Intisari Ceramah Jum’at Ashar tanggal 18 Juli 2025.
Pemateri: Dr. H. Khaerudin Kurniawan, M.Pd.

Kematian Adalah Kepastian
Dalam Al-Qur’an disebutkan dalam beberapa ayat bahwa “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” Contoh pertama terdapat pada Surat Al-Ankabut:
كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” [QS. Al-Ankabut [29]: 57]
Beberapa kitab tafsir diantaranya Tafsir Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir An-Nafahat Al-Makkiyah, dan Tafsir Al-Wajiz bersepakat bahwa makna dari ayat di atas adalah bahwa setiap makhluk hidup akan mengalami kematian.
Maka setelah kematian itu semua makhluk hidup akan kembali kepada Allah Yang Maha Menciptakan. Untuk manusia, setelah pengembalian itu maka akan dimintakan pertanggungjawaban atas segala hal yang telah dilakukan selama hidup untuk kemudian ditentukan balasannya, dalam hal ini antara surga atau neraka.
Balasan surga dan neraka inilah yang disebutkan langsung dalam ayat lainnya yang juga mengandung kalimat yang sama tentang kematian, yaitu pada Surat Ali-Imran:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” [QS. Ali-Imran [3]: 185]
Amalan yang Tidak Terputus oleh Kematian
Selama hidup, manusia dapat melakukan berbagai amal. Namun, ketika kematian maka semua kesempatan untuk beramal itu akan putus. Meski demikian, terdapat 3 (tiga) amalan yang tetap tidak akan terputus pahalanya bahkan setelah seorang manusia mati sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: ((إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ))؛ رواه مسلم
“Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak saleh yang selalu mendo’akan orang tuanya.” [HR Muslim]
Kisah Teladan
Pada bagian sebelumnya dijelaskan bahwa salah satu amalan yang tidak terputus setelah kematian adalah anak yang saleh. Lantas bagaimana untuk kasus sebaliknya, yaitu ketika seorang anak justru dapat terbantu karena orang tuanya yang saleh? Hal ini terjadi pada salah satu sahabat Rasulullah Saw. bernama ‘Alqamah.
Rincian kisah ‘Alqamah ini diambil dari Kitab al-Kabair karya Syamsuddin Abu ‘Abdillah Adz-Dzahabi (Beirut: Darun Nadwah, hal. 46).
Sahabat ‘Alqamah sangat rajin dalam beribadah, baik yang wajib maupun yang sunah. Shalat, zakat, dan puasa tidak pernah terlewat. Namun, alangkah terkejutnya Rasulullah Saw. ketika sahabat ini sedang mengalami sakaratul maut dan akan ditalqin oleh beliau, ‘Alqamah tidak bisa mengucap kalimat tahlil “Laa ilaaha illallah.”
Rasulullah Saw. kemudian menanyakan tentang keberadaan orang tua ‘Alqamah. Ternyata sang ibu masih hidup, meskipun sudah tua renta. Ketika Rasulullah menemui ibu ‘Alqamah yang didatangkan kepadanya, maka ibu tersebut mengakui bahwa ‘Alqamah memang adalah seorang anak yang taat beribadah, namun selalu lebih mementingkan istrinya dibandingkan dirinya sebagai sang ibu.
Merasa kesal dengan ‘Alqamah, Rasulullah Saw. hendak menyiapkan kayu bakar untuk membakarnya karena jika ‘Alqamah tidak memperoleh ridho dari sang ibu, meskipun dengan amalan shalat, puasa, dan zakatnya yang banyak, maka Ia akan jauh lebih celaka di akhirat dibandingkan ketika dia dibakar di dunia. Barulah pada posisi ini, sang ibu meridhoi ‘Alqamah.
Setelah ridho sang ibu diperoleh, ‘Alqamah akhirnya mampu mengucapkan kalimat tahlil dan meninggal dunia tak lama kemudian.
Sebagai pelajaran, setelah pemakaman ‘Alqamah, Rasulullah Saw. bersabda:
“Wahai kaum Muhajirin dan Anshar, siapa saja yang mementingkan istrinya daripada ibunya, maka laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia adalah untuknya. Allah tidak akan menerima kebaikan dan keadilannya kecuali ia bertobat kepada Allah, memperbaiki sikapnya kepada ibu, dan berusaha mengejar ridanya. Sesungguhnya rida Allah berada pada rida ibu. Murka Allah juga berada pada murka ibu.”