Intisari Kapita Selekta hari Sabtu tanggal 19 Juli 2025
Pemateri: H. Ondo Saleh, S.Sos.

Manusia, Makhluk yang Dimuliakan Allah
Manusia adalah makhluk Allah Swt. yang mulia dan spesial karena dilengkapi dengan akal, sebagaimana firman Allah:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَـٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلْنَـٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًۭا
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” [QS. Al-Isra’ [17]: 70]
Menurut tafsir dari Qadhi Baidhawi, kalimat “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam” merujuk pada manusia yang diberikan penampilan yang indah secara fisik dan akal sehat secara mental yang memungkinkan manusia untuk memiliki tabiat yang seimbang dengan hawa nafsunya.
Contoh kemampuan manusia yang berakal sehat dapat dikutip dari kalima berikutnya. “Kami angkut mereka di darat dan di laut” menunjukkan kemampuan manusia menciptakan kendaraan baik dari yang sudah ada (hewan) maupun pada perkembangan teknologi terkini, dengan manufaktur kendaraan seperti motor dan mobil di darat, kapal di laut, hingga bahkan membuat pesawat terbang di udara.
Kunci Keutamaan Manusia: Akal
Manusia yang berakal maka akan terbawa kebaikannya ke dalam ilmu dan ibadahnya. Akal dapat menjadi senjata, pemimpin, serta cita-cita bagi orang-orang yang mukmin.
Dalam sebuah riwayat dari Amr bin Ka’ab dan Abu Hurairah ra., mereka pernah datang menemui Rasulullah Saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berilmu?”
Rasulullah menjawab, “Orang yang berakal.”
Mereka kembali bertanya, “Lantas siapakah orang yang paling tekun dalam beribadah?”
Rasulullah menjawab, “Orang yang berakal.”
Mereka bertanya sekali lagi, “Lantas siapakah orang yang paling utama?”
Rasulullah kemudian bersabda, “Orang yang berakal. Segala sesuatu memiliki senjata, dan senjata orang mukmin adalah akal. Setiap bangsa mempunyai pemimpin, dan pemimpin orang mukmin adalah akal. Dan setiap bangsa memiliki cita-cita, dan cita-cita seorang mukmin adalah akal.” (Hayatul Qulub)
Maksud dari riwayat hadis di atas adalah bahwa seorang mukmin dapat menggunakan akalnya sebagai senjata, pemimpin, dan cita-cita. Orang yang mukmin akan mencoba mengatasi lawannya dengan akal dibandingkan dengan fisik. Orang mukmin terpimpin oleh akalnya sehingga seluruh perilakunya terjaga. Dan orang mukmin akan bercita-cita dengan akalnya, sehingga tujuan hidupnya akan selalu mengarah ke hal yang benar.
Bagian-Bagian Akal
Dalam riwayat lain dari Aisyah ra., terdapat sepuluh bagian akal sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Saw. Lima bagian tersebut tampak, dan lima lainnya tidak tampak.
Lima bagian akal yang tampak meliputi:
1. Diam
Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” [HR. Bukhari]
Dalam riwayat lainnya Rasulullah Saw. juga bersabda yang artinya: “Barangsiapa diam, maka ia selamat. Dan barangsiapa banyak bicaranya, maka sering pula ia terjatuh.”
2. Santun
3. Rendah hati
Rasulullah Saw. bersabda:
مَنْ تَوَاضَعَ لِلهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَّبَرَ وَضَعَهُ اللهُ
“Barangsiapa bersikap rendah hati, maka Allah akan meninggikan derajatnya. Dan barangsiapa yang bersikap sombong, maka Allah akan menghinakannya.” [HR. Imam Ibnu Mandah dan Imam Abu Nu’aim]
4. Menyuruh Kepada Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran
5. Beramal Saleh
Adapun lima bagian akal yang tidak tampak adalah:
1. Tafakkur (Berpikir)
Sebagaimana firman Allah tentang tafakkur orang-orang yang berakal:
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًۭا سُبْحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١
(190) “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,” (191) “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka bertafakkur (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” [QS. Ali Imran [3]: 190-191]
2. Ibrah (Mengambil Pelajaran)
3. Merasa Berat dengan Dosa-Dosa
4. Merasa Takut kepada Allah Swt.
5. Merasa Dirinya Hina Dina
Referensi
Al Allamah Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaikh Al-Khaubawi. Kitab Durratun Nasihin. Diterjemahkan oleh Idrus H. Alkaf – Bab 33. Penjelasan tentang Keutamaan Manusia