Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 27 Juli 2025.

“Sudahkah aku bersyukur kepada Allah hari ini?”
Itulah pertanyaan yang harus kita tanyakan pada setiap hari ini. Perlu diingat bahwa nikmat tidak hanya hal-hal yang bersifat besar, namun juga dalam hal yang kita sering anggap kecil.
Bayangkan jika Allah tidak memberikan kita kesehatan hari ini, kemampuan untuk berjalan menuju masjid dan beribadah. Kita biasanya baru menyadari nikmat sehat ketika kita sudah sakit.
Kadang, kita juga tidak mensyukuri nikmat karena melihat sesuatu yang kita rasa lebih baik. Misal, saat kita punya mobil keluarga, kita malah iri dengan seseorang yang memiliki mobil mewah. Akibatnya, kita lebih sering mengeluh karena merasa nasib kita tidak sebaik orang lain.
Maka, perlulah kita mengingat firman Allah Swt.:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”” [QS. Ibrahim [14]: 7]
Belajar dari Mentalitas Gaza
Saat ini, saudara-saudara kita di Gaza sedang berada dalam kesulitan akibat serangan dari zionis Israel. Beberapa dari mereka terdampak hingga tidak bisa makan berhari-hari dan tubuhnya penuh dengan luka.
Meski demikian, ketika seorang koresponden bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka rasakan saat itu, jawabannya sungguh menyentuh hati. “Kami bersyukur kepada Allah karena kami masih bisa hidup, menggerakkan mulut kami untuk berdzikir kepada-Nya,” ucap salah satu dari mereka.
Disinilah muncul pertanyaan. Apakah mereka yang telah gugur di Gaza itu yang mati ataukah kita yang mati? Bukan dalam hal fisik, melainkan dalam hal mental dan hati.
Betul, bahwa mereka hatinya sangat hidup dengan dzikir dan syukur kepada Allah dibandingkan kita. Ketika anak-anak Gaza menangis karena lapar, maka bahkan segenggam gandum telah menjadi nikmat luar biasa bagi mereka. Adapun kita yang diberikan makanan porsi besar, hanya karena rasanya tidak enak maka kita mengeluh. Padahal mensyukuri nikmatnya makan dapat menjadi amalan sebagaimana dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw. bersabda:
الطَّاعِمُ الشَّاكِرُ بِمَنْزِلَةِ الصَّائِمُ الصَّابِرِ
“Orang makan yang bersyukur adalah sederajat dengan orang bershaum yang sabar.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)
Memang sifat manusia yang suka mengeluh telah tertulis dalam Al-Qur’an:
إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا ١٩ إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًۭا ٢٠
(19) “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.” (20) “Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah,” [QS. Al-Ma’arij [70]: 19-20]
Hanya yang membedakan adalah apakah kita bisa mengatasi sifat mengeluh tersebut dengan lebih banyak bersyukur? Mungkin itulah yang para mujahid di Gaza bisa lakukan yang kebanyakan kita belum mampu.
Mengatasi Kufur Nikmat
Kufur terhadap nikmat Allah adalah salah satu contoh penyakit hati sebagaimana dibahas pada kajian pekan sebelumnya. Maka, obatnya telah disebutkan, yaitu dengan banyak mengaji. Lebih lanjut, jika kita teruskan ayat pada Surat Al-Ma’arij di atas, terdapat beberapa obat lain yang mampu mengatasi secara spesifik penyakit kufur ini.
إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ ٢٢ ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ ٢٣ وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّۭ مَّعْلُومٌۭ ٢٤ لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ ٢٥
(22) “kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat,” (23) “mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya,” (24) “dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu,” (25) “bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta,” [QS. Al-Ma’arij [70]: 22-25]
Kutipan di atas menunjukkan bahwa shalat dan bersedekah dapat mengobati penyakit kufur.
Namun, terdapat beberapa catatan yang harus diperhatikan. Pertama, bahwa tidak sembarang shalat bisa mengobati kufur. Hanya shalat yang khusyuk, penuh keikhlasan hanya karena Allah, dan dilaksanakan sesuai syariat yang akan menjadi obat. Maka, terutama bagi laki-laki, shalat berjama’ah di masjid adalah obat efektif untuk kufur.
Adapun bersedekah akan mengajarkan kita untuk melihat ke bawah, kepada mereka yang belum diberi nikmat sebanyak yang Allah berikan kepada kita. Inilah yang Rasulullah Saw. tekankan dalam hadis yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ عَلَيْكُمْ
“Perhatikanlah orang yang statusnya berada di bawah kalian, dan janganlah kalian memperhatikan orang statusnya berada di atas kalian. Dengan begitu maka kalian tidak akan menganggap kecil nikmat Allah yang kalian terima.” [HR. Bukhari]
Termasuk dari mereka yang saat ini sedang dalam keadaan di bawah adalah saudara-saudara kita di Gaza. Mereka tidak mendapat nikmat makan dan minum yang cukup, bahkan tidak bisa mendapat ketenangan secara fisik. Namun, apabila kita tidak mampu bersedekah karena keterbatasan harta, maka do’a dapat menjadi sedekah kita yang terbaik untuk mereka.