Intisari Kapita Selekta hari Sabtu tanggal 1 November 2025.
Penceramah: Dr. H. Bambang Budiono

Makanan, Kunci Kesehatan
Kesehatan seorang manusia sangat bergantung pada makanan dan minumannya. Untuk memperoleh manfaat maksimal, manusia haruslah mengonsumsi makanan yang sehat dan baik. Dalam redaksi Al-Qur’an, hal ini disebut dengan halalan thoyyiban, sebagaimana firman Allah:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَـٰلًۭا طَيِّبًۭا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌ ١٦٨
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”
[QS. Al-Baqarah [2]: 168]
Makna dari halal adalah tidak terlarang menurut aturan Allah. Adapun thoyyib artinya baik dan bermanfaat. Untuk itu, makanan yang halal belum tentu thoyyib, tapi secara logika makanan yang thoyyib pastilah halal.
Sebagai contoh,
Tidak Berlebih dan Tidak Kurang
Sering kita lihat dalam media sosial bahwa ahli gizi atau bahkan orang awam menyarankan diet untuk mengurangi berat badan dan menjaga kesehatan. Terkadang, metode diet yang disarankan terkesan sangat mengurangi pasokan makanan. Contoh, tidak boleh makan karbohidrat atau harus mengonsumsi jenis makanan tertentu.
Padahal Allah telah memberikan salah satu metode diet paling efektif yang bahkan juga akan diganjar pahala, yaitu puasa. Cukup menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga terbenam matahari. Banyak orang telah terbukti lebih sehat dengan rajin berpuasa dibandingkan metode diet yang terkadang justru tidak efektif.
Namun, ada fenomena berkebalikannya, yaitu makan dan minum secara berlebihan. Misalnya ketika seseorang berpuasa dan kemudian justru berbuka dengan makan banyak, maka bisa jadi puasanya menjadi sia-sia dalam perspektif kesehatan. Allah telah mengingatkan kita agar tidak berlebih-lebihan:
يَـٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍۢ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ ٣١
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan! Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
[QS. Al-A’raf [7]: 31]
Kunci Sehat Mental, Prasangka Baik
Islam tidak hanya mengatur perihal kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Dari berbagai riset yang dilakukan di dunia barat, kunci kesehatan mental adalah prasangka baik. Mereka yang selalu berpikir positif dalam hidupnya akan mendapat ketenangan mental dan juga kesehatan secara fisik.
Namun ternyata riset ini pernah dijelaskan oleh Rasulullah Saw. atas wahyu Allah lebih dari 1400 tahun yang lalu. Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).”
[HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]
Doa optimis, kerja nyata, dan prasangka baik (husnudzon) menjadi gabungan terbaik untuk hidup. Tidak boleh salah satunya ada yang tertinggal. Berdoa tapi tidak bekerja adalah mengharapkan hal yang tidak realistis. Bekerja tanpa doa juga adalah hal yang kurang berkah. Adapun tanpa husnudzon, maka kita akan menganggap kegagalan dalam usaha kita bahkan setelah doa adalah keburukan dari Allah, membuat kita menjauh dari-Nya.
Ukhuwah Memperkuat Daya Tahan
Riset lain dari dunia barat juga menyatakan bahwa relasi persahabatan yang saling mendukung akan berpengaruh baik pada kesehatan fisik maupun mental. Umumnya, persahabatan seperti ini akan memiliki prinsip “berat sama dipikul, ringan sama dijunjung.” Jika ada yang kesulitan, semua saling membantu. Dan jika semua merasa berkecukupan, maka mereka berbagi kebahagiannya.
Kembali, riset ini sudah dijelaskan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadis:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.”
[HR. Muslim]
Bersyukur Meskipun Kecil
Penting bagi manusia untuk selalu bersyukur, meskipun dengan hal-hal yang terkecil. Karena terkadang kita baru sadar untuk mensyukuri suatu hal ketika kita sudah tidak bisa merasakannya lagi. Ketika sehat, haruslah bersyukur karena kita tidak tahu apakah besok kita masih diberikan kesehatan itu.
Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ ٧
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
[QS. Ibrahim [14]: 7]