Intisari Kajian Tafsir Al-Qur’an dan Fiqih Ibadah bersama Dr. H. Mad Ali, MA. hari Rabu tanggal 27 Agustus 2025.

Hukum Do’a Qunut
Menurut mazhab Imam Syafi’i, do’a qunut termasuk dalam sunah ab’ad, yaitu sunah yang mendekati rukun shalat. Secara umum, sunah ab’ad terdiri atas melakukan tasyahud awal dan do’a qunut. Sunah ab’ad ini jika ditinggalkan maka shalatnya masih sah, namun dianjurkan melakukan sujud sahwi jika terlewat.
Penetapan sunah ini didasarkan pada hadis Rasulullah Saw. yang telah dijelaskan pada kajian sebelumnya:
مَازَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Senantiasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqunut pada shalat Shubuh sehingga beliau berpisah dari dunia (wafat).” [HR. Ahmad, al-Hakim, dan al-Baihaqi]
Salah satu cara bijak dalam menanggapi perbedaan hukum do’a qunut adalah dengan mengikuti tradisi pada jama’ah yang terkait. Jika jama’ah tersebut terbiasa membaca qunut, maka dianjurkan untuk dibaca, dan sebaliknya jika tidak terbiasa maka lebih baik tidak dibaca..
Pada dasarnya, do’a qunut dianjurkan karena makna yang terkandung di dalamnya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya pada bagian pertama dan kedua. Maka, pada bagian ketiga ini akan melanjutkan pembahasan makna do’a qunut.
Kehormatan Orang yang Dicintai Allah
وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ
Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin/cintai.
Allah Swt. memimpin dan membimbing hamba-hamba-Nya untuk selalu mengikuti hukum-hukum-Nya. Dan barangsiapa dari hamba-Nya itu yang melaksanakannya, maka Allah akan mencintainya. Makna dari kata وَالَيْتَ juga dapat berarti melindungi, yaitu bahwa siapapun yang dilindungi oleh Allah, maka tidak akan pernah hina.
Hal inilah yang dibuktikan oleh Rasulullah Saw., bagaimana para kaum kafir sering mencoba untuk menghinakan beliau, namun tidak pernah berhasil. Justru dengan mengikuti hukum Allah dan dengan cinta dan perlindungan-Nya, Rasulullah Saw. menjadi manusia paling terhormat, paling mulia sepanjang sejarah.
Kehinaan Orang yang Dimusuhi Allah
وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ
Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya.
Ini adalah kebalikan dari kalimat sebelumnya, yaitu bahwa siapapun yang Allah musuhi maka dia tidak akan pernah mencapai derajat kemuliaan. Sebaliknya, orang itu bisa terjatuh hingga derajat sehina-hinanya.
Inilah yang terjadi pada Fir’aun, orang yang memusuhi Allah dengan mengaku dirinya sebagai tuhan. Pada akhir hidupnya, Allah menghinakan Fir’aun dengan menenggelamkannya di tengah Laut Merah. Lebih dari itu, Allah awetkan jenazahnya sehingga masih betul-betul utuh hingga saat ini. Semua itu sebagai pelajaran, bahwa Allah Mahakuasa untuk menghinakan siapapun yang memusuhi-Nya.
Maha Suci dan Maha Tinggi Allah
تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau.
Kalimat ini merupakan penyangkalan dari pernyataan kaum kafir yang seringkali meremehkan Allah sebagai Tuhan umat manusia. Dalam kalimat ini, disebutkan bahwa Allah Maha Suci dan Maha Tinggi. Ini hanyalah dua dari total 99 sifat-sifat Allah (Asma’ul Husna).
Allah Maha Sempurna dengan Asma’ul Husna-Nya itu, maka jangan mau ditipu oleh para kaum kafir dan musyrik. Bagaimana manusia seringkali lebih percaya dukun dibandingkan Allah. Lebih memilih mendapat wejangan peramal daripada shalat istikharah. Padahal dukun tidak banyak tahu, sementara Allah Maha Tahu. Untuk itu, mestilah kita lebih percaya dengan segala keputusan Allah dan tidak mengotori kesucian-Nya dengan mengikuti jalan kemusyrikan.
Syukur atas Segala Takdir Allah
فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ
Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan.
Kalimat ini bermakna sangat dalam, yaitu bahwa Allah Maha Terpuji atas segala keputusan-Nya. Ini adalah hal yang mudah jika kita mendapat takdir yang baik. Contoh, bersyukur atas nikmat kekayaan dan jabatan. Namun, bagaimana jika sebaliknya? Inilah yang lebih sulit. Sedikit orang yang bersyukur jika mendapat musibah, padahal mungkin itu adalah keputusan terbaik yang Allah tetapkan.
Untuk itulah, segala puji kita bagi Allah tidak boleh memiliki syarat dan ketentuan. Baik itu takdir baik atau buruk, karena Allah Swt. berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [QS. Al-Baqarah [2]: 216]
Ingatlah bahwa mungkin takdir buruk yang Allah tetapkan hari ini mungkin adalah jalur kita menuju takdir terbaik di masa depan. Allah mungkin menjatuhkan kita agar menjadi pelajaran sehingga kebangkitan kita nanti jauh lebih melesat.
Taubat Kepada Allah
وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ
Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau.
Do’a qunut ditutup dengan taubat kepada Allah, memohon ampun dari dosa-dosa yang telah dilakukan, baik disengaja ataupun tidak.