Intisari Kapita Selekta hari Sabtu tanggal 20 Desember 2025.
Penceramah: Drs. H. Adjat Sudrajat, MM.

Memaknai Hidup di Dunia
Kekayaan seseorang di usia tua bukan dari saldo bank, melainkan pada waktu luang dan kesehatan yang bisa diinvestasikan untuk hal-hal yang dahulu tertunda. Untuk itu, seorang lanjut usia harus menjaga kesehatannya untuk fisik, di antaranya berolahraga secara teratur, menjaga pola makan, dan istirahat yang cukup.
Dengan kesehatan yang ideal, maka kita dapat memanfaatkannya untuk membuat produktivitas baru pasca pensiun. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan hobi yang berpotensi memberi penghasilan seperti berkebun, menulis, atau membuat kerajinan tangan.
Selain untuk membuka penghasilan, seorang lanjut usia tidak boleh pula melupakan aspek pengabdian sosial. Dengan banyaknya waktu luang di masa pensiun, maka kesempatan terbuka untuk menjadi relawan sosial di berbagai bidang. Sebagai contoh, seorang pensiunan guru bisa menjadi seorang pengajar, menyebarkan ilmunya kepada umum.
“Terus bergerak agar hidup tidak berkarat,” demikianlah prinsip yang harus dipegang oleh para lanjut usia.
Masa Keemasan Berburu Pahala
Usia lanjut berarti peluang emas untuk meraup pahala demi kebahagiaan akhirat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saw. bersabda:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan (5) Hidupmu sebelum datang matimu.”
[HR. Al-Hakim]
Dengan adanya waktu luang dan kesehatan, maka tidak ada alasan bagi lanjut usia, terutama laki-laki untuk meninggalkan shalat berjama’ah di masjid serta menambahnya dengan shalat sunah. Hal ini akan lebih baik jika disertai dengan menuntut ilmu dalam majelis ta’lim. Selain itu, rutin menghabiskan waktu untuk tilawah Al-Qur’an juga akan sangat membantu, terutama dalam menjaga otak agar tidak terkena penyakit seperti pikun. Akhirnya, melalui akhlak yang baik, diharapkan para lanjut usia dapat memberi contoh bagi keluarganya.
Melalui amalan-amalan di atas, seseorang dapat menabung pahala jariyah yang akan terus mengalir bahkan ketika suatu saat nanti Allah memanggil kembali ke sisi-Nya. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara): shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.”
[HR. Muslim no. 1631]
Ubah Jadwal Kerja Menjadi Jadwal Ibadah
Jika di masa produktif ada jadwal kerja yang tersusun rapi, maka setelah pensiun, seorang lanjut usia haruslah membuat jadwal ibadah yang sama rapinya. Bangun di sepertiga malam terakhir untuk shalat tahajud, lanjutkan dengan shalat Shubuh berjama’ah di masjid. Isi waktu luang antar shalat dengan majelis ilmu dan membaca Al-Qur’an disertai dengan menjalani hobi yang produktif. Niatkan semuanya sebagai ibadah karena Allah, maka rezeki dan pahala tidak akan pernah berhenti mengalir.
Lawan rasa bosan yang akan perlahan mengikis kesehatan dengan sifat tekun. Jangan memakai prinsip, “Ah, sudah cukup kerja, waktunya santai,” melainkan “Ini kesempatan untuk banyak beribadah.” Berikan lebih banyak manfaat, baik untuk diri sendiri ataupun kepada sesama. Insya Allah, ketika nanti Allah berkehendak bahwa ajal sudah tiba, maka kita akan kembali kepada-Nya dengan husnul khatimah, akhir yang sebaik-baiknya.