Intisari Kajian Tafsir Al-Qur’an dan Fiqih Ibadah bersama Dr. H. Mad Ali, MA. hari Rabu tanggal 16 Juli 2025.

Apa Itu Do’a Qunut?
Kata qunut berasal dari kata qanitin yang artinya ketaatan. Maka, dapat diartikan bahwa qunut adalah do’a yang dibacakan untuk memperkuat ketaatan kita kepada Allah Swt.
Do’a qunut umumnya dibaca pada rakaat kedua shalat Shubuh antara i’tidal dan sujud pertama. Bacaan do’a qunut secara lengkap dengan artinya adalah sebagai berikut.
اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ
فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan. Dan berilah ‘afiat kepada kami sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan ‘afiat. Dan tolonglah kami sebagaimana orang yang telah Engkau tolong. Dan berilah keberkahan kepada kami pada apa-apa yang telah Engkau karuniakan. Dan selamatkan kami dari keburukan yang telah Engkau putuskan.
Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan yang terkena hukum. Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau. Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan. Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau.
(Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera untuk junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.”
Selanjutnya, jika makna do’a qunut ini dibahas dengan lebih dalam, maka dapat diperoleh beberapa poin do’a yang penting untuk digaris bawahi sebagai berikut.
Hidayah
اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ
“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan.”
Petunjuk dari Allah adalah apa yang sering kita sebut sebagai hidayah. Allah Swt. adalah pemberi hidayah yang mutlak. Jika manusia tidak diberi hidayah dari-Nya, maka dia tidak akan mendapat petunjuk apapun. Di sisi lain, ada manusia yang mendapat ciri-ciri hidayah yang Allah tunjukkan melalui pancaindera dan akal pikirannya. Namun, jika manusia tersebut tidak mampu menerimanya, maka tetaplah dia tersesat.
Maka, kalimat ini merupakan do’a agar kita selalu diberikan hidayah oleh Allah Swt. dan kita mampu menerimanya, layaknya para umat-umat terdahulu yang selalu taat beribadah kepada-Nya.
‘Afiat
وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ
“Dan berikanlah ‘afiat kepada kami sebagaimana mereka yang telah Engkau beri ‘afiat.”
Banyak versi terjemahan spesifik dari kalimat kedua ini. Ada yang mengartikan kata ‘afiat sebagai kesehatan dan pengampunan. Salah satu terjemahan lain untuk kata ‘afiat ini adalah kenikmatan.
Kita sering mendengar kata ‘afiat menempel dengan kata sehat, yaitu sehat wal ‘afiat. Pada dasarnya, ‘afiat adalah kenikmatan yang lebih dari sekadar sehat. Termasuk di dalamnya ketenteraman, keselamatan, keteguhan iman, kekhusyuan, dan banyak nikmat lainnya dari Allah yang tentunya tidak akan mampu kita sebutkan seluruhnya.
Pertolongan
وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ
“Dan tolonglah kami sebagaimana mereka yang telah Engkau tolong.”
Kalimat ketiga ini berhubungan dengan kalimat pertama. Allah Swt. akan menolong hamba-Nya dengan menunjukkan kepada mereka jalan yang benar, jalan yang lurus. Sebagaimana kita biasanya berdo’a dalam setiap shalat:
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧
(6) Tunjukilah kami jalan yang lurus, (7) (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [QS. Al-Fatihah [1]: 6-7]
Sehingga secara lengkap, kita memohon bahwa setelah hidayah diberikan oleh Allah, kita juga dituntun dan ditolong untuk mengikuti dan terus berada di jalan yang lurus.
Keberkahan
وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ
“Dan berilah keberkahan kepada kami pada apa-apa yang telah Engkau karuniakan.”
Suatu hal yang berkah sifatnya ziyadatul khair, yaitu selalu bertambah-tambah kebaikannya. Terkadang, nikmat yang Allah berikan kepada kita tidak selalu berkah.
Sebagai contoh, ada suami-istri yang selalu akur ketika mereka hidup cukup. Gaji tidak besar dan berlebih, tapi minimal cukup untuk hidup mereka sehari-hari. Hingga ketika suatu saat sang suami mendapat kenaikan gaji, maka berubahlah gaya hidup mereka. Masing-masing memiliki nafsu sendiri untuk membeli ini dan membeli itu, hingga akhirnya keduanya malah bercerai. Inilah contoh dari nikmat uang yang tidak berkah.
Boleh kita meminta kenikmatan kepada Allah, namun jauh lebih baik jika kita meminta keberkahan. Karena tidak ada gunanya kenikmatan jika tidak berkah. Adapun sesuatu yang berkah akan terasa baik sehingga akan menimbulkan kenikmatan kemudian.
Karena hal inilah sering kita temui berbagai ucapan dengan do’a keberkahan di dalamnya, mulai dari salam:
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu.”
Bahkan ada harapan untuk keberkahan dalam do’a sebelum makan:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang telah Kau karuniakan untuk kami dan lindungilah kami dari siksa neraka.”
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya mendapatkan keberkahan dalam hidup.
Selamat dari Keburukan
وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ
“Dan selamatkan kami dari keburukan yang telah Engkau putuskan.“
Dalam takdir dan keputusan Allah Swt., terkadang ada hal yang baik dan hal yang buruk. Tentu manusia mudah menerima takdir yang baik. Namun, ketika menghadapi takdir yang buruk, seringkali ada yang hilang arah hingga kufur nikmat. Do’a ini berisi harapan agar kita tetap ridho meskipun ada takdir buruk yang Allah putuskan kepada kita.
Semua garis takdir kita sebenarnya sudah ada di Lauh Mahfuzh. Kita hanya berbuat sesuai tuntunan Allah. Adapun hasilnya harus kembali kita serahkan kepada-Nya. Ada beberapa hal yang Allah buka kepada kita, namun sebagian lain dirahasiakan karena jika dibuka akan menyebabkan hidup kita menjadi penuh kekhawatiran.
Meski demikian, Allah juga menetapkan beberapa takdir yang bisa kita usahakan untuk diubah dengan cara didekati atau dihindari. Sebagai contoh, bagaimana Khalifah Umar bin Khattab ra. ketika memimpin sebuah pasukan perang akan melewati desa yang terkena wabah. Salah seorang sahabat berkata bahwa mereka harus tetap mengikuti rencana awal melewati desa tersebut. Perihal mereka akan terserang wabah itu, maka menurutnya itu sudah merupakan takdir Allah.
Namun, begitu Khalifah Umar mengetahui ada jalan alternatif menuju tujuan mereka yang bebas wabah, maka beliau memerintahkan pasukannya untuk menghindari desa tersebut dengan mengambil jalur baru tersebut. Ketika sahabat sebelumnya bertanya tentang mengapa Umar memilih untuk menghindari takdir Allah, maka beliau berkata, “Sesungguhnya kita sedang berusaha mengubah takdir buruk kita menjadi takdir yang baik.”
Berikutnya: Sifat-Sifat Allah
Beberapa kalimat berikutnya pada do’a qunut berisi sifat-sifat Allah yang dapat dihubungkan dengan lima poin do’a yang telah dijelaskan di atas. Insya Allah, materi tersebut akan dibahas pada kesempatan berikutnya.