Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 18 Januari 2026.

Kegembiraan dari Rahmat Allah
قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌۭ مِّمَّا يَجْمَعُونَ ٥٨
Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
[QS. Yunus [10]: 58]
Pada ayat di atas, Allah berfirman bahwa karena karunia dan rahmat-Nya manusia itu mendapat kegembiraan yang sejati. Beberapa mufasir mengartikan rahmat Allah dalam ayat ini adalah hadirnya bulan Ramadhan. Maka, ayat ini menjelaskan tentang kehadiran Ramadhan sebagai sebuah rahmat yang luar biasa, bahkan lebih besar dari dunia dan seluruh isinya.
Semestinya dengan semakin mendekatnya Ramadhan, muslim haruslah semakin berbahagia. Dan salah satu tanda bahwa Ramadhan akan tiba adalah dengan datangnya bulan Sya’ban, menandakan satu bulan menuju bulan penuh keberkahan tersebut.
Membiasakan Diri di Bulan Sya’ban
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ الْأَيَّامَ يَسْرُدُ حَتَّى يُقَالَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ الْأَيَّامَ حَتَّى لَا يَكَادَ أَنْ يَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ مِنْ الْجُمُعَةِ إِنْ كَانَا فِي صِيَامِهِ وَإِلَّا صَامَهُمَا وَلَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا يَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ لَا تَكَادُ أَنْ تُفْطِرَ وَتُفْطِرَ حَتَّى لَا تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلَا فِي صِيَامِكَ وَإِلَّا صُمْتَهُمَا قَالَ أَيُّ يَوْمَيْنِ قَالَ قُلْتُ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ قُلْتُ وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Rasulullah saw berpuasa beberapa hari berturut-turut, sampai-sampai dikatakan, beliau tidak pernah berbuka. Beliau juga berbuka beberapa hari hingga hampir tidak puasa kecuali dua hari dalam sepekan, yaitu dua hari yang biasa beliau gunakan untuk berpuasa, jika tidak (berpuasa terus menerus), maka beliau akan berpuasa dua hari itu. Tidaklah beliau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya’ban, Aku bertanya; ‘Wahai Rasulullah, engkau berpuasa seakan-akan engkau tidak pernah berbuka dan engkau berbuka seakan engkau tidak berpuasa kecuali dua hari saja, yaitu Senin dan Kamis.” Beliau bersabda: “Itulah dua hari yang amalan seorang hamba ditampakkan di hadapan Rabb semesta alam, aku senang ketika amalanku ditampakkan, diriku sedang berpuasa.” Usamah melanjutkan; kataku selanjutnya; “Dan kami tidak melihat engkau banyak berpusa kecuali di bulan Sya’ban?.” Beliau bersabda: “Itulah bulan yang orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.”
[HR. Ahmad dan An-Nasa’i]
Hadis di atas menjelaskan posisi bulan Sya’ban yang terletak di antara bulan haram yaitu Rajab dan bulan suci Ramadhan. Maka, untuk memastikan agar beliau tidak lalai dan justru semakin siap untuk menyambut Ramadhan, Rasulullah Saw. memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Pada bulan ini pula amalan manusia dihadapkan kepada Allah Swt. Maka, tidak ada momen terbaik untuk amal-amal tersebut dipersembahkan kepada-Nya kecuali ketika hamba tersebut sedang berpuasa.
Rasulullah terbiasa melakukan puasa selama bulan Sya’ban, namun tidak penuh dalam satu bulan seperti pada bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah ra.:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa terus menerus hingga kami berkata, beliau tidak pernah berbuka. Beliau juga pernah berbuka terus menerus hingga kami berkata, bahwa beliau tidak pernah berpuasa. Aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melengkapi puasanya satu bulan penuh kecuali bulan Ramadan. Dan aku tidak melihatnya banyak berpuasa dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.”
[HR. Bukhari no. 1833]
Apa itu Bulan Sya’ban?
Bulan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender Islam Hijriyah. Nama Sya’ban diambil dari kosakata Arab yang berarti “keluar berkelompok-kelompok.” Mereka keluar untuk mencari hadiah dari para raja dan pemegang kekuasaan.
Mengingat bahwa bulan Rajab sebelumnya adalah bulan haram, kelompok-kelompok tersebut tidak dapat berperang atau bahkan mengeluarkan senjata selama bulan tersebut. Maka setelah selesainya Rajab dan datang bulan berikutnya, mereka akhirnya keluar dengan membawa senjata kepada para raja untuk mendapatkan hadiah.
Bulan Sya’ban menurut dalil yang sahih bukanlah bulan haram dan tidak mencantumkan keistimewaan khusus kecuali menurut kedua hadis yang sebelumnya telah dijelaskan.
Hikmah Berpuasa di Bulan Sya’ban
Sesuai tuntunan Rasulullah Saw., salah satu amalan yang baik untuk diperbanyak di bulan Sya’ban adalah dengan berpuasa. Namun, perlu diperhatikan bahwa puasa yang dilakukan tidak boleh dikhususkan untuk hari-hari tertentu terlebih ketika Ramadhan sudah sangat dekat. Memperbanyak puasa di bulan Sya’ban tetap harus mengikuti aturan puasa-puasa sunah yang sudah ditetapkan, misalnya dengan melakukan puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, atau bahkan puasa Daud.
Diharapkan bahwa dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, maka kita akan semakin siap untuk memasuki bulan Ramadhan. Puasa tidak akan lagi terasa seperti beban berat, melainkan sebuah kebiasaan yang berlandaskan ketaatan kepada Allah Swt. Di sisi lain, dengan diangkatnya amalan kita dalam setahun di bulan Sya’ban, diharapkan dengan berpuasa maka amalan kita akan sampai ke hadirat-Nya dalam situasi terbaik yang mungkin.