Intisari Kajian Tafsir Al-Qur’an dan Fiqih Ibadah bersama Dr. H. Mad Ali, MA. hari Rabu tanggal 29 Oktober 2025.

Dahsyatnya Hari Pembalasan
أَلَا يَظُنُّ أُو۟لَـٰٓئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ ٤ لِيَوْمٍ عَظِيمٍۢ ٥ يَوْمَ يَقُومُ ٱلنَّاسُ لِرَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ ٦
(4) Tidakkah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, (5) pada suatu hari yang besar, (6) (yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam.
Surat Al-Muthaffifin ini masuk ke dalam kelompok Makkiyah, yaitu ayat-ayat yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Saw. sebelum beliau berhijrah ke Madinah. Karakteristik dari kebanyakan ayat Makkiyah adalah berdasar pada keimanan, karena hal ini yang perlu dikukuhkan sebelum turun ayat-ayat tentang fiqih sebagaimana terdapat dalam mayoritas ayat Madaniyyah.
Untuk itu, tiga ayat ini menjadi pembuka dalam penjelasan tentang dahsyatnya hari pembalasan dengan tujuan untuk menguji keimanan mereka yang mendengar dan membacanya. Allah menegaskan bahwa sesungguhnya akan ada hari kebangkitan yang besar. Pada hari itu, seluruh manusia dari awal penciptaan dunia di masa Nabi Adam as. hingga hari kiamat akan dikumpulkan untuk menghadap Allah.
Orang-orang yang mempercayai hari pembalasan adalah mereka yang memiliki keimanan. Mereka yakin bahwa semua amalnya akan dipertanggungjawabkan, dihitung dan ditimbang, sehingga mereka akan mendapat balasannya. Hal inilah yang tidak akan dimiliki oleh mereka yang curang. Kunci dalam aspek ini adalah bahwa akhlak yang baik berdasar pada keimanan yang teguh.
Adapun orang-orang yang curang tidak akan mempercayainya. Menurut mereka, adanya hari pembalasan hanyalah ancaman yang kosong dan lemah seakan-akan bahwa Allah hanya mengatur-atur mereka yang merasa hebat dan berkuasa. Inilah yang sudah Allah peringatkan dalam ayat lainnya:
كَلَّآ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَيَطْغَىٰٓ ٦ أَن رَّءَاهُ ٱسْتَغْنَىٰٓ ٧
(6) Sekali-sekali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, (7) apabila melihat dirinya serba cukup/mampu.
[QS. Al-‘Alaq [96]: 6-7]
Sijjin, Catatan Amal Buruk
كَلَّآ إِنَّ كِتَـٰبَ ٱلْفُجَّارِ لَفِى سِجِّينٍۢ ٧ وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا سِجِّينٌۭ ٨ كِتَـٰبٌۭ مَّرْقُومٌۭ ٩
(7) Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka/melakukan kejahatan benar-benar tersimpan dalam Sijjin. (8) Dan tahukah engkau apakah Sijjin itu? (9) (Yaitu) Kitab yang berisi catatan (amal).
Ayat ketujuh berisi penjelasan bahwa catatan untuk orang-orang yang melakukan kejahatan akan disimpan dalam Sijjin. Ketika ayat ini turun, bahkan Rasulullah sendiri belum mengetahui apa itu Sijjin. Maka, Allah kembalikan pertanyaan mereka pada ayat kedelapan dan kemudian dijawab pada ayat kesembilan. Sijjin adalah kitab yang berisi catatan amal.
Dalam penafsiran beberapa mufasir, Sijjin memiliki makna “sangat rendah.” Dalam konteks ini, Sijjin adalah kitab yang berisi amal buruk seluruhnya. Tidak ada sama sekali amal baik yang tertulis di dalamnya. Hal ini dikarenakan mereka adalah orang-orang yang tidak beriman, sehingga semua amal baiknya menjadi sia-sia.
Pada beberapa ayat berikutnya akan dijelaskan kebalikan dari kitab Sijjin, yaitu Iliyiin.