Intisari Kajian Tafsir Al-Qur’an dan Fiqih Ibadah bersama Dr. H. Mad Ali, MA. hari Rabu tanggal 15 April 2026.

Sakaratul Maut, Awal dari Akhirat
فَلَوْلَآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلْحُلْقُومَ ٨٣ وَأَنتُمْ حِينَئِذٍۢ تَنظُرُونَ ٨٤ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَـٰكِن لَّا تُبْصِرُونَ ٨٥ فَلَوْلَآ إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ ٨٦ تَرْجِعُونَهَآ إِن كُنتُمْ صَـٰدِقِينَ ٨٧
(83) Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai di kerongkongan, (84) dan kamu ketika itu melihat, (85) dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat, (86) maka mengapa jika kamu memang tidak dikuasai (oleh Allah), (87) kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu) jika kamu orang yang benar?
[QS. Al-Waqi’ah [56]: 83-87]
Perjalanan ruh di dunia akan berakhir dengan proses sakaratul maut. Inilah pintu kematian yang akan membawa ruh ke akhirat.
Ketika ajal seseorang telah tiba, maka hal itu tidak bisa ditunda atau dihentikan. Orang-orang yang menyaksikan sakaratul maut hanya bisa menuntun dengan dzikir. Tidak akan ada yang bisa mengembalikan lagi ruh yang sudah akan tercabut itu kembali ke tempatnya. Satu-satunya jalan adalah ruh tersebut harus keluar, menandai kematian dari manusia tersebut.
Ayat di atas juga menjelaskan bahwa orang yang mengalami sakaratul maut akan melihat sesuatu dari sisi Allah. Apa yang dilihat serta bagaimana rasa sakaratul maut itu tergantung pada amal perbuatannya selama hidup.
فَأَمَّآ إِن كَانَ مِنَ ٱلْمُقَرَّبِينَ ٨٨ فَرَوْحٌۭ وَرَيْحَانٌۭ وَجَنَّتُ نَعِيمٍۢ ٨٩ وَأَمَّآ إِن كَانَ مِنْ أَصْحَـٰبِ ٱلْيَمِينِ ٩٠ فَسَلَـٰمٌۭ لَّكَ مِنْ أَصْحَـٰبِ ٱلْيَمِينِ ٩١
(88) Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah), (89) maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga (yang penuh) kenikmatan. (90) Dan jika dia termasuk golongan kanan, (91) maka, “Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!” (sambut malaikat).
[QS. Al-Waqi’ah [56]: 88-91]
Mereka yang senantiasa beramal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah maka mereka akan didatangi malaikat berkah menjelang sakaratul maut dengan membawa kain kafan yang sangat harum dari wewangian surga. Ditunjukkan ke pandangan orang tersebut surga yang menantinya setelah kematian. Dan ketika Malaikat Izrail datang untuk mencabut ruhnya, maka proses itu terasa sangat mudah. Ruh dicabut secara lembut dan perlahan.
Namun, hal sebaliknya akan terjadi pada mereka yang mendustakan Allah.
وَأَمَّآ إِن كَانَ مِنَ ٱلْمُكَذِّبِينَ ٱلضَّآلِّينَ ٩٢ فَنُزُلٌۭ مِّنْ حَمِيمٍۢ ٩٣ وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ ٩٤
(92) Namun jika dia termasuk golongan yang mendustakan dan sesat, (93) maka dia disambut siraman air yang mendidih, (94) dan dibakar di dalam neraka.
[QS. Al-Waqi’ah [56]: 92-94]
Mereka ini akan didatangi oleh malaikat azab dengan wajah yang seram dan penuh amarah. Karung yang sangat kasar dan berbau busuk disiapkan untuk ruh yang akan dicabut. Pandangannya akan melihat air mendidih dan api bergolak dalam neraka. Malaikat Izrail hanya akan menambah penderitaannya dengan mencabut ruh secara kasar dan menyakitkan hingga ruh itu menjerit, namun tidak dapat terdengar oleh orang-orang yang mendampinginya.
Alam Barzah, Pertemuan Para Ruh
Setelah kematian dan jasad dikuburkan, maka ruh seseorang akan menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, di antaranya adalah “Siapa Tuhanmu?”, “Siapa nabimu?”, “Siapa pemimpinmu?”, “Apa kiblatmu?”, hingga “Siapa saudaramu?” Pada posisi ini, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi.
Jika yang ditanya adalah ruh orang mukmin, maka dia akan bisa menjawab semua pertanyaan dengan mudah. “Allah adalah Tuhanku, Muhammad adalah nabiku, Al-Qur’an adalah pemimpinku, Ka’bah adalah kiblatku, dan semua muslim dan muslimat adalah saudaraku.”
Mereka inilah yang akan diberikan nikmat. Kuburnya akan dilapangkan dan ruh mereka akan bebas untuk bertemu kembali dengan ruh para penerima nikmat kubur lainnya. Inilah momen pertemuan ruh seseorang dengan ruh saudaranya yang sudah wafat sebelumnya. Mereka akan berbahagia dengan pertemuan tersebut.
Di sisi lain, ruh orang yang ingkar tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu sama sekali. Maka mereka akan terkena siksa di dalam kubur. Tanah menghimpit mereka sehingga kubur menjadi sangat sempit.
Inilah nasib dari ruh dengan dua sisi yang berbeda. Mereka akan terus menikmati atau tersiksa di alam barzah hingga kiamat tiba di mana perjalanan ruh akan berlanjut ke tahap berikutnya.