Intisari Kajian Tahsin Al-Qur’an bersama Ustadz Soni Kosasih hari Jum’at tanggal 5 September 2025.

Apa itu Alif Washal?
Alif washal atau disebut sebagai hamzah washal pada Al-Qur’an mushaf Madinah adalah huruf alif atau hamzah yang dasarnya tidak berharakat jika bacaan diteruskan (washal), namun dapat dihidupkan jika bacaan dimulai kembali (ibtida’) dari huruf tersebut.
Mengenal hukum alif washal diperlukan karena seringkali ketika kita membaca Al-Qur’an dengan mushaf yang standar seperti mushaf Madinah, biasanya tidak akan ada penanda seperti di mushaf Indonesia.
Rumus Alif Washal
Untuk menghidupkan alif washal, maka harus diberikan harakat yang sesuai tergantung pada kondisi yang diberikan pada rumus berikut.
1. Fathah (A) jika huruf keduanya lam (ل)
Ini adalah contoh alif washal yang paling sering ditemukan karena biasanya berposisi di awal ayat. Sebenarnya jenis alif washal ini selalu kita baca, yaitu pada Surat Al-Fatihah di ayat kedua dan ketiga.

Sering kita mendengar bacaan “Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin” pada ayat kedua dan “Arrahmaanir rahiim“ pada ayat ketiga. Namun, jika bacaan tidak dimulai dari awal kedua ayat tersebut, maka alif washal ini tidak berlaku dan haruslah dilewat dengan membaca harakat dari huruf terakhir pada ayat sebelumnya. Jadi, jika dibaca dari ayat pertama hingga ketiga secara terus-menerus maka dibaca “Bismillaahir rahmaanir rahiimil hamdulillaahi rabbil ‘alamiinar rahmaanir rahiim”.
2. Dhammah (U) jika huruf ketiga berharakat dhammah
Contoh dari kaidah ini dapat ditemukan pada Al-Ma’idah ayat 20, tepatnya pada kalimat

Jika dimulai dari awal penggalan di atas, maka bacaannya adalah “Yaa qaumidzkuruu”. Namun, jika kita memulai dari alif washal, maka bacaannya menjadi “Udzkuruu”.
3. Kasrah (I) jika huruf ketiga berharakat kasrah
Contoh ketiga ini sebenarnya selalu kita baca, yaitu pada ayat keenam Surat Al-Fatihah:

Memang di mushaf Indonesia sudah ada penanda kasrah pada alif di awal ayat keenam ini, namun tidak untuk contoh mushaf Madinah di atas. Jika dibaca dari awal ayat keenam, maka bacaannya menjadi “Ihdinash shiraathal mustaqiim”. Adapun jika diteruskan dari ayat kelima, maka dibaca “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iinuhdinash shiraathal mustaqiim”.