Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 21 Desember 2025.

Apa itu Mesin Taqwa?
Sebuah mesin dapat berjalan karena adanya sistem yang saling mendukung. Misalnya dalam mesin mobil, terdapat beberapa gigi yang akan saling bergerak jika salah satunya telah bergerak. Umumnya, gigi yang digerakkan akan dimulai dari yang terkecil sehingga torsinya akan membantu menggerakkan gigi yang lebih besar.
Lantas apa itu mesin taqwa? Yaitu serangkaian amal yang dapat menggerakkan manusia menuju ketaqwaan kepada Allah. Kemudian apakah amalan dalam mesin taqwa tersebut? Allah Swt. telah berfirman:
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ١٣٣ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ ١٣٤
(133) Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (134) (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.
[QS. Ali-Imran [3]: 133-134]
Dimulai dari ayat 134, kita tahu bahwa gigi pertama dalam mesin taqwa adalah infaq. Gigi kedua adalah menahan amarah, gigi ketiga adalah memaafkan orang lain, dan barulah sampai ke gigi terakhir yaitu memohon ampun (istighfar).
Gigi Pertama: Infaq
Infaq memang adalah gigi pertama, namun menggerakkannya benar-benar perlu usaha. Hal ini dikarenakan berinfaq artinya memberikan harta, baik uang atau barang kepada orang lain. Itu berarti harta tersebut, setidaknya secara logis, tidak kembali kepada dirinya sendiri. Di sisi lain, harta adalah hal yang sangat atau mungkin paling dicintai manusia. Maka jelas, mengikhlaskan harta untuk diinfaqkan adalah amal yang sangat berat.
Infaq tidak dibatasi nominalnya, meskipun hanya seratus perak. Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:
قُلْ إِنَّ رَبِّى يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ وَيَقْدِرُ لَهُۥ ۚ وَمَآ أَنفَقْتُم مِّن شَىْءٍۢ فَهُوَ يُخْلِفُهُۥ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ٣٩
Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infaqkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik.
[QS. Saba’ [34]: 39]
Dalam ayat di atas, digunakan kalimat أَنفَقْتُم مِّن شَىْءٍۢ yang artinya “menginfaqkan apa saja.” Dengan demikian, infaq sekecil apapun dapat diterima. Infaq bukan masalah besar atau kecil, melainkan pada niat baik yang timbul bersamanya.
Gigi Kedua: Menahan Amarah
Dengan banyak berinfaq, maka hati manusia akan lebih bersih. Salah satu sifat yang akan timbul dari hati yang bersih adalah sabar. Melalui kesabaran tersebut maka seseorang akan lebih mampu menahan amarah.
Jika seorang manusia tidak mampu menahan hawa nafsu dan amarahnya, maka permasalahan tidak akan mencapai penyelesaian, melainkan justru akan semakin berlarut-larut. Untuk itu, sangat penting bahwa setiap masalah dihadapi dengan kepala dingin dan tenang.
Gigi Ketiga: Memaafkan
Sebagai lanjutan dari menahan amarah, seseorang akan lebih mudah memaafkan jika orang lain melakukan kesalahan. Hal ini juga berlaku sebaliknya, yaitu mudah dan lapang dada untuk meminta maaf jika bersalah, baik disengaja ataupun tidak.
Tanpa adanya pihak yang bersedia meminta maaf dan pihak lain yang memaafkan, maka masalah tidak akan selesai. Dengan sifat memaafkan, maka akan tercipta kedamaian dan kerukunan antar sesama.
Gigi Keempat: Memohon Ampun (Istighfar)
Simpulan akhir dari mesin taqwa adalah kebiasaan untuk beristighfar. Dengan terus-menerus memohon ampun kepada Allah, maka bukan hanya seluruh dosa akan diampuni, melainkan hati akan semakin bersih.
Dari mesin taqwa di atas, terlihat bahwa dimulai dari amalan sederhana seperti berinfaq, selama dilaksanakan dengan ikhlas, akan memiliki efek berantai dalam membersihkan hati manusia untuk menuju ketaqwaan. Dengan demikian, manusia akan selalu ingat untuk menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Dan kalaupun terjadi kesalahan, maka beristighfar dan bertaubat menjadi pilihan untuk memperbaikinya.