Intisari Khutbah Jum’at tanggal 9 Januari 2026.
Khotib: Prof. Dr. H. A. Sofyan Sauri, M.Pd.

Rajab, Bulan Yang Istimewa
Rajab adalah bulan terjadinya Isra’ Mi’raj, peristiwa di mana Rasulullah Saw. menerima perintah shalat secara langsung dari Allah Swt. Hal ini menegaskan betapa pentingnya shalat. Dalam kasus khusus saat ini, shalat Jum’at, Allah telah memerintahkan hamba-Nya secara langsung dalam Surat Al-Jumu’ah.
Melalui seruan shalat ini, akan terlihat mana manusia yang beriman dan mana yang tidak. Mereka yang beriman pastilah telah mempersiapkan shalat Jum’at bahkan dari beberapa hari sebelumnya. Adapun mereka yang tidak beriman akan merasa malas dan terpaksa meskipun adzan dikumandangkan dengan seindah dan sekencang apapun juga.
Di sisi lain, Rajab juga adalah bulan taubat, sebuah kesempatan bagi manusia untuk menghapus dosanya dengan hal sesederhana kalimat istighfar terpendek sekalipun, “Astaghfirullah.”
Rajab juga adalah salah satu dari empat bulan haram, terpisah dari tiga lainnya yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Namun, Rajab memiliki keistimewaan sebagai pintu gerbang dari bulan yang sangat mulia, yaitu Ramadhan.
Demi Waktu: Empat Golongan Yang Beruntung
Tidak terasa Rajab telah tiba kembali dan Ramadhan telah menjelang. Demikian pula datangnya tahun baru 2026 Masehi. Yang perlu menjadi renungan adalah apa yang telah dipersiapkan untuk masa depan. Memang, merencanakan masa depan itu sulit dan penuh ketidakpastian. Namun, hal itu lebih baik dibandingkan kebanyakan orang-orang berumur yang terpaku pada masa lalu yang jelas-jelas tidak akan pernah kembali lagi.
Allah Swt. telah mengingatkan manusia bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Melewatkannya begitu saja adalah sebuah kerugian besar sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Ashr:
وَٱلْعَصْرِ ١ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ ٣
(1) Demi masa. (2) Sungguh, manusia berada dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
[QS. Al-Ashr [103]: 1-3]
Dalam surat di atas, diberikan empat pengecualian, yaitu mereka yang justru akan semakin beruntung seiring berjalannya waktu.
1. Orang Yang Beriman
Orang-orang yang beriman memiliki dasar tauhid, percaya bahwa Allah itu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Allah itu Maha Perkasa, Maha Kuasa, dan Maha Menciptakan seluruh alam jagat raya ini. Tentu, tauhid dan iman ini tidak cukup hanya disebutkan dengan mulut. Ini adalah amalan hati yang harus dihayati.
2. Orang Yang Mengerjakan Amal Saleh
Setelah menyatakan iman, maka buktikan dengan amal saleh. Prioritaskan amal yang dapat membantu keluarga, saudara, tetangga, dan siapapun juga dengan berlandaskan untuk Allah semata (lillahi ta’ala).
3. Orang Yang Saling Menasihati Dalam Kebaikan
Sangat penting untuk saling berwasiat, menasihati dalam kebaikan. Namun, memberi nasihat tidak selalu mudah. Akan ada saja manusia yang menolak ajakan, bahkan untuk kebaikan sekalipun. Mereka tetap tidak bisa menerima kebenaran meskipun tidak ada niat untuk menyalahkan dari diri kita sendiri yang hanya sekadar mengajak.
4. Orang Yang Saling Menasihati Dalam Kesabaran
Jika kita melihat contoh Rasulullah Saw. ketika berdakwah untuk menyebarkan Islam, beliau tidak jarang menghadapi cacian, makian, bahkan kekerasan secara fisik. Namun, beliau tidak melawan ataupun membalas. Alasannya sederhana, karena beliau tidak mau menimbulkan permusuhan. Akan lebih baik jika rasa sakit itu beliau tahan sendiri, tidak perlu dilampiaskan kepada orang lain. Sifat Rasulullah Saw. inilah yang patut menjadi teladan kita perihal kesabaran.
Memang sabar itu pahit ketika dilakukan, namun buah dan manfaatnya itu akan manis. Jika terjebak dalam debat yang tidak berujung, lebih baik diam karena pepatah mengatakan diam itu emas. Berkatalah yang baik atau diamlah.
Hanya keempat golongan itulah yang akan mendapatkan keberuntungan seiring berjalannya waktu.
Memperbanyak Taubat
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Rajab adalah bulan taubat. Maka hendaklah memperbanyak taubat di bulan ini meskipun dengan kalimat paling sederhana. Namun, alangkah baiknya jika taubat dilaksanakan dengan maksimal, yaitu taubat nasuha.
Ibnu Qayyim mendefinisikan taubat sebagai penyesalan terhadap perbuatan maksiat yang telah dilakukan, meninggalkannya ketika ingat saat sedang melakukannya, serta berkeinginan keras untuk tidak mengulanginya kembali. Ulama lainnya, Imam Al-Ghazali menempatkan taubat sebagai ibadah hati, mendekatkan kalbu kepada Allah Swt. Merasa dengan sungguh-sungguh menyesal atas dosa yang dilakukan, sebagaimana firman-Nya:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةًۭ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَـٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ ٨
Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”
[QS. At-Tahrim [66]: 8]
Bahkan para nabi pun bertaubat, termasuk Rasulullah Saw. yang sudah dijamin masuk surga masih bertaubat tidak kurang dari 100 kali per hari. Maka apakah kita, manusia yang belum mendapat jaminan itu seharusnya lebih banyak bertaubat?
Maka, pada momentum bulan Rajab ini, marilah kita terus memperbanyak taubat dengan sebenar-benarnya, mudah-mudahan Allah mengampuni kita semua.