Intisari Khutbah Jum’at tanggal 25 Juli 2025
Imam dan Khotib: Drs. H. Adjat Sudrajat, MM.

Kisah Tsauban, Sang Mantan Budak
Tsauban pada awalnya adalah seorang budak yang kemudian dimerdekakan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Semenjak saat itu, Tsauban menjadi pelayan setia beliau, selalu berada di dekatnya hampir di setiap waktu.
Namun, suatu hari Tsauban terlihat termenung hingga dirinya bersedih dan menangis. Rasulullah Saw. kemudian menanyakan apa yang terjadi dengannya, padahal Tsauban tidak sakit ataupun mengalami musibah.
Tsauban menjawab, “Wahai Rasulullah, ketika aku jauh darimu, hatiku selalu merasa resah. Aku sangat merindukanmu, maka aku mengkhawatirkan nasibku di akhirat. Hari ini aku bertemu denganmu, menatap wajahmu. Aku khawatir bahwa ketika aku masuk surga dengan rahmat Allah, mungkin aku tidak bisa berada dekat denganmu karena pastilah derajat engkau lebih tinggi bersama dengan para nabi. Bahkan jika aku tidak masuk surga, maka pastilah aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi.”
Rasulullah tersentuh oleh ucapan Tsauban yang sangat mencintainya. Beliau pun membalas dengan sebuah wahyu yang pada saat itu diturunkan kepadanya oleh Malaikat Jibril:
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَـٰٓئِكَ رَفِيقًۭا
“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para shiddiqin (pecinta kebenaran), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [QS. An-Nisa [4]: 69]
Ayat ini bukan hanya menjadi jawaban dan hiburan bagi Tsauban, tapi juga untuk kita semua, seluruh umat Muslim. Sebuah penegasan dari Allah bahwa siapapun yang taat kepada-Nya dan Rasul-Nya, maka akan dikumpulkan bersama dengan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin kelak di akhirat, tepatnya di surga-Nya.
Taat kepada Allah Swt.
Taat kepada Allah Swt. sering juga disebut dengan taqwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, terutama yang termaktub secara langsung dalam Al-Qur’an.
Seorang muslim mestilah mengikuti agama Allah secara sempurna, tidak setengah-setengah sebagaimana dalam firman-Nya:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةًۭ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” [QS. Al-Baqarah [2]: 208]
Termasuk dalam perintah Allah adalah menjalankan seluruh ibadah wajib, termasuk shalat Jum’at sebagaimana firman-Nya:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌۭ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS. Al-Jumu’ah [62]: 9]
Tentu, ibadah wajib harus pula ditambah dengan mengusahakan melaksanakan sebanyak-banyaknya ibadah sunnah serta dengan memperbanyak berdzikir dan berdo’a kepada-Nya.
Di sisi lain, termasuk dalam larangan Allah adalah segala perbuatan maksiat, diantaranya syirik, zina, mencuri, dan berbohong. Maka sebagai bentuk taat kepada Allah, haruslah kita mencoba menjauhi segala jenis kemaksiatan ini.
Taat kepada Rasulullah Saw.
Adapun untuk menunjukkan ketaatan kita terhadap Rasulullah Saw., maka kita dapat mempelajari dan mencontoh sifat-sifat terpuji Rasulullah Saw. sebagaimana Allah telah berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” [QS. Al-Ahzab [33]: 21]
Sifat-sifat beliau yang menjadi suri teladan tersebut telah dijelaskan dalam berbagai hadis dan telah mencakup banyak aspek diantaranya cara berpakaian, makan dan minum, hingga berinteraksi dengan sesama.
Dengan menaati Allah Swt. dan Rasulullah Saw., semoga kita semua termasuk golongan yang dimasukkan oleh Allah ke dalam surga-Nya, hingga bisa berkumpul dengan orang-orang terbaik dari para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin yang akan menjadi sebaik-baiknya teman bagi kita di akhirat kelak.