Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 20 Juli 2025.

Penyakit Hati yang Sering Diabaikan
Manusia seringkali menyikapi penyakit hati dengan sangat berbeda dibandingkan penyakit fisik. Ketika seseorang merasa terkena penyakit fisik, maka mereka biasanya akan segera berkonsultasi kepada dokter. Kemudian, ketika telah terdiagnosa penyakitnya, maka manusia akan berusaha untuk menyembuhkannya dengan berbagai cara.
Adapun ketika terkait dengan penyakit hati, manusia sering tidak menerimanya. Ketika ada seseorang yang mengingatkan, baik itu dari psikolog ataupun dari ulama, maka manusia umumnya marah. Hal tersebut hanya akan semakin buruk dengan tidak ditanganinya penyakit hati tersebut.
Jenis-Jenis Penyakit Hati
Banyak jenis penyakit hati yang disebutkan dalam berbagai dalil Al-Qur’an dan Hadis.
Beberapa diantara contohnya meliputi: musyrik (syirik), munafik (nifak), kufur, ujub (riya), ghibah (gosip), su’uzan (prasangka buruk), ghadab (pemarah), takabur (sombong), mubazir (menyia-nyiakan), ‘ain, dan itu barulah sebagian dari sekian banyak jenis penyakit hati.
Setiap penyakit hati memiliki ciri-cirinya tersendiri. Misal, dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. bersabda:
آيَة الْمُنَافِق ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اُؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu (1) ketika berbicara ia dusta, (2) ketika berjanji ia mengingkari, dan (3) ketika ia diberi amanat ia berkhianat.” [HR. Bukhari]
Adapun salah satu contoh penyakit hati yang disebutkan dalam Al-Qur’an berada dalam Surat Al-Ma’un yang dimulai dengan ayat:
أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?” [QS. Al-Ma’un [107]: 1]
Dan dari banyak contoh orang-orang pendusta agama yang disebutkan dalam surat ini, salah satunya:
ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ
“Yaitu orang-orang yang berbuat riya,” [QS. Al-Ma’un [107]: 6]
Contoh lain penyakit hati dalam Al-Qur’an adalah berprasangka sebagaimana firman-Nya:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang,” [QS. Al-Hujurat [49]: 12]
Bayangkan bahwa prasangka buruk disamakan dengan memakan mayat manusia. Ini benar-benar menunjukkan bahayanya penyakit hati. Hal ini dikarenakan setiap penyakit hati pada dasarnya dapat merugikan baik untuk diri sendiri maupun dalam hubungan kita dengan Allah ataupun dengan manusia.
Obat Penyakit Hati
Lantas, bagaimana obat dari penyakit hati ini? Tentu obatnya bukanlah obat fisik yang diminum ataupun disuntik. Penyakit hati hanya bisa disembuhkan dengan obat hati.
Misal, untuk ghadab lebih baik diobati dengan istighfar, berwudhu, dan duduk dengan tenang. Pasalnya, jika ghadab ini justru dilampiaskan kepada orang lain, maka justru mungkin penyakit ghadab ini malah “menular” kepada orang lain. Sering kita lihat bagaimana dua pihak yang tidak hentinya saling memarahi penuh emosi karena tidak ada yang mau mengalah dan menenangkan diri.
Namun yang jelas, semua penyakit ada obatnya sebagaimana diceritakan dalam kisah Nabi Ayyub as. dalam Al-Qur’an:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”” [QS. Al-Anbiya [21]: 83]
Lantas bagaimana dengan penyakit hati? Semua ada obatnya masing-masing, namun semua berpusat pada sebuah obat umum yaitu mengaji. Pada dasarnya, semua penyakit hati dan obatnya dijelaskan dalam Al-Qur’an. Hal inilah yang disebut dalam ayat-Nya:
هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّـۧنَ رَسُولًۭا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِينٍۢ
“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [QS. Al-Jumu’ah [62]: 2]
Dalam kaidah kebahasaan Arab, lafadz ayat di atas menunjukkan sifat yang kontinu. Ini berarti bahwa penyakit hati hanya bisa disembuhkan bukan hanya dengan satu atau dua kali mengaji, melainkan dengan konsisten mengaji secara rutin.
Sebuah obat lain untuk penyakit hati adalah dengan silaturahmi. Ini adalah obat yang paling tepat untuk penyakit hati yang terkait dengan orang lain seperti su’uzon dan ghibah.
Beberapa obat untuk penyakit hati yang spesifik misalnya untuk ujub (riya), obat yang sesuai adalah ikhlas, baik itu pada tingkatan yang tertinggi dengan hanya mengharapkan ridho Allah, atau pada tingkatan mengharapkan pahala, ataupun pada tingkat terendah yang hanya untuk mengejar kebahagiaan dunia.
Pada akhirnya, tugas manusia kepada sesama hanyalah mengingatkan bagi yang terkena penyakit hati. Adapun apakah yang bersangkutan akan berusaha menyembuhkannya kembali kepada hidayah Allah Swt. Untuk itu, kita bisa juga membantunya dengan do’a agar segera disembuhkan penyakit hatinya.