
Jenis-jenis Idgham
Terdapat beberapa jenis idgham dalam kaidah bacaan Al-Qur’an. Dalam bahasan sebelumnya tentang bacaan gunnah, terdapat kaidah yang disebut dengan idgham bigunnah yang berlaku ketika nun sukun atau tanwin bertemu salah satu dari empat huruf: mim, nun, wau, atau ya.
Jenis-jenis idgham lainnya meliputi idgham bilagunnah, idgham mutamasilain, idgham mutaqaribain, dan idgham mutajanisain. Pada kajian kali ini, dibahas jenis idgham mutaqaribain yang contohnya dapat ditemukan pada halaman 112 Al-Qur’an di atas.
Idgham Mutaqaribain
Idgham mutaqaribain terjadi ketika suatu huruf yang bersukun bertemu dengan huruf yang memiliki makhraj yang sama, namun bukan huruf yang sama seperti halnya idgham mutamasilain.
Dua contoh huruf yang saling berhubungan dalam idgham mutaqaribain adalah huruf tho (ط) dan ta (ث). Contohnya bisa ditemukan pada bacaan pada Surat Al-Ma’idah ayat 28:

Perhatikan kata بَسَطْثَّ di mana kedua huruf saling bertemu.
Cara membaca idgham mutaqaribain bukan dengan mengkhususkan huruf pertama, misal dengan membunyikan qalqalah pada tho sukun pada penggalan di atas. Bukan pula dengan langsung masuk ke huruf kedua seperti ta pada contoh.
Idgham mutaqaribain dibaca dengan memberikan hak pada kedua huruf sesuai makhraj dan sifatnya. Dalam hal ini, huruf tho dan ta bermakhraj sama, yaitu pada lidah. Namun, tho dibaca dengan pangkal lidah sedikit mengangkat sehingga sifatnya lebih tebal dibandingkan ta di mana lidah lurus sehingga terbaca tipis. Maka, bacaan ini dilafadzkan dengan mengangkat pangkal lidah terlebih dahulu untuk memberi hak huruf tho sebelum meluruskannya sebagai sifat huruf ta.
Sifr
Hukum sifr adalah salah satu kaidah lain yang jarang ditemukan dalam Al-Qur’an. Kata sifr berasal dari bahasa Arab yang berarti nol. Istilah ini sesuai dengan bentuk tanda sifr ini yang memang seperti angka 0 (nol). Contohnya bisa ditemukan masih pada Surat Al-Ma’idah ayat 28.

Perhatikan tanda seperti angka 0 pada alif setelah huruf nun. Inilah tanda sifr pada Al-Qur’an.
Cara membaca sifr adalah dengan memendekkannya jika bacaan diteruskan (washal) atau memanjangkannya jika bacaannya dihentikan (waqaf) tepat pada posisi tersebut.
Dengan demikian, jika kita membaca dengan washal, maka menjadi maaaa ana bibaasith, namun jika diwaqafkan menjadi maaaa anaa. Panjang dari mad yang dihasilkan dari sifr ini adalah 2 (dua) harakat.