Intisari Kajian Tahsin Al-Qur’an bersama Ust. Soni Kosasih hari Jum’at tanggal 6 November 2026.

Pada bagian halaman 184 Al-Qur’an, tepatnya pada QS. Al-Anfal [8] ayat 55 terdapat sebuah hukum tajwid khusus bernama Mad Lazim Mutsaqqal Kalimi. Hukum ini terjadi ketika bacaan mad asli bertemu dengan huruf bertasydid setelahnya yang juga ditandai dengan alis tebal. Bacaan yang mengandung hukum tajwid ini berada di lafadz:

Cara membaca Mad Lazim Mutsaqqal Kalimi adalah dengan memanjangkan bacaan mad hingga 6 harakat dengan ketukan ke-6 dileburkan ke huruf bertasydid, misalnya dalam hal ini dibaca sebagai “dawaaaaaabbi”.
Hal yang perlu diperhatikan adalah dari panjang bacaan dan peleburan ke tasydid. Seluruh qira’at setuju bahwa hukum ini harus dibaca dengan panjang 6 harakat, tidak kurang ataupun lebih. Lebih lanjut, perlu diperhatikan cara meleburkan ke huruf tasydid sehingga sifat tebal akibat tasydid tidak terlewati.
Terdapat beberapa contoh ayat lain dalam Al-Qur’an yang merupakan contoh hukum Mad Lazim Mutsaqqal Kalimi. Salah satu yang paling sering dibaca adalah pada ayat terakhir Surat Al-Fatihah:

Contoh lain yang sering dibaca adalah pada QS. Adh-Dhuha [93] ayat 7:

Dan sebuah contoh lain dapat ditemukan pada awal Surat Al-Haqqah yang terdapat pada tiga ayat berturut-turut:

Dibandingkan dengan hukum pasangannya, yaitu Mad Lazim Mukhaffaf Kalimi (mad bertemu huruf sukun) yang hanya ditemukan satu kali pada Al-Qur’an, hukum Mad Lazim Mutsaqqal Kalimi dapat ditemukan dalam jumlah yang cukup banyak. Untuk itu, diperlukan latihan dalam membaca jenis hukum tajwid ini sehingga dapat secara konsisten dipraktikkan.