Intisari Kajian Tahsin Al-Qur’an bersama Ust. Soni Kosasih hari Jum’at tanggal 12 Desember 2025.

Idgham Mutamassilain
Idgham mutamassilain adalah hukum bacaan yang terjadi ketika dua huruf yang persis sama bertemu. Cara membacanya adalah dengan memasukkan bacaan ke huruf berikutnya tanpa ditahan.
Namun, dalam bacaan Al-Qur’an halaman 123 di atas terdapat beberapa contoh idgham mutamassilain yang khusus, misalnya pada bacaan ayat 95 berikut:

Perhatikan huruf mim (م) bersukun bertemu dengan mim bertasydid. Contoh di atas adalah kasus khusus idgham mutamassilain yang disebut sebagai idgham mimi. Bacaan di atas dibaca dengan ditahan berdengung selama dua harakat.
Contoh khusus lainnya muncul beberapa kali pada ayat ke-93:

Pada contoh tersebut, terlihat dua kasus. Di bagian belakang, terdapat huruf wau (و) sukun bertemu dengan wau biasa. Namun, karena wau sukun pertama menjadi penyebab mad, maka bacaan ini tidak masuk ke dalam idgham mutamassilain.
Sementara di bagian depan, terdapat huruf wau sukun bertemu dengan wau bertasydid. Beberapa ahli bacaan Al-Qur’an memiliki perbedaan apakah bacaan di atas digolongkan sebagai idgham mutamassilain. Hal ini dikarenakan pada bacaan اتَّقَوْا, huruf wau memiliki sifat harfu layyin yang akan dibahas berikutnya.
Harfu Layyin dan Mad Layyin
Harfu layyin, juga disebut sebagai harfu lin, adalah bacaan pada huruf wau sukun dan ya sukun yang seperti lembut dan mengayun karena didahului dengan huruf berharakat fathah.
Salah satu contoh yang sering dibaca terdapat pada ayat pertama Surat Al-Ma’un di Juz 30:
أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ
Cara membaca harfu layyin adalah cukup dengan diayunkan dan bacaan harus dimasukkan ke huruf berikutnya tanpa ditahan.
Pengecualian terjadi jika posisi harfu layyin berada di akhir ayat, maka berlaku hukum mad arid lissukun yang membolehkan bacaan wau sukun atau ya sukun dibaca dengan panjang dua hingga lima harakat. Contohnya terdapat pada ayat pertama Surat Quraisy.
لِإِيلَـٰفِ قُرَيْشٍ