Intisari Kapita Selekta hari Sabtu tanggal 18 Oktober 2025
Penceramah: Drs. H. Asep Syamsudaya, M.Si.

Syariat: Kami Dengar dan Kami Taat
Dalam syariat agama Islam, kita diwajibkan shalat lima waktu, masing-masing dengan aturan dan jumlah raka’atnya masing-masing. Namun terkadang timbul pertanyaan. Mengapa shalat Shubuh harus dua raka’at? Mengapa shalat Maghrib tiga raka’at? Dan mengapa shalat lainnya (Dzuhur, Ashar, Isya) empat raka’at? Terkadang juga kita mempermasalahkan tentang gerakan shalat, mengapa harus begini dan mengapa harus begitu.
Pada dasarnya, pertanyaan seperti inilah yang sering dilontarkan oleh mereka yang ingin mencari-cari kesalahan dalam syariat Islam. Aturan raka’at dan gerakan shalat dianggap tidak beralasan. Ini jelas adalah logika yang keliru, karena syariat ini bukan untuk dipertanyakan, melainkan untuk kita taati sebagai umat Muslim sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍۢ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ ٢٨٥
Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.” [QS. Al-Baqarah [2]: 285]
Ayat ini dengan jelas menekankan pada keyakinan dan keimanan kita kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, dan para rasul-Nya. Kalimat kunci yang terdapat pada ayat ini adalah “Kami dengar dan kami taat.” Tidak perlu untuk secara berlebihan mempertanyakan syariat, karena hal itu dapat mengubah karakter kita sebagai seorang Muslim. Umumnya, mereka yang terus meragukan syariat inilah yang berujung dengan murtad hingga bahkan menjadi atheis.
Sebaliknya, jika kita mempertanyakan syariat secara baik dengan menggunakan akal sehat dan sewajarnya, maka karakteristik kita sebagai Muslim dapat menjadi lebih kuat.
Kekuatan Do’a
Salah satu hal yang sering menjadi pertanyaan orang yang meragukan kebenaran Islam adalah firman Allah:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠
Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” [QS. Ghafir [40]: 60]
Dalam ayat di atas, Allah menjamin bahwa semua do’a akan dikabulkan. Namun, banyak dari mereka para pemikir yang salah kaprah mengklaim bahwa tidak sedikit kasus di mana do’a tidak dikabulkan. Sebagai kesimpulan, mereka mempersalahkan syariat Islam yang dianggap tidak sesuai dengan kenyataan.
Padahal ada banyak peristiwa di mana masalah sebesar apapun bisa selesai dengan do’a yang bahkan tidak sebegitu panjang. Sebagai contoh, ketika Nabi Ayyub as. ditimpa dengan kemiskinan dan penyakit yang luar biasa:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ ٨٣ فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ فَكَشَفْنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرٍّۢ ۖ وَءَاتَيْنَـٰهُ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةًۭ مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَـٰبِدِينَ ٨٤
(83) Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (84) Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka), sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami. [QS. Al-Anbiya [21]: 83-84]
Contoh lainnya ada pada kisah Nabi Yunus as. ketika beliau ditelan oleh ikan paus:
وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبًۭا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَـٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ ٨٧ فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَـٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُـۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ ٨٨
(87) Dan (ingatlah kisah) Żun Nūn (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (88) Maka kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.
Namun, kembali para orang-orang yang meragukan menyerang dengan argumen: “Itu kan nabi, bagaimana dengan orang biasa?” Maka dalam hal inilah keimanan dan perspektif kita yang menentukan.
Keimanan dan Perspektif
Dalam buku berjudul “The Secret” (Rahasia) karya Rhonda Bryde, dijelaskan bahwa segala kebaikan akan kembali kepada diri kita sendiri selama landasannya juga baik. Perhatikan bahwa buku ini ditulis oleh seorang non-muslim, namun konsep yang ditelitinya selama bertahun-tahun dapat membuktikan kebenaran Al-Qur’an. Jika kita berdo’a dengan keyakinan penuh disertai dengan taat beribadah kepada Allah, maka barulah semua itu akan kembali kepada kita.
Dalam buku lain berjudul “The Lucky Faktor” (Faktor Keberuntungan) karya Richard Wiseman, keberuntungan seseorang bergantung pada perspektif. Jika pandangan kita negatif, maka kita akan banyak dirundung dengan ketidakberuntungan. Sebaliknya, dengan pandangan positif, maka keberuntungan akan mendatangi kita.
Buku yang juga ditulis oleh non-muslim ini berhasil membuktikan sebuah hadis dari Rasulullah Saw.:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]
Untuk itulah kita harus mendasarkan do’a dan ibadah kita dengan keimanan dan perspektif baik kepada Allah Swt. Perihal do’a, ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan, mungkin saja do’a itu masih tertunda. Atau bisa jadi Allah Maha Tahu bahwa dampak dari do’a itu kurang baik kepada kita, sehingga digantikanlah dengan sesuatu yang jauh lebih baik.
Demikianlah kita harus melihat Islam, yaitu dari perspektif yang positif. Hanya dengan cara inilah kita dapat memperkuat keimanan kita kepada Allah Swt. Sebaliknya, perspektif yang negatif akan membuat kita semakin jauh dari keimanan dan ketaatan, mempertanyakan segala hal yang tidak perlu, sehingga akal kita yang kehilangan kesehatannya menyesatkan kita ke dalam kekafiran.