Intisari Kapita Selekta hari Sabtu tanggal 3 Januari 2026.
Penceramah: Dr. H. Bambang Budiono

Tahun Baru Masehi
Ketika masuk ke bulan Desember, tidak dapat dipungkiri bahwa seluruh manusia di penjuru dunia akan mempersiapkan datangnya tahun baru. Ada yang menyalakan kembang api, bakar-bakaran, atau sederhananya dengan membuat resolusi pribadi.
Namun, banyak yang belum tahu sejarah tentang tanggal 1 Januari sebagai Tahun Baru Masehi. Lantas, apakah Tahun Baru Masehi ini?
Sebelumnya, Tahun Baru Masehi awalnya dirayakan pada bulan pertama musim semi, yaitu pada sekitar bulan Maret. Hal ini dapat dilihat dari berbagai artefak berusia sekitar 4000 tahun yang ditinggalkan oleh suku Babilonia di Irak. Bulan Maret menjadi awal siklus pertanian serta waktu untuk penobatan raja baru. Maret yang datang dengan musim semi menjadi pertanda hidupnya kembali bumi setelah musim dingin yang mematikan.
Awal penetapan 1 Januari sebagai awal tahun dilakukan pada sekitar 4 dekade sebelum Masehi ketika salah satu kaisar Romawi terkenal, Julius Caesar menggeser tahun baru ke tanggal 1 Januari. Keputusan ini diambil sebagai penghormatan terhadap dewa Romawi, Janus, yang wajahnya menghadap ke masa depan dan masa lalu.
Tahun Baru Secara Syariat
Menurut syariat Islam, tanggal 1 Januari bukanlah sebuah hari besar, karena tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah umat muslim. Penanggalan Masehi atau Gregorian memang saat ini menjadi standar kalender internasional sehingga tidak dapat dihindari.
Ulama berbeda pendapat mengenai hukum merayakan Tahun Baru Masehi. Pendapat pertama dengan tegas melarang perayaan Tahun Baru Masehi dengan dasar historis. Mengingat tanggal 1 Januari adalah penghormatan terhadap dewa Janus, maka merayakannya sama saja dengan mengagungkan dewa Romawi yang telah mengarah kepada syirik. Allah Swt. telah jelas melarang umat muslim mengikuti kaum lain yang tidak sesuai dengan syariat.
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ ٱلْيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَـٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم بَعْدَ ٱلَّذِى جَآءَكَ مِنَ ٱلْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّۢ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠
Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.
[QS. Al-Baqarah [2]: 120]
Perilaku seperti ini disebut dengan tasyabbuh sebagaimana juga telah Rasulullah Saw. peringatkan melalui sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”
[HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031]
Di sisi lain, sebagian ulama memperbolehkan perayaan Tahun Baru Masehi. Dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia, mengucapkan “Selamat Tahun Baru” tidaklah melanggar syariat. Perayaan Tahun Baru Masehi juga tidak sepenuhnya dilanggar selama tidak dilakukan secara berlebihan.
Fatwa dari majelis mufti agung Mesir juga memperbolehkan perayaan Tahun Baru Masehi. Dasarnya adalah bahwa dalam budaya umat muslim terkini sering juga dilakukan peringatan untuk hari-hari besar Islam seperti Tahun Baru Hijriyah, Hari Asyura, Maulid Nabi, Isra Mi’raj, dan Nuzulul Qur’an. Maka, perayaan hari-hari bersejarah sebagaimana demikian sifatnya mubah, tidak berpahala dan tidak pula berdosa.
Meski demikian, terdapat sebuah catatan khusus perihal Tahun Baru Masehi. Kembali kepada sejarah tanggal 1 Januari, maka perayaan tersebut harus dibatasi agar tidak mengarah kepada pengagungan dewa Janus sebagaimana diniatkan oleh Julius Caesar dahulu. Inilah yang membedakan dengan Tahun Baru Hijriyah yang mengacu pada tahun hijrahnya Rasulullah Saw. sehingga merayakannya sama dengan mentadaburi hijrah tersebut.
Perbedaan Kalender Hijriyah dan Masehi
Apa persamaan antara kalender Hijriyah yang digunakan umat muslim dengan kalender Masehi yang umumnya dipakai di seluruh dunia saat ini? Yaitu keduanya didasarkan pada pergerakan planet dan satelit pada orbitnya. Allah Swt. telah berfirman:
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلشَّمْسَ ضِيَآءًۭ وَٱلْقَمَرَ نُورًۭا وَقَدَّرَهُۥ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ ٱلْـَٔايَـٰتِ لِقَوْمٍۢ يَعْلَمُونَ ٥
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
[QS. Yunus [10]: 5]
Hal pertama membedakan keduanya adalah pergerakan objek yang menjadi acuan. Kalender Hijriyah bersifat qamariah, yaitu berdasar pada revolusi bulan terhadap bumi dengan rata-rata 354 hari per tahun. Adapun kalender Masehi bersifat syamsiah, mengacu pada revolusi bulan terhadap matahari dengan hitungan waktu sekitar 365,24 hari per tahun. Dengan perbedaan sekitar 11 hari, maka kalender Hijriyah akan semakin maju terhadap kalender Masehi setiap tahunnya. Selain itu, kalender Masehi menetapkan tahun kabisat secara reguler setiap empat tahun sekali.
Hal kedua adalah patokan hari baru. Tanggal Masehi bergeser pada tengah malam pukul 00.00. Adapun tanggal Hijriyah bergeser pada saat matahari terbenam atau waktu Maghrib. Di sisi lain, penetapan bulan baru di kalender Masehi secara sederhana terjadi ketika hitungan tanggal telah melewati batasnya. Setelah 31 Januari adalah 1 Februari, setelah 28 Februari pada tahun biasa adalah 1 Maret, dan sebagainya. Lain halnya dengan kalender Hijriyah yang mana bulan baru harus diamati melalui munculnya hilal setelah Maghrib.
Jika Kita Ditanya: Mengapa Merayakan Tahun Baru?
Jawaban di atas memiliki jawaban yang sederhana. Tahun baru hanyalah pergantian angka tahun pada kalender yang pada dasarnya adalah pergantian bulan dan pergantian hari yang biasa terjadi. Di sisi lain, kalender Masehi bukanlah patokan resmi dalam syariat Islam, melainkan kalender Hijriyah.
Bahkan syariat membatasi perayaan Tahun Baru Islam agar tidak berlebihan, seharusnya Tahun Baru Masehi tidak lebih dirayakan daripada itu.
Yang terpenting dari setiap tahun baru adalah bagaimana kita terus memperbaiki diri setiap harinya sesuai sabda Rasulullah Saw.
من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل امسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من امسه فهو ملعون.( رواه الحاكم)
“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.”
[HR. Al-Hakim]