Intisari ceramah dalam rangka Kajian Menyambut Bulan Suci Ramadhan hari Rabu tanggal 11 Februari 2026.

Penceramah: Ust. Ruslan Abdul Gani, S.Pd., M.Pd.
Apa itu Suci?
Memasuki bulan Ramadhan, sangat perlu untuk kita menyucikan hati. Namun, sebelum membahas tentang cara-cara menyucikan hati, perlu dibahas terlebih dahulu tentang apakah makna dari suci itu?
Kesucian hati dijelaskan syarat dan hasilnya oleh Allah melalui firman-Nya dalam Surat Al-Fajr.
يَـٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ ٢٧
ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةًۭ مَّرْضِيَّةًۭ ٢٨
فَٱدْخُلِى فِى عِبَـٰدِى ٢٩
وَٱدْخُلِى جَنَّتِى ٣٠(27) Wahai jiwa yang tenang!
(28) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.
(29) Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,
(30) dan masuklah ke dalam surga-Ku.[QS. Al-Fajr [89]: 27-30]
Ayat-ayat di atas menjelaskan dua syarat untuk sebuah hati dan jiwa dikatakan suci dan tenang serta dua balasan yang akan diperoleh karena kesucian hati tersebut. Dua syarat tersebut disebutkan dalam ayat 28 dan dua balasannya pada ayat 29 dan 30.
Syarat-Syarat Hati Yang Suci
Dari ayat ke-28 Surat Al-Fajr di atas, terdapat dua syarat untuk suatu hati dikatakan suci. Berikut akan dijelaskan kedua syarat tersebut.
1. Kembali kepada Allah
Syarat pertama dari hati yang suci adalah kembali kepada Allah. Ini adalah hal yang mendasar, yaitu bahwa segala hal, baik itu harta, jabatan, dan bahkan jiwa itu sendiri adalah milik Allah. Semua adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya atas kehendak-Nya sebagaimana dijelaskan dalam dua ayat terakhir Surat Yasin:
إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٨٢ فَسُبْحَـٰنَ ٱلَّذِى بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَىْءٍۢ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ٨٣
(82) Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. (83) Maka Mahasuci (Allah) yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.
[QS. Yasin [36]: 82-83]
Maka, mereka yang memiliki hati suci akan sangat menyadari hal ini dan bertindak sesuai tuntunan Allah dalam firman-Nya yang lain dalam Surat Al-Baqarah:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُو۟لَـٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌۭ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۭ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ ١٥٧
(155) Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). (157) Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
[QS. Al-Baqarah [2]: 155-157]
2. Ridho dengan Takdir Allah
Allah telah menetapkan takdir untuk semua makhluk dan ciptaan-Nya. Bukan hanya untuk manusia, tapi juga untuk hewan, tumbuhan, dan semua hal di alam semesta ini. Maka sangat penting untuk kita bisa menerima takdir-Nya, baik itu yang baik atau yang terasa buruk karena kita percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik. Mungkin tidak terasa saat itu, tapi akan disadari kebaikannya di masa yang akan datang.
Kehidupan akan terasa indah jika kita selalu ridho dengan takdir Allah. Sebaliknya, semua akan terasa berat dan menjengkelkan jika kita tidak menerima ataupun kehilangan kesabaran atas takdir-Nya. Untuk itulah, Allah memperingatkan mereka yang memilih keluar dari agama Allah karena menolak takdir-Nya:
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَـٰمِ دِينًۭا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ ٨٥
Dan barang siapa mencari agama selain Islam, maka itu tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.
[QS. Ali-Imran [3]: 85]
Balasan untuk Hati yang Suci
Dalam ayat lanjutan pada kutipan Surat Al-Fajr di atas, disebutkan dua balasan untuk mereka yang berhati suci, yaitu mereka akan dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang terbaik dan kemudian mereka akan masuk ke surga Allah.
Bagaimana Cara Kembali Kepada Allah?
Syarat pertama untuk hati yang suci adalah kembali kepada Allah. Lantas, bagaimana caranya? Yaitu dengan berdzikir sebanyak-banyaknya. Allah secara langsung telah memerintahkan ini kepada kita melalui firman-Nya:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًۭا كَثِيرًۭا ٤١
Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya.
[QS. Al-Ahzab [33]: 41]
Mengingat Allah berarti menyadari bahwa segala yang terjadi adalah atas kehendak-Nya. Dengan demikian, maka kita mengembalikan hasil dari segala urusan setelah usaha yang maksimal kepada Allah. Konsep ini yang dikenal sebagai ikhtiar dan tawakal.
Cara lain untuk mengingat Allah adalah dengan shalat. Tentu, terdapat catatan khusus, yaitu shalat harus dilaksanakan dengan baik dan sesempurna mungkin. Kelalaian dalam shalat adalah sebuah kecelakaan sebagaimana Allah berfirman:
فَوَيْلٌۭ لِّلْمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٥
(4) Maka celakalah orang yang salat, (5) (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya.
[QS. Al-Ma’un [107]: 4-5]
Hanya dengan shalat yang khusyuk dan benar maka tujuan utama akan diperoleh, sesuatu yang akan mengembalikan kita ke jalan Allah, yaitu mencegah segala perbuatan keji dan munkar.
ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ ٤٥
Bacalah Kitab (Al-Qur`an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[QS. Al-Ankabut [29]: 45]
Bagaimana Agar Kita Ridho dengan Takdir Allah?
Ridho dengan takdir Allah berarti menerima apapun ketetapan-Nya yang sudah digariskan meskipun kita telah berusaha dengan maksimal. Hal ini tidak mudah untuk dilakukan karena banyak sekali faktor yang dapat menghambatnya. Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut, maka ada empat hal yang harus dilakukan agar kita bisa ridho dengan takdir-Nya.
Pertama, memperbanyak istighfar. Perkuat hati dengan memohon ampun kepada Allah, percaya bahwa takdir-Nya adalah yang terbaik dan hindari pikiran negatif. Belajarlah dari seekor burung yang terbang dengan keyakinan bahwa rezekinya sudah diatur oleh Allah. Maka, terbangnya itu adalah usaha atau ikhtiar yang dilakukannya untuk menjemput rezeki tersebut.
Kedua, maafkan semua orang yang pernah menyakiti. Terkadang, keridhoan kita terhadap takdir Allah tertahan karena adanya hal yang mengganjal akibat takdir yang telah ditetapkan kepada orang lain. Atau bisa juga dikarenakan kita pernah disakiti oleh seseorang yang kemudian menghadirkan takdir yang kita anggap buruk. Untuk itu, maafkanlah orang lain yang pernah menyakiti kita. Jika perlu untuk meminta maaf terlebih dahulu, maka lakukanlah karena tidak ada manfaatnya terus memperpanjang masalah.
Ketiga, tahan amarah karena marah tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, marah adalah cara untuk terus memperpanjang masalah.
Dan pada akhirnya, jangan pernah lelah menjadi orang baik. Memang akan banyak ujian dalam menjadi orang baik. Dituduh yang bukan-bukan, diuji dengan berbagai masalah, dan dijauhi orang karena dianggap aneh. Janganlah kalah oleh ujian-ujian ini, karena bagi orang yang baik, maka Allah yang akan mengatur segala urusannya.