Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 5 April 2026.

Islam, Iman, dan Ihsan
عَنْ أَبِى مَالِكٍ الْحَارِثِ بْنِ عَاصِمٍ الْأَشْعَرِىِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ. وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا
“Dari Abu Malik Al Harits bin ‘Ashim Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bersuci itu bagian dari iman. Ucapan Alhamdulillah memperberat timbangan (kebaikan). Ucapan Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi ruangan antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya. Sedekah adalah bukti nyata. Sabar adalah pelita. Dan Al-Qur’an adalah hujjah yang membela atau menuntutmu. Semua orang berangkat di pagi hari (untuk berusaha). Ia menjual (mempertaruhkan) dirinya. Maka ada yang untung dan ada yang merugi.”
[HR. Muslim dan Ahmad]
Hadis di atas dimulai dengan menjelaskan bahwa bersuci itu sebagian dari iman. Maka, sebelum membahas lebih lanjut tentang hal lain, perlu terlebih dahulu dijelaskan tentang hakikat dari iman yang tidak dapat terpisahkan dari aspek Islam dan ihsan.
Tiga tingkatan keyakinan seorang hamba dari yang terendah adalah Islam, Iman, dan Ihsan. Pada tingkat pertama yaitu Islam, seseorang meyakini Allah karena hal-hal yang dapat terlihat, misal karena melihat umat muslim melaksanakan shalat, menyalurkan zakat, menyaksikan pelaksanaan ibadah haji, atau sesederhana melihat seorang muslimah menggunakan jilbab.
Adapun Iman berfokus pada meyakini Allah melalui sesuatu yang tidak terlihat, misalnya melaksanakan ibadah karena dijanjikan surga. Saat ini, tidak ada yang pernah melihat bagaimana surga itu sebenarnya. Contoh lainnya adalah selalu menjaga perbuatan karena meyakini ada malaikat yang selalu mengawasi dan mencatat segala amal yang diperbuat. Padahal malaikat itu adalah makhluk gaib yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia.
Tingkatan tertinggi adalah Ihsan, yaitu meyakini Allah dari hati yang terdalam. Seseorang yang telah mencapai tingkat Ihsan maka hatinya hanya berisi rasa ikhlas, khusyuk, dan takwa kepada Allah. Tidak ada lagi harapan untuk imbalan, merasa terpaksa, apalagi berani melanggar aturan-Nya.
Tiga Landasan Utama Islam
Dalam sebuah buku oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahab, dijelaskan tentang tiga landasan utama dalam Islam.
Landasan pertama adalah mengenal Allah. Bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Menciptakan dengan semua sifat dan nama-nama-Nya yang agung. Landasan kedua adalah mengenal Islam sebagai agama, yaitu dengan mencapai tingkatan-tingkatan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Adapun landasan terakhir adalah mengenal Rasulullah Muhammad Saw. sebagai nabi yang diutus untuk umat Islam.
Inilah tiga prinsip yang sangat mendasar namun akan sangat menentukan nanti ketika seorang manusia wafat dan telah masuk ke dalam kubur. Malaikat Munkar dan Nakir akan datang kepadanya untuk bertanya diantaranya “Siapa Tuhanmu?”, “Apa agamamu?”, dan “Siapa nabimu?”
Manusia yang Menjual Dirinya
Pada akhir hadis yang diberikan pada awal bahasan, dijelaskan bahwa manusia berangkat setiap pagi untuk menjual dirinya. Maka ada dua pilihan baginya: untung atau rugi, tidak ada pilihan netral.
Manusia yang beruntung akan menjual dirinya kepada Allah melalui ibadah untuk mengisi harinya. Ia menjalankan hidupnya dengan ketaatan. Sebaliknya, manusia yang merugi telah menjual dirinya kepada setan, mengikuti hawa nafsunya sehingga harinya diisi dengan kemaksiatan.
Pada dasarnya, setiap detik, setiap helaan napas dalam kehidupan manusia adalah pertaruhan, jual-beli diri. Ketika hendak keluar rumah, apakah terpikir untuk berdoa kepada Allah sebelumnya atau sifat tergesa-gesa dari setan membuat kita lupa dan bergegas tanpa berdoa?
Ketika melihat wanita yang cantik rupawan, apakah seorang pria mampu menahan dirinya dari godaan terjatuh ke dalam jurang cinta yang terlarang hanya karena godaan setan? Ataukah dia memilih menundukkan pandangannya karena takut kepada Allah?
Ketika melihat harta, apakah seseorang akan memilih untuk menyedekahkannya di jalan Allah atau memilih berfoya-foya atau bahkan menggunakannya untuk bermaksiat di jalan setan?
Pada akhirnya, semua proses pertaruhan itu akan dibayar oleh lawan transaksi kita. Jika kita memilih menjual diri kepada Allah, maka balasan untuk kita adalah surga-Nya. Sebaliknya, jika seseorang menjual dirinya kepada setan, maka akibatnya dia akan terseret ke dalam neraka sebagai teman bisnis dari setan.
Memang manusia selalu naik-turun keimanannya. Maka meskipun kita sesekali terpeleset ke jalan setan, yang terpenting adalah selalu ingat untuk kembali ke jalan Allah dan terus berdoa agar pada akhir hayat nanti, kita berada di jalan Allah dan meraih husnul khatimah.