
Intisari Kapita Selekta hari Sabtu tanggal 5 Juli 2025
Pemateri: Drs. H. Adjat Sudrajat, MM.
Orang Islam dari lahir biasanya sudah otomatis menjadi Islam, tetapi sadarkah bahwa kita tidak bersyahadat saat dilahirkan? Berbeda dengan mualaf yang bersyahadat ketika pertama kali masuk Islam. Namun, pada dasarnya semua ruh telah bersyahadat, menyatakan tauhid kepada Allah Swt. Adalah ke rahim manakah ruh tersebut ditiupkan sehingga kemudian lahir kepada siapakah bayi tersebut yang menentukan arah keyakinan tersebut.
Agar tidak berbelok ke arah yang salah, maka Allah Swt. memerintahkan kita untuk mengikuti Islam secara kaffah sebagaimana Firman-Nya:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةًۭ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَـٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” [Q.S. Al-Baqarah [2]: 208]
Ciri-ciri seseorang dengan Islam kaffah dijelaskan pada ayat lainnya:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًۭا كَلِمَةًۭ طَيِّبَةًۭ كَشَجَرَةٍۢ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌۭ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ ٢٤ تُؤْتِىٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍۭ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ٢٥
“(24) Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (25) (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” [Q.S. Ibrahim [14]: 24-25]
Beberapa tafsir memaknai “kalimat yang baik” sebagai kalimat tauhid, juga segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan baik. Inilah ciri-ciri dari mereka yang menjalankan Islam secara kaffah.
Meski demikian, jika kita kembali ke Surat Al-Baqarah ayat 208, dijelaskan bahwa setan pasti akan mencoba membelokkan manusia dari Islam kaffah tersebut.
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, setan memiliki tujuh cara untuk membelokkan manusia:
- Membisikkan kepada manusia agar tidak menaati perintah Allah
- Membisikkan kepada manusia agar menunda-nunda ibadah kepada Allah
- Membisikkan kepada manusia agar cepat-cepat mengerjakan kebaikan, tapi akhirnya terkesan tergesa-gesa
- Membisikkan kepada manusia agar menjalankan amal kebaikan secara sempurna agar tidak dicela orang lain sehingga menjadi riya.
- Membisikkan kepada manusia yang beramal beberapa pujian sehingga dirinya sombong.
- Membisikkan kepada orang saleh dan ahli ibadah bahwa ibadah mereka telah sempurna sehingga mereka menginginkan diri mereka dipuji..
- Membisikkan kepada ahli ibadah untuk beribadah dengan sembunyi sehingga tidak dapat mengamalkan dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain.
Agar setan tidak dapat masuk ke dalam diri manusia, maka hendaklah kita luruskan niat dalam beribadah, terutama pada shalat yang menjadi tiang agama. Allah Berfirman:
حَـٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ وَقُومُوا۟ لِلَّهِ قَـٰنِتِينَ
“Peliharalah semua salat dan salat wusṭa (Ashar). Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk.” [Q.S. Al-Baqarah [2]: 238]
Namun, kekhusyukan akan sulit dicapai jika hati kita tidak bersih. Untuk itulah, manusia semestinya banyak berdzikir sebagaimana Firman Allah:
فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَىٰكُمْ
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.” [Q.S. Muhammad [47]: 19]
Ayat ini menjelaskan urutan dzikir yang diawali dengan kalimat tauhid yang dilanjutkan dengan taubat, menunjukkan betapa pentingnya tauhid sebagai dasar dari Islam.
Allah juga mengingatkan dalam ayat lainnya bahwa tauhid dan menghindari syirik adalah kunci untuk mendapat pertemuan dengan-Nya di akhirat:
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا
“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [Q.S. Al-Kahfi [18]: 110]
Untuk itu, mestilah kita perkuat ketauhidan terhadap keesaan Allah Swt., karena pada akhirnya jika kalimat tauhid ini meresap ke dalam jiwa kita, maka sangatlah mudah untuk kita mengucapkannya meski ajal sudah sangat dekat. Harapannya adalah bahwa kita dapat tergolong seperti orang-orang yang disebutkan dalam hadis Rasulullah Saw. yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal:
مَنْ كَانَ آخِرَ كَلَامِهِ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa pun yang akhir ucapannya (ketika menjelang ajal) adalah kalimat ‘La ilaha illallah’ (Tiada Tuhan selain Allah) maka ia masuk surga.” [HR. Abu Daud, at-Thabrani, dan al-Baihaqi]