Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 17 Mei 2026.

Dzulhijjah, Bulan Istimewa
Kedatangan bulan Dzulhijjah haruslah disambut dengan gembira, karena keistimewaannya yang luar biasa. Seberapa spesialnya bulan terakhir dalam kalender Hijriyah ini dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas:
مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَالِحُ فِيْهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَامِ العَشْرِ وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Tidak ada hari-hari yang amal saleh lebih Allah cintai dibandingkan dengan sepuluh hari ini (di bulan Dzulhijjah). Tidak pula jihad di jalan Allah. Kecuali seorang yang berangkat (jihad) dengan membawa jiwa dan hartanya, kemudian tidak ada yang kembali sedikit pun darinya.”
[HR. Bukhari no. 989]
Ada apa saja yang spesial di bulan Dzulhijjah? Ada Idul Adha, salah satu hari raya umat Islam. Dalam bulan ini dikhususkan untuk pelaksanaan ibadah haji di Makkah dan ibadah qurban di tempat lainnya. Ada hari yang sangat spesial, yaitu Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Dijelaskan Dua Ayat Berturut-Turut
Fiqih perihal keistimewaan dan ibadah di bulan Dzulhijjah dijelaskan dalam setidaknya dua surat dalam Al-Qur’an dengan cara dijelaskan dalam dua ayat berturut-turut.
Pertama, dalam Surat Al-Fajr:
وَٱلْفَجْرِ ١ وَلَيَالٍ عَشْرٍۢ ٢
(1) Demi fajar, (2) demi malam yang sepuluh.
[QS. Al-Fajr [89]: 1-2]
Dua ayat di atas memiliki beberapa tafsir. Salah satu di antaranya adalah bahwa waktu fajar yang dimaksud dalam ayat pertama adalah Shubuh di hari Idul Adha. Adapun malam yang sepuluh adalah seluruh sepuluh malam pertama Dzulhijjah.
Lebih lanjut, fiqih perihal qurban pada hari Idul Adha dijelaskan dengan sangat detail pada Surat Al-Kautsar:
إِنَّآ أَعْطَيْنَـٰكَ ٱلْكَوْثَرَ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ ٢
(1) Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. (2) Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).
[QS. Al-Kautsar [108]: 1-2]
Pada ayat pertama, Allah menjelaskan tentang nikmat yang banyak kepada Rasulullah Saw. Beberapa tafsir mengartikan “Al-Kautsar” sebagai telaga yang diberikan kepada umat Rasulullah Saw. di akhirat. Airnya dikatakan sangat segar dan nikmat, menjadi pelega setelah beratnya Padang Mahsyar.
Selanjutnya, ayat kedua mensyariatkan shalat. Salah satu tafsir dari shalat dalam hal ini adalah shalat Idul Adha. Barulah setelah melaksanakan shalat tersebut, maka qurban boleh mulai dilakukan.
Momen Kesempurnaan Islam
Banyak orang mengingat kapan Al-Qur’an pertama kali turun, yaitu pada bulan Ramadhan dengan datangnya wahyu QS. Al-‘Alaq ayat 1-5. Namun, banyak yang lupa kapan Al-Qur’an terakhir kali turun.
Wahyu terakhir turun kepada Rasulullah Saw. pada khutbah Jum’at saat wukuf Arafah, 9 Dzulhijjah 10 Hijriyah, yaitu ketika pelaksanaan haji wada. Ayat pamungkas tersebut adalah penggalan ayat ketiga dalam Surat Al-Ma’idah:
ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَـٰمَ دِينًۭا ۚ
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.
[QS. Al-Ma’idah [5]: 3]
Inilah momen paling spesial dalam bulan Dzulhijjah. Islam mencapai kesempurnaan dengan turunnya ayat di atas. Risalah yang turun dari bulan Ramadhan 13 tahun sebelum Hijriyah akhirnya lengkap sudah setelah 23 tahun. Maka pantaslah jika Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang sangat istimewa, bahkan bisa setidaknya bersaing dengan keutamaan bulan Ramadhan.
Untuk itu, patutlah semua muslim bersyukur bahwa bulan Dzulhijjah akan segera hadir. Isi hari-harinya dengan amal terbaik. Puasa sunah, qurban, atau bahkan berhaji jika mampu.