Intisari Kajian Hadis bersama Ustadz H. Zubair Alam, M.Pd., M. Hum hari Ahad tanggal 17 Agustus 2025.

Manusia Terlahir Sebagai Pemenang
Awal penciptaan manusia berawal dari air mani, sebagaimana Allah Swt. berfirman:
قُتِلَ ٱلْإِنسَـٰنُ مَآ أَكْفَرَهُۥ ١٧ مِنْ أَىِّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ ١٨ مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُۥ فَقَدَّرَهُۥ ١٩
(17) Celakalah manusia! Alangkah kufurnya dia! (18) Dari apakah Dia (Allah) menciptakannya? (19) Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya. [QS. Abasa [80]: 17-19]
Ayat di atas menyatakan manusia diciptakan cukup dari setetes mani. Dan kemudian, sains berbicara. Manusia diciptakan hanya dari satu sel sperma yang memenangkan balapan melawan jutaan sel sperma lainnya dalam satu semburan air mani. Rintangan demi rintangan dilalui sehingga sel sperma ini bisa menjadi yang pertama mencapai sel telur. Inilah hakikat manusia yang terlahir sebagai pemenang.
Bahkan setelah lahir, manusia tetaplah pemenang karena Allah Swt. menciptakan kita semua dengan sempurna.
لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍۢ
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya [QS. At-Tin [95]: 4]
Untuk itulah, manusia semestinya selalu memiliki mental pemenang. Mungkin dalam beberapa momen, kita merasa kalah misal dalam sebuah pertandingan atau ketika mengalami kegagalan. Namun, ingat satu hal. Kita bukan kalah sejadi-jadinya, melainkan mungkin itulah kemenangan yang tertunda. Kita mengalah untuk menang di kemudian hari.
Setan, Sang Penjajah
Di alam dunia, manusia yang sempurna dan menang ini akan diuji ketika sang penjajah hadir, setan. Maka wajarlah jika Allah Swt. berfirman dalam sebuah penggalan ayat Al-Qur’an:
إِنَّ ٱلشَّيْطَـٰنَ لِلْإِنسَـٰنِ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ
Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi manusia. [QS. Yusuf [12]: 5]
Setan akan selalu membujuk manusia ke jalan kesesatan, mengajak manusia menghindari jalan kebenaran. Maka inilah pertempuran yang nyata. Apakah manusia akan tetap menjadi pemenang, menaklukkan setan, atau justru menunduk pada hasutannya sehingga menjadi pecundang.
Yang Dipertahankan: Hati Kita
Bangsa kita berjuang melawan penjajah untuk mempertahankan kedaulatan negara kita, termasuk rakyat, wilayah, dan sumber dayanya. Lantas, apa yang setiap manusia perjuangkan ketika melawan setan? Yaitu kedaulatan dirinya sendiri yang tercermin dari hatinya.
Pada dasarnya, hati manusia adalah raja dari setiap manusia itu sendiri. Dari An Nu’man bin Basyir ra., Rasulullah Saw. bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati.” [HR. Muslim]
Allah Swt. adalah Dzat yang Mahakuasa membolak-balikkan hati manusia, sebagaimana dalam riwayat lain dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ
“Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” [HR. Muslim No. 2654]
Untuk itu, Rasulullah Saw. sering berdo’a agar hatinya selalu dalam jalan yang benar:
اَللَّهُمَّ مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ
“Ya Allah, Tuhan yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku ini pada agama-Mu”