Intisari Kapita Selekta hari Sabtu tanggal 7 November 2026.
Penceramah: H. Ondo Saleh, S.Sos.

Siklus Kehidupan
Allah secara adil memberikan waktu 24 jam kepada setiap manusia untuk melakukan berbagai usaha. Ada mereka yang cukup beruntung, para pedagang yang kaya raya. Di sisi lain, ada pula mereka yang terpaksa bertahan dengan menjadi pemulung. Ada mereka yang bekerja di darat, misal sebagai seorang pengendara ojek online dan ada pula yang bekerja di udara sebagai pilot dan pramugari. Ada mereka yang menjadi seorang kuli dan tukang, memanfaatkan secara maksimal fisiknya, dan ada pula yang berfokus pada otaknya dengan menjadi seorang guru atau dosen.
Lantas, bagaimana panduan Islam untuk manusia menjalankan hidup? Allah menjelaskannya dalam sebuah ayat:
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلْـَٔاخِرَةِ نَزِدْ لَهُۥ فِى حَرْثِهِۦ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ٢٠
Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.
[QS. Asy-Syura [42]: 20]
Syekh Tantowi dalam tafsir al-Jauhari menjelaskan makna dari ayat di atas. Orang yang bekerja demi akhirat akan mendapat pahala yang berlipat dari mereka. Adapun mereka yang bekerja demi dunia hanya akan mendapat sebagian manfaatnya dan tidak mendapat manfaat apapun di akhirat. Hal ini selaras dengan firman Allah lainnya:
مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصْلَىٰهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا ١٨ وَمَنْ أَرَادَ ٱلْـَٔاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا ١٩
(18) Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (19) Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.
[QS. Al-Isra [17]: 18-19]
Ketika Fondasi Iman Tidak Teguh
Saat ini, kita hidup di masa yang serba kesulitan. Tercatat ribuan pekerja terkena PHK. Berbagai harga bahan pokok meningkat tajam. Mencari pekerjaan yang halal sangatlah sulit, dan kalaupun ada, bayarannya tidak sepadan dan mencukupi.
Dalam posisi inilah manusia yang tidak teguh fondasi imannya akan tergoda untuk mencari kekayaan dunia, bahkan melalui cara yang tidak halal. Mereka yang miskin dapat menjadi kriminal. Adapun mereka yang kaya akan berusaha mempertahankan posisinya juga dengan metode yang tidak patut, misalnya para pedagang menimbun barang tertentu untuk menaikkan harganya di pasar untuk dijual sedikit demi sedikit.
Pada keadaan ekstrem, jika manusia sudah tidak dapat menghadapi segala masalah yang terus-menerus datang, maka sampailah pada hal yang menurut mereka menjadi satu-satunya cara menyelesaikan masalah tersebut. Mereka memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Perbuatan ini jelas menyalahi syarat agama dan menunjukkan sifat tidak menerima takdir Allah.
Akhirat Prioritas Utama
Para ulama sepakat bahwa akhirat harus menjadi hal utama yang dikejar oleh seorang muslim. Pertama, Hasan al-Basri mengatakan, “Hai manusia, kejarlah duniamu untuk akhirat maka kau akan mendapatkan keduanya. Namun, janganlah menjual akhiratmu untuk dunia karena kau akan kehilangan keduanya sekaligus.”
Ulama lainnya adalah Auf bin Abdullah, “Dunia adalah tempat persinggahan, akhirat adalah tujuan yang kekal, dan kubur adalah pembatasnya.” Kemudian, Abu Sulaiman ad-Darani menambahkan, “Jika akhirat ada dalam hati, maka dunia akan mendesak dan mengejarnya. Namun, jika dunia yang ada dalam hati, maka akhirat tidak akan mengejarnya.”
Sukses Dunia? Akhirat Kuncinya
Pada akhirnya, untuk meraih kesuksesan dunia tidak cukup hanya dengan usaha maksimal duniawi tanpa sama sekali memikirkan urusan akhirat. Adalah hal yang salah jika seseorang fokus pada kerjanya dan meninggalkan ibadah, karena yang akan didapatkannya kemudian hanyalah sebagian dari kesuksesan dunia, mungkin tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Inilah yang ditekankan oleh ulama lainnya, Yahya bin Mu’adz. “Wahai manusia, jika engkau terpaksa mengejar dunia, maka kejarlah tapi jangan mencintainya.”
Telah banyak testimoni tentang bagaimana seseorang yang mementingkan akhirat juga berhasil mendapatkan kesuksesan dunia. Mereka yang memutuskan untuk bersedekah dan mendapatkan balasan dengan harta berlipat-lipat. Mereka yang bekerja dengan niat lebih tulus dan ikhlas karena Allah sehingga gaji dan rezekinya melebihi apa yang diharapkan.
Jangan pernah melewatkan urusan akhirat, karena mengejar akhirat adalah keuntungannya akan terbawa ke dalam kehidupan dunia. Namun, berhati-hatilah agar tidak terlalu mengejar dunia hingga melupakan akhirat karena tidak akan banyak yang bisa kita dapatkan. Allah kembali mengingatkan kita semua dalam ayat-Nya:
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ ٧٧
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.
[QS. Al-Qashash [28]: 77]