Intisari Kajian Tafsir Al-Qur’an dan Fiqih Ibadah bersama Dr. H. Mad Ali, MA. hari Rabu tanggal 24 Desember 2025.

Keutamaan Dzikir Setelah Shalat
Dalam suatu waktu, Rasulullah Saw. ditanya oleh sahabat Abu Umamah sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkannya.
عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ: أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ ؟ قَالَ: جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ .رواه الترمذي
Dari Abu Umamah r.a., ia berkata; Rasulullah saw. ditanyakan, “Wahai Rasulullah, doa apa yang paling didengar?” Beliau menjawab, “Doa di tengah malam terakhir, serta dzikir setelah shalat 5 waktu.”
[HR. At-Tirmidzi]
Hadis di atas menunjukkan bagaimana mustajabnya berdoa setelah shalat dengan tingkatan yang sama seperti shalat pada pertengahan malam terakhir.
Lantas, bagaimana tuntunan Rasulullah Saw. dalam berdzikir setelah shalat?
Memohon Ampun
Pada awal dzikir tepat sesaat setelah selesainya shalat, Rasulullah memulai dengan memohon ampun sebagaimana diberikan pada hadis dari Tsauban ra.:
عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا وَقَالَ « اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ ». قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلأَوْزَاعِىِّ كَيْفَ الاِسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ. رواه مسلم.
Dari Tsauban r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. ketika selesai shalat meminta ampunan tiga kali dan berkata Allahumma Antas Salam wa minkas Salam tabaarakta ya dzal jalaali wal ikram (Ya Allah Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan).” Kata Walid, maka kukatakan kepada Auza’i, “Lalu bagaimana bila hendak meminta ampunan?” Jawabnya, “Engkau ucapkan saja astaghfirullah astaghfirullah (aku meminta ampunan kepada Allah aku meminta ampunan kepada Allah).
[HR. Muslim]
Beberapa jumhur ulama bersepakat bahwa lafadz dzikir di atas tidak mutlak, melainkan masih boleh ditambahkan. Sebagai contoh, istighfar boleh dibaca lebih dari tiga kali serta menggunakan lafadz “Astaghfirullahal-azhiim” lebih baik dikarenakan menggunakan nama-nama Allah (Asma’ul Husna) sebagaimana firman-Nya:
هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَـٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ ٢٤
Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah (Asma’ul Husna). Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
[QS. Al-Hasyr [59]: 24]
Doa Selamat
Dari hadis di atas, terdapat lafadz doa selamat yang dibaca setelah istighfar. Dalam redaksi hadis di atas, diberikan lafadz doa sebagai berikut.
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ
“Ya Allah Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan.”
Sama halnya dengan istighfar, jumhur ulama memperbolehkan untuk lafadz doa di atas disempurnakan. Salah satu contoh lafadz yang biasa dibaca adalah sebagai berikut.
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُودُ السَّلَامُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Ya Allah, Engkau adalah Dzat Yang Maha Sejahtera, dari-Mu datang segala kesejahteraan, dan kepada-Mu kembali segala kesejahteraan. Hidupkanlah kami, wahai Rabb kami, dengan kesejahteraan, dan masukkanlah kami ke dalam surga, negeri keselamatan. Maha berkah Engkau, wahai Tuhan kami, dan Maha Tinggi Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.”