Intisari Kajian Tafsir Al-Qur’an dan Fiqih Ibadah bersama Dr. H. Mad Ali, MA. hari Rabu tanggal 8 Oktober 2025.

Kekhusyukan dalam Shalat
Khusyuk secara bahasa memiliki kata dasar yang sama dengan khasyi’in yang berarti rendah hati. Dengan demikian, seseorang yang khusyuk dalam kehidupannya memiliki sifat bersahaja, mengikuti segala perintah Allah, dan menjauhi segala larangannya. Berpegang teguh di jalan-Nya dan menghindari jalan kesesatan.
Dalam konteks shalat, kekhusyukan ditandai dengan sifat yang merendahkan hati, mengikuti segala rukun dan sunahnya dengan sempurna. Tidak memikirkan hal yang lain, kecuali beribadah kepada Allah Yang Maha Besar dan Maha Agung. Shalat yang khusyuk akan memberi perasaan seakan-akan kita menghadapi Allah secara langsung.
Kunci Shalat Khusyuk: Ingat Mati
Kekhusyukan shalat adalah hal yang sangat penting, namun terkadang cukup sulit untuk dilakukan. Namun, Allah Swt. telah menjelaskan dalam firman-Nya:
وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَـٰشِعِينَ ٤٥ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَـٰقُوا۟ رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ ٤٦
(45) Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (46) (yaitu) mereka yang yakin, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. [QS. Al-Baqarah [2]: 45-46]
Dari ayat di atas, dijelaskan bahwa kunci dari kekhusyukan adalah keyakinan bahwa kita akan kembali kepada Allah melalui proses kematian. Sifat mengingat kematian ini yang akan menjadi peringatan bagi kita bahwa mungkin saja shalat tersebut adalah shalat terakhir kita, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah Saw. yang diriwayatkan dari Ibnu Majah:
إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ
“Apabila engkau mendirikan shalat maka shalatlah seolah-olah engkau akan berpisah (dari dunia/mati).” [HR. Ahmad dan Ibnu Majah]
Salah satu cara lain mencapai kekhusyukan dalam shalat adalah dengan memaknai bacaan-bacaannya. Setelah sebelumnya membahas do’a qunut, maka berikutnya akan dibahas tentang pemaknaan do’a iftitah.
Bacaan Do’a Iftitah
Ada banyak versi do’a iftitah yang dapat dibaca menurut riwayat dari Rasulullah Saw. Salah satu yang paling umum digunakan di Indonesia adalah bacaan berikut.
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan sore hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan kelurusan hati dan berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”
Allah Yang Maha Besar, Maha Suci, dan Maha Menciptakan
Do’a iftitah ini diawali dengan pujian kepada Allah Yang Maha Besar dan Maha Suci. Kebesaran Allah tiada batasnya dan kesucian Allah juga tidak terikat waktu. Inilah yang menunjukkan sifat sempurna-Nya. Maka sangat pantas jika Allah mendapatkan pujian sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya. Untuk itulah, kita manusia mestilah berserah diri kepada-Nya, dengan hanif (lurus hati) dan muslim (berserah diri).
Mengapa hal tersebut penting? Karena Allah adalah Yang Maha Menciptakan. Semua yang ada di langit dan bumi adalah ciptaan-Nya, termasuk segala aturan alam (fitrah) yang berlaku. Air hujan yang terjadi dari penguapan air-air di permukaan bumi; komposisi udara di bumi yang ideal untuk manusia; bagaimana bumi, matahari, dan bulan bergerak dalam orbitnya; hingga bagaimana seluruh alam semesta ini terus bergerak dan membesar.
Dengan segala Maha Kuasa-Nya ini, maka kita berikrar melalui do’a iftitah ini bahwa kita mengesakan Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun dan siapapun. Ikrar ini adalah yang pertama kita ucapkan.
Pada bagian berikutnya, kita juga berikrar bahwa segala ibadah kita, meliputi shalat, segala ibadah, hidup, dan mati kita hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua itu adalah karena demikian yang Allah perintahkan, maka kita berserah diri kepada-Nya dengan sepenuh hati sebagai seorang muslim.