
Intisari ceramah pada Pengajian BPW MUI Sarijadi hari Ahad tanggal 29 Juni 2025
Pemateri: Drs. H. Asep Syamsudaya, M.Si.
Bulan Muharram, Salah Satu Bulan Haram
Terdapat 12 bulan dalam kalender Islam dengan bulan pertamanya adalah Muharram. Selain sebagai bulan pertama, Muharram juga termasuk salah satu dari empat bulan haram. Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّه السَّماواتِ والأَرْضَ: السَّنةُ اثْنَا عَشَر شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُم: ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقعْدة، وَذو الْحجَّةِ، والْمُحرَّمُ، وَرجُب مُضَر الَّذِي بَيْنَ جُمادَى وَشَعْبَانَ
“Sesungguhnya zaman ini telah berjalan (berputar), sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Kemudian Rajab yang berada di antara Jumadil (Akhir) dan Syaban.” [HR Bukhari dan Muslim]
Haram dalam konteks ini bukan berarti “dilarang” seperti pada hukum perilaku, melainkan seperti halnya nama Masjidil Haram sebagai “Masjid yang dimuliakan”, yaitu bulan haram adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Maka, pastilah ada sesuatu yang spesial pada bulan ini.
Sebagaimana Masjidil Haram dimuliakan dengan pahala shalat di dalamnya setara 100.000 kali lipat shalat di masjid lainnya, demikian pula halnya dengan melaksanakan amalan di bulan haram hitungannya juga dilipatgandakan. Allah Berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.” [Q.S. At-Taubah [9]: 36]
Sahabat Ibnu Abbas ra. dan mufasir Ibnu Katsir memaknai ayat ini terutama pada penggalan “janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu” sebagai peringatan bahwa selain amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya di bulan haram, demikian pula dosa dari amal keburukan.
Maka, perlulah kita memperhatikan setiap perbuatan kita sebagaimana Firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” [Q.S. Al-Hasyr [59]: 18]
Tahun Baru Hijriah, Waktunya Muhasabah
Ayat di atas menunjukkan perlunya manusia untuk bermuhasabah atau introspeksi diri. Hal ini dikarenakan tidak ada yang sepenuhnya tahu siapa diri kita dengan segala kebaikan dan keburukannya kecuali kita sendiri dan Allah Yang Maha Tahu sebagaimana Firman-Nya:
وَأَسِرُّوا۟ قَوْلَكُمْ أَوِ ٱجْهَرُوا۟ بِهِۦٓ ۖ إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ١٣ أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ ١٤
“(13) Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati. (14) Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.” [Q.S. Al-Mulk [67]: 13-14]
Ingat pula, bahwa Allah Maha Halus dan Maha Baik dengan tidak sepenuhnya membongkar keburukan kita, yang mungkin jika diketahui manusia lain akan membuat kita dijauhi semua orang bagaikan orang yang telanjang di depan umum. Maka, lebih baik kita yang “menelanjangi diri sendiri”. Buka semua tabir dan evaluasi diri kita.
Momentum Tahun Baru Hijriah bukanlah untuk hura-hura seperti Tahun Baru Masehi, melainkan untuk kita bermuhasabah. Apa yang sudah kita lakukan setahun kebelakang? Apa yang sudah kita persiapkan untuk setahun kedepan? Pertanyaan itulah yang harus dikembalikan ke masing-masing diri kita.
Hisab Diri Kita, Sebelum Kita Dihisab
Muhasabah berarti menilai diri kita sendiri. Menghitung kebaikan dan keburukan yang telah kita lakukan sebagai evaluasi, apakah kita sudah cukup bekal untuk menghadapi pengadilan Allah di akhirat? Firman-Nya di Al-Qur’an Surat Az-Zalzalah:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ ٧ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّۭا يَرَهُۥ ٨
“(7) Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (8) Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” [Q.S. Az-Zalzalah [99]: 7-8]
Untuk itu, Khulafa’ur Rasyidin Umar bin Khattab ra. pernah mengingatkan, “Hisablah diri kita sebelum kita dihisab, dan timbanglah amal kita sebelum amal kita ditimbang.” Beliau juga memperingatkan bahwa nanti di hari pembalasan tidak akan ada yang dapat disembunyikan dari Allah Yang Maha Mengetahui. Maka, dengan menghitung dan menimbang amal sendiri sebelum itu dapat memperingan beban kita sekaligus menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Apakah Amalan Kita Diterima?
Muhasabah tidak cukup jika kita hanya melihat apa saja amal baik yang sudah dilakukan, melainkan harus juga disertai sebuah pertanyaan, “Apakah amalan kita diterima?”
Suatu amalan hanya akan diterima oleh Allah Swt. jika terpenuhi dua syarat:
Mengikuti Tuntunan Allah dan Rasul-Nya
Beramal haruslah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Tidak dibenarkan untuk melakukan suatu amal tanpa dasar ilmu. Demikian pula dengan melakukan amal secara setengah-setengah, karena Allah Berfirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةًۭ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” [Q.S. Al-Baqarah [2]: 208]
Ikhlas karena Allah Swt.
Dasar dari semua amal adalah niat, sebagaimana diriwayatkan oleh Umar bin Khattab bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]
Benar-benar merugi jika seseorang beramal hanya karena riya, flexing, ingin pamer dihadapan manusia, karena telah disebutkan dalam firman Allah:
فَوَيْلٌۭ لِّلْمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٥ ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ ٦
“(4) Maka celakalah orang yang salat, (5) (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, (6) yang berbuat riya,” [Q.S. Al-Ma’un [107]: 4-6]
Amalan Yang Sia-Sia
Janganlah sombong dengan banyaknya amal, meskipun kunci-kunci di atas sudah dilakukan. Karena mungkin saja kesombongan itu membuat kita lalai dan nantinya malah berakhir di neraka.
Allah Swt. Berfirman:
هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلْغَـٰشِيَةِ ١ وُجُوهٌۭ يَوْمَئِذٍ خَـٰشِعَةٌ ٢ عَامِلَةٌۭ نَّاصِبَةٌۭ ٣ تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةًۭ ٤
“(1) Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)? (2) Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk hina, (3) (karena) bekerja keras lagi kepayahan, (4) mereka memasuki api yang sangat panas (neraka),” [Q.S. Al-Ghasyiyah [88]: 1-4]
Selain itu, bisa jadi kita juga baik sengaja atau tidak sengaja berbuat zalim kepada orang lain. Apabila ini terjadi terlalu banyak, maka dampaknya bisa menghabiskan seluruh amal kita dan justru menambah dosa.
فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ (رواه مسلم)
“Orang yang menderita bangkrut berat dari umatku adalah orang yang dibangkitkan di hari kemudian dengan membanggakan amal ibadahnya yang banyak, ia datang dengan membawa pahala shalatnya yang begitu besar, pahala puasa, pahala zakat, sedekah, amal dan sebagainya.
Tetapi kemudian datang pula menyertai orang itu, orang yang dulu pernah dicaci maki, pernah dituduh berbuat jahat, orang yang hartanya pernah dimakan olehnya, orang yang pernah ditumpahkan darahnya.
Semua mereka yang dianiaya orang tersebut, dibagikan amal-amal kebaikannya, sehingga amal kebaikannya habis. Setelah amal kebaikannya habis, maka diambillah dosa dan kesalahan dari orang-orang yang pernah dianiaya, kemudian dilemparkan kepadanya kemudian dicamppakkannya orang itu ke dalam neraka.” [HR. Muslim, No. 2581]
Jaga Keimanan, Jangan Putus Asa
Mungkin setelah muhasabah, kita menyadari bahwa dosa yang telah dilakukan lebih banyak daripada amal kebaikan. Tapi, ini bukan alasan untuk kita berputus asa.
وَأَخِيهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.” [Q.S. Yusuf [12]: 87]
Ingat, bahwa seseorang hanya dapat masuk surga dengan rahmat Allah.
لا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللهِ
“Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelamatkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” [HR Muslim].
Banyak contoh cerita seseorang yang dosanya sedemikian banyak, namun cukup dengan satu amal baik membuatnya mendapat rahmat Allah dan masuk ke surga. Misalnya kisah seorang ahli maksiat yang hanya karena memberi minum seekor anjing – makhluk yang dianggap najis dalam Islam – dalam keadaan terdesak akhirnya membuka pintu rahmat Allah sehingga Ia menjadi ahli surga.
Sebanyak Apapun Amal, Tidak Bisa Membayar Nikmat Allah
Seorang ahli ibadah telah beramal selama 500 tahun tanpa henti dan mengklaim bahwa dirinya sudah membayar lunas semua nikmat Allah. Namun, klaim ini sangat salah, karena nikmat Allah tidak akan bisa dibayar. Sesuatu yang dibayar haruslah dapat dihitung, namun nyatanya nikmat Allah takkan mampu dihitung dan ditulis semuanya.
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Q.S. An-Nahl [16]: 18]
Untuk itulah, Allah Swt. mengulangi Firman-Nya dalam 31 ayat di Surat Ar-Rahman:
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” [Q.S. Ar-Rahman [55]: 13]
Manfaatkan Muharram untuk Beramal
Bulan Muharram membuka banyak kesempatan untuk kita menambah amal baik. Salah satunya adalah dengan berpuasa yang keutamaannya hanya dapat dilampaui oleh puasa Ramadhan sebagaimana dari hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ. (رواه مسلم)
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim).
Salah satu puasa sunah yang khusus pada bulan Muharram ini adalah puasa Asyura yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram dengan segala keutamaannya.
عَنْ أَبي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ. (رواه مسلم)
“Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra: sungguh Rasulullah saw bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: ‘Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat’.” (HR Muslim)
Rasulullah Saw. bahkan berniat untuk menambah puasa satu hari sebelum Asyura, yaitu pada hari Tasu’a tanggal 9 Muharram. Hal ini dilakukan untuk membedakan puasa umat Muslim dengan para Yahudi. Namun, Rasulullah Saw. sudah meninggal dunia dua bulan kemudian sehingga beliau belum melaksanakan puasa Tasu’a ini.
Jelas, puasa bukan satu-satunya amal yang dapat dilakukan di bulan Muharram. Perbanyak pula shalat, dzikir, tadarus, dan bersedekah. Manfaatkan momentum Muharram untuk muhasabah, bertaubat dari segala kesalahan, dan perbanyak amal ibadah.