Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 26 Oktober 2025.

Do’a Rasulullah Untuk Melawan Malas
Rasulullah Saw. adalah pribadi yang sempurna akhlaknya. Beliau telah terhindar dari segala sifat buruk yang manusia umumnya miliki. Meski demikian, beliau tetap berdo’a agar selalu terhindar dari sifat-sifat buruk tersebut. Salah satu di antaranya adalah do’a beliau untuk melawan rasa malas:
اللَّـــهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْحَـمِّ وَالْحَزَنِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْـِز وَاْلكَسَلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُـبْنِ وَالْبُخْـلِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَـهْرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari rasa susah dan duka, dan aku berlindung kepada Mu dari sifat lemah dan malas, dan aku berlindung kepada Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada Mu dari lilitan hutang dan musuh yang sewenang-wenang.”
(HR. Al-Bukhari no. 6369, Abu Dawud 1555, An-Nasa’i 5467, dan Ibnu Majah 3823)
Do’a ini selalu beliau baca setiap hari pada pagi dan petang. Jika seandainya Rasulullah Saw. saja berdo’a untuk terhindar dari rasa malas, lalu bagaimana dengan kita?
Peringatan Allah Terhadap Kemalasan
Allah telah memberi peringatan keras kepada manusia yang menjalankan shalat dengan rasa malas. Allah Berfirman:
إِنَّ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَـٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًۭا
“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allahlah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya` (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”
[QS. An-Nisa [4]: 142]
Perhatikan bahwa dalam ayat ini, Allah mengkhususkan pada mereka yang melaksanakan shalat dengan malas, yaitu yang melakukannya di rumah ataupun di masjid dengan rasa terpaksa dan sekadar menggugurkan kewajiban. Allah bahkan memberikan peringatan yang sama di ayat lainnya:
وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَـٰتُهُمْ إِلَّآ أَنَّهُمْ كَفَرُوا۟ بِٱللَّهِ وَبِرَسُولِهِۦ وَلَا يَأْتُونَ ٱلصَّلَوٰةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَـٰرِهُونَ
“Dan yang menghalang-halangi infak mereka untuk diterima adalah karena mereka kafir (ingkar) kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak melaksanakan salat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menginfakkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan (terpaksa).”
[QS. At-Taubah [9]: 54]
Teladan Sahabat Abdullah bin Mas’ud
Dalam sebuah riwayat, dijelaskan bahwa sahabat Abdullah bin Mas’ud pernah berkata:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak mencintai kehidupan dunia ini karena ingin melihat aliran sungai atau menanam pepohonan, tetapi karena aku ingin merasakan dahaga di siang hari (ketika berpuasa), bergadang di waktu malam (untuk shalat dan ibadah), dan berdesakan dengan para ulama di majelis ilmu.”
Perkataan di atas menunjukkan bahwa Abdullah bin Mas’ud ingin mendedikasikan dirinya untuk urusan akhirat dengan beribadah dan sebisa mungkin tidak terpancing oleh urusan dunia dan hawa nafsu.
Beliau ingin menghabiskan hidupnya untuk berpuasa, menikmati rasa lapar dan haus dengan tetap berusaha; untuk bangun di malam hari, menghabiskan waktu untuk bertahajud; dan untuk hadir di majelis ilmu, mendengarkan ilmu dari para guru dan bergabung dengan banyak murid lainnya.
Teladan Para Ulama
Disebutkan dalam Siyar A’lam an-Nubala karya Adz-Dzahabi, seorang ulama Islam, Imam Sufyan Ats-Tsauri belajar dari total 600 guru dari berbagai bidang fokus agama. Adapun ulama lainnya, Imam Abdullah bin Al-Mubarak menuntut ilmu dari 4000 guru yang tersebar di berbagai daerah seperti Syam, Hijaz, Yaman, dan Mesir. Kedua ulama ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu tidak terbatas oleh banyaknya guru dan tempat majelisnya.
Ulama lainnya, Imam Ali bin Asim al-Wasiti al-Iraqi, pernah diberikan uang 100.000 dirham oleh ayahnya ketika beliau beranjak remaja. Setelah itu, ayahnya berkata, “Wahai anakku, ambillah uang ini, dan aku tidak ingin melihat wajahmu lagi sampai engkau datang kepadaku dengan membawa hafalan seratus ribu hadis.” Maka, mengembaralah Imam Ali, masih dalam usia remaja, dari satu negeri ke negeri lain, belajar dari satu ulama ke ulama lainnya, hingga beliau mencapai target ayahnya dan kembali. Riwayat ini memberi pesan bahwa kesuksesan anak untuk melawan rasa malas juga dipengaruhi oleh tekad orang tua. Jika anak dibiarkan bermalas-malasan oleh orang tuanya yang ternyata juga malas, maka jangan berharap akan ada perubahan.
Bergegaslah untuk Akhirat, Berjalanlah untuk Dunia
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an, Allah selalu menggunakan kata وَسَارِعُوٓ (Dan bersegeralah) ketika menjelaskan tentang urusan-urusan akhirat, salah satunya:
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,”
[QS. Ali-Imran [3]: 133]
Adapun untuk urusan dunia, Allah menggunakan berbagai redaksi kata dengan makna “berjalan” atau yang sejenisnya.
فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
[QS. Al-Jumu’ah [62]: 10]
Makna dari hal ini adalah bahwa Allah mengingatkan kepada manusia bahwa urusan akhirat harus diutamakan dan disegerakan. Namun, urusan dunia tetap tidak boleh diabaikan dan harus dicari, meski harus dipastikan bahwa hal tersebut tidak melampaui urusan-urusan akhirat.