ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمًۭا ۖ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۭ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ ٢٠
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering, dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”
(QS. Al-Hadid [57]: 20)
Hujan adalah bagaikan kenikmatan dunia sehingga tanaman, yang diibaratkan sebagai manusia, akan menjadi hidup. Namun, ketika waktunya tiba, maka semua itu akan mengering. Manusia akan melemah hingga kemudian hancur, sebagai simbol kematian bagi manusia. Maka pada akhirnya, pilihan manusia tersebut selama hidup yang akan menentukan apakah dirinya akan meraih ridho Allah atau justru terkena azab.
Selanjutnya, fenomena hujan serta semua manfaat yang dihasilkannya dapat menjadi pemikiran (tadabur) bagi mereka yang berakal, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ ۖ لَّكُم مِّنْهُ شَرَابٌۭ وَمِنْهُ شَجَرٌۭ فِيهِ تُسِيمُونَ ١٠ يُنۢبِتُ لَكُم بِهِ ٱلزَّرْعَ وَٱلزَّيْتُونَ وَٱلنَّخِيلَ وَٱلْأَعْنَـٰبَ وَمِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَةًۭ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ ١١
(10) “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu.” (11) “Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.”
(QS. An-Nahl [16]: 10-11)
Ayat lainnya menggabungkan berbagai penjelasan ayat di atas, dari bagaimana tanaman dapat tumbuh hingga hidupnya daerah yang tandus sebagai perumpamaan kebangkitan kelak.
وَنَزَّلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ مُّبَـٰرَكًۭا فَأَنۢبَتْنَا بِهِۦ جَنَّـٰتٍۢ وَحَبَّ ٱلْحَصِيدِ ٩ وَٱلنَّخْلَ بَاسِقَـٰتٍۢ لَّهَا طَلْعٌۭ نَّضِيدٌۭ ١٠ رِّزْقًۭا لِّلْعِبَادِ ۖ وَأَحْيَيْنَا بِهِۦ بَلْدَةًۭ مَّيْتًۭا ۚ كَذَٰلِكَ ٱلْخُرُوجُ ١١
(9) “Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen,” (10) “dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun,” (11) “(sebagai) rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).”
(QS. Qaf [50]: 9-11)
Dari seluruh ayat di atas, Ibnu Katsir menafsirkan bahwa hujan adalah rahmat yang nyata dengan turunnya hujan, tanah hidup, tumbuhan tumbuh, dan mestilah manusia bersyukur kepada Allah. Adapun tafsir dari Al-Qurthubi menyebutkan bahwa hujan yang dibawa angin merupakan pertanda cinta Allah kepada hamba-Nya. Untuk itu, manusia haruslah mengembalikan cinta tersebut kepada-Nya dengan bersyukur.
Hujan Sebagai Azab
Allah dapat menurunkan hujan sebagai azab kepada kaum-kaum yang kufur dan bermaksiat. Bahkan hujan yang turun bisa jadi bukan air, melainkan batu yang akan menyiksa para kaum terkutuk tersebut. Salah satu contoh yang Allah sebutkan adalah kaum Nuh, ‘Ad, dan Fir’aun yang dijelaskan bagaimana akhir dari kaum mereka.
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنۢبِهِۦ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًۭا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ ٱلصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ ٱلْأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَـٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ ٤٠
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Ankabut [29]: 40)
Dalam contoh lainnya, Allah menurunkan hujan batu untuk kaum Luth atau kaum Sodom yang terkenal dengan kekejiannya dalam melakukan hubungan sesama jenis.
وَلَقَدْ أَتَوْا۟ عَلَى ٱلْقَرْيَةِ ٱلَّتِىٓ أُمْطِرَتْ مَطَرَ ٱلسَّوْءِ ۚ أَفَلَمْ يَكُونُوا۟ يَرَوْنَهَا ۚ بَلْ كَانُوا۟ لَا يَرْجُونَ نُشُورًۭا ٤٠
“Dan sungguh, mereka (kaum musyrik Mekkah) telah melalui negeri (Sodom) yang (dulu) dijatuhi hujan yang buruk (hujan batu). Tidakkah mereka menyaksikannya? Bahkan mereka itu sebenarnya tidak mengharapkan hari kebangkitan.”
(QS. Al-Furqan [25]: 40)
Tafsir dari Al-Baghawi menjelaskan bahwa hujan yang turun berupa air atau batu adalah simbol dua sisi kekuasaan Allah, yaitu rahmat jika Dia menghendaki dan adzab jika Dia murka. Adapun Ibnu Katsir menjelaskan bahwa fungsi air dapat sangat berbeda, sesuai dengan keadaan hati manusia yang diberikan air hujan tersebut. Jika bersyukur maka menjadi rahmat, jika kufur maka menjadi adzab.