Intisari Kajian Tafsir Al-Qur’an dan Fiqih Ibadah bersama Dr. H. Mad Ali, MA. hari Rabu tanggal 1 April 2026.

Islam: Agama yang Lurus
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًۭا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ٣٠
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
[QS. Ar-Rum [30]: 30]
Ayat di atas menjelaskan tentang fitrah manusia sebagai ciptaan Allah. Dalam konteks ayat ini, fitrah manusia adalah untuk mengikuti naluri dalam beragama menuju ketauhidan, yaitu meyakini bahwa Allah adalah Yang Maha Esa. Dengan demikian, manusia yang tidak mengikuti ajaran tauhid yang Allah tetapkan melalui agama Islam, maka itu berarti dirinya telah menyimpang dari fitrahnya.
Dari pengertian di atas, maka jelas bahwa seorang manusia yang telah kembali ke fitrahnya pada Idul Fitri harus terus menjaganya. Fitrah tidak terbatas hanya selama Ramadhan dan berakhir di Idul Fitri, melainkan haruslah bertahan seumur hidupnya. Inilah sifat konsisten yang dikenal dalam Islam sebagai istiqomah.
Istiqomah: Jalan Menuju Surga
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ ٣٠
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.””
[QS. Fussilat [41]: 30]
Allah menjanjikan bagi mereka yang senantiasa istiqomah dalam menjalankan agama Islam yang lurus dengan surga. Inilah yang menunjukkan betapa pentingnya untuk selalu konsisten dan istiqomah baik sebelum, saat, dan sesudah Ramadhan.
Sering kita lihat kondisi di mana seseorang hanya beribadah lebih di bulan Ramadhan dan ketika selesai Idul Fitri maka dirinya kembali ke “setelan pabrik”. Ini menunjukkan kegagalan Ramadhan dalam mendidik seorang hamba untuk istiqomah.
Di sisi lain, ada kelompok lain yang beristiqomah, sayangnya dalam hal negatif. Bahkan kehadiran Ramadhan pun tidak mampu membuat dirinya sadar untuk beribadah. Maka inilah konsistensi dalam keburukan yang dampaknya berkebalikan dari yang dijelaskan pada ayat di atas, yaitu mereka inilah yang akan terjerumus ke dalam neraka.
Allah Yang Maha Konsisten
وَمَا مِن دَآبَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّۭ فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ ٦
“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauḥ Maḥfūẓ).”
[QS. Hud [11]: 6]
Allah adalah Tuhan Yang Maha Konsisten dalam mengatur alam semesta dan seluruh isinya. Ayat di atas menjelaskan bagaimana Allah selalu menjamin rezeki semua makhluk hidup ciptaan-Nya, baik manusia, hewan, hingga tumbuhan. Ini hanyalah satu dari banyak konsistensi Allah sebagai Yang Maha Konsisten dan Yang Maha Mengatur.
Allah selalu konsisten mengatur pergerakan semua benda di langit dan bumi, memastikan tidak ada yang keluar dari jalur. Konsistensi Allah juga terlihat dari selalu adanya kelahiran dan kematian secara terus-menerus.
Demi mempertahankan konsistensi sesuai fitrah yang telah Allah tetapkan tersebut, maka hadirlah Islam dengan segala syariat dan aturannya. Fitrah itu akan terus berada dalam jalur yang benar selama syariat Islam dijalankan dan Allah akan selalu membantu hamba-Nya yang istiqomah dalam hal demikian. Sebaliknya, mereka yang melanggar syariat akan keluar dari fitrah yang ditetapkan Allah sehingga akan tersesat dalam hidupnya.