Intisari Kajian Tafsir Al-Qur’an dan Fiqih Ibadah bersama Dr. H. Mad Ali, MA. hari Rabu tanggal 1 Oktober 2025.

Intisari Surat Al-Muthaffifin
Surat Al-Muthaffifin adalah salah satu surat yang maknanya sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan surat ini menjelaskan hubungan muamalah antar manusia dengan penekanan utama pada kejujuran dan tanggung jawab. Arti dari Al-Muthaffifin adalah “orang-orang yang curang,” yang merupakan salah satu contoh manusia yang tidak jujur dan tidak bertanggung jawab.
Surat ini menekankan batasan dan aturan pada kehidupan manusia yang tujuannya adalah untuk menciptakan kerukunan. Dalam surat ini juga dijelaskan ancaman bagi mereka yang melanggar aturan-aturan tersebut serta imbalan bagi mereka yang menaatinya.
Orang-Orang yang Curang
وَيْلٌۭ لِّلْمُطَفِّفِينَ ١ ٱلَّذِينَ إِذَا ٱكْتَالُوا۟ عَلَى ٱلنَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ٢ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ ٣
(1) Celakalah orang-orang yang curang. (2) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, (3) dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.
Ayat ini menjelaskan ancaman kecelakaan yang nyata bagi manusia yang curang. Makna curang dalam hal ini adalah mengurangi. Pada konteks ini, kecurangan yang dimaksud adalah mengurangi hak orang lain. Ini tidak terlepas hanya pada timbangan dalam perdagangan, tapi juga termasuk dalam konteks lain secara umum.
Seorang bos dan karyawannya, misal, sudah menyetujui nominal gaji tertentu per bulannya. Jika kemudian bos tersebut mengurangi gaji karyawannya tanpa alasan yang konkret dan telah disepakati sebelumnya, maka bos itu termasuk orang yang curang.
Menariknya, sesuai lafadz ayat kedua, mereka yang curang ini enggan untuk dicurangi. Hal ini karena mereka ingin memperoleh sebanyak-banyaknya, meskipun itu artinya dengan mengambil hak orang lain. Kita sering melihat misalnya dari seorang pedagang. Mereka sering meminta jatah lebih dari pemasok, namun justru mengurangi timbangan ketika barang dagangnya dibeli.
Kebalikan dari curang adalah ihsan, yang maknanya adalah melebihi. Sebagai contoh, seorang pedagang yang menambahkan barang sebagai bonus kepada pembeli atau seorang yang berutang mengembalikan uang pinjamannya kepada pemberinya dengan melebihkan. Sebagai catatan, kasus kedua hanya halal jika tidak ada akad untuk sengaja melebihkan pengembalian pinjaman yang termasuk riba.
Seorang yang ihsan adalah mereka yang beribadah dengan sangat khusyuk. Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa mereka yang ihsan selalu beribadah kepada Allah seakan-akan mereka dapat melihat-Nya secara langsung.
Jika kita kembali membahas tentang orang yang curang, Allah telah memberi contoh kaum yang terkenal dengan kecurangannya dan disebut langsung dalam Al-Qur’an. Mereka adalah kaum Madyan yang diutus kepadanya Nabi Syu’aib as, sebagaimana terdapat pada ayat berikut:
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًۭا ۚ قَالَ يَـٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـٰهٍ غَيْرُهُۥ ۖ وَلَا تَنقُصُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ ۚ إِنِّىٓ أَرَىٰكُم بِخَيْرٍۢ وَإِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍۢ مُّحِيطٍۢ ٨٤
“Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (Kiamat).” [QS. Hud [11]: 84]
Nabi Syu’aib atas wahyu dari Allah telah menegaskan bahwa mereka akan celaka dan benar-benar celaka dengan azab pada hari kiamat. Penjelasan lebih lanjut tentang apa yang akan menimpa mereka ketika kiamat tiba akan diberikan pada beberapa ayat berikutnya. Akan pula dijelaskan tentang mengapa mereka enggan untuk berlaku jujur.