Intisari Kajian Tafsir Al-Qur’an dan Fiqih Ibadah bersama Dr. H. Mad Ali, MA. hari Rabu tanggal 4 November 2026.

Amal Saja Tidak Cukup
Banyak orang berpikir bahwa untuk masuk ke surga hanya perlu amal kebaikan dalam jumlah yang banyak sedemikian sehingga dapat melebihi jumlah amal keburukan. Meski tidak sepenuhnya salah, pemikiran ini pun tidak dapat dikatakan sepenuhnya benar pula.
Orang yang beramal saja akan melaksanakan ibadah hanya untuk formalitas dan menggugurkan kewajiban serta hanya mengharapkan hitungan pahala Allah. Setiap ibadah tidak dimaknai dengan dalam sehingga pada akhirnya tidak berbekas dan tidak tercermin pada perilakunya sehari-hari.
Karena hal inilah banyak orang yang dalam ibadahnya sering tidak konsisten, tidak istiqomah, terlebih jika pikiran logika yang digunakannya terhadap ibadah itu terkesan kontradiktif. Sebagai contoh, seseorang banyak beribadah namun lebih banyak terkena musibah dan hidupnya susah payah. Adapun orang lain yang tidak beribadah justru mendapatkan kekayaan melimpah dan hidupnya serba senang.
Mereka yang beramal sebatasnya saja mungkin akan berpikir bahwa “ibadah itu tidak perlu” dan memilih berhenti. Hanya mereka yang benar-benar memaknai ibadah akan memahami bahwa mungkin segala ujian itu adalah ketentuan Allah yang dapat membawanya pada suatu hal yang merupakan kunci surga yang sebenarnya.
Rahmat Allah
Ibadah dan pahala yang dihitung darinya hanyalah perantara untuk manusia mendapatkan kunci sebenarnya menuju surga, yaitu rahmat Allah. Adalah karena rahmat dan kasih sayang Allah seorang manusia akan masuk ke dalam surga. Terkadang, rahmat bisa datang pada seseorang dengan amal yang sebenarnya sedikit namun konsisten. Ada pula yang mendapatkan rahmat hanya karena satu amal dengan dampak yang besar. Sebaliknya, bisa jadi seseorang yang banyak beribadah namun tidak ikhlas justru tidak akan mendapat rahmat Allah.
Lantas, apakah yang dapat menjadi jalan menuju rahmat Allah? Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah ayat:
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَـٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ٢١٨
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
[QS. Al-Baqarah [2]: 218]
Dari kutipan ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa keimanan adalah kunci utama mendapatkan rahmat Allah. Seluruh ibadah dilaksanakan karena iman dan bukan hanya untuk pahala semata. Lebih lanjut, rahmat Allah juga akan datang kepada mereka yang berhijrah, meninggalkan segala hal yang buruk demi hal-hal yang baik. Demikian pula untuk mereka yang berjihad, tidak terbatas pada perang, melainkan juga dalam bentuk jihad lain seperti menuntut ilmu.
Logika: Mudahnya Meraih Rahmat Allah
Agar dapat meraih rahmat Allah, minimal seorang manusia harus melaksanakan semua ibadah yang diwajibkan dengan penuh keimanan. Jika kita mengambil logika dari hal ini untuk shalat lima waktu yang masing-masing mengambil waktu 10 menit, maka total waktu yang perlu disisihkan hanyalah 50 menit per hari yang secara keseluruhan terdiri atas 1440 menit. Tentu, hal tersebut bukan berarti bahwa cukup saja hanya melaksanakan shalat wajib. Dengan masih banyaknya waktu yang tersisa, berbagai ibadah sunah lainnya dapat dilakukan, misalnya tadarus Al-Qur’an dan mengikuti majelis ilmu.
Sebagai perbandingan, rata-rata manusia bekerja selama 10 jam dan gaji yang diperoleh umumnya hanya sekadar cukup untuk melanjutkan hidup. Dengan demikian, hal ini seharusnya menjadi renungan bahwa pintu rahmat Allah sangatlah luas dan mudah untuk didapatkan bagi mereka yang menginginkannya.
Banyak manusia bekerja mati-matian demi kesejahteraan di dunia, dan hal ini tidaklah salah. Namun, tidak sedikit yang mengesampingkan urusan ibadah dan nyaris tidak memikirkan kehidupan akhiratnya kelak. Inilah pola pikir yang tidak tepat. Maka, mestilah manusia untuk menyeimbangkan urusan dunia dan akhiratnya agar dapat tetap sejahtera dalam hidupnya di dunia dan dapat memperoleh rahmat Allah sebagai kunci menuju surga.