Intisari Khutbah Jum’at tanggal 6 Februari 2026.
Khotib: Prof. Dr. H. Udin Supriadi, M.Pd.

Nabi Yunus As. dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an penuh dengan kisah dari berbagai tokoh. Mulai dari orang paling durhaka, orang-orang yang saleh, hingga para nabi dan rasul. Dari sekian banyak nabi dan rasul yang dikisahkan dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah Nabi Yunus As. yang bahkan salah satu surat dinamakan atas dirinya.
Tentu, kisah Nabi Yunus As. tidak hanya ada di dalam surat Yunus, tetapi juga ada di beberapa surat lainnya seperti surat Ash-Shaffat:
وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ ١٣٩
Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul.
[QS. Ash-Shaffat [37]: 139]
Nabi Yunus As. diutus sebagai rasul kepada suatu kaum yang berjumlah sekitar 100 ribu orang. Pokok dakwahnya adalah ajaran tauhid yang sama dengan para rasul lainnya, bertakwalah kepada Allah dan jangan menyembah selain-Nya. Meski demikian, mereka tidak kunjung beriman meskipun beliau telah berdakwah berkali-kali.
Hingga ketika kekesalannya hampir memuncak, Nabi Yunus As. mengancam mereka dengan azab Allah yang akan turun. Tatkala bahkan ancaman azab itu tidak mengubah mereka, maka Nabi Yunus As. memilih untuk meninggalkan kaumnya untuk menuju ke Baitul Maqdis, Palestina.
Di atas perahu yang akan membawanya ke tujuan, datanglah sebuah momen ujian. Perahu yang dinaiki ternyata kelebihan muatan dan terancam tenggelam. Untuk itu, salah satu penumpang terpaksa harus diturunkan, dibiarkan terombang-ambing di lautan. Sang kapten melakukan undian untuk memilih orang yang harus dikorbankan tersebut, dan meskipun diulang berkali-kali, hasilnya selalu mengarah kepada Nabi Yunus As. Maka sesuai kesepakatan, beliau dijatuhkan ke dalam lautan. Perahu itu melanjutkan pelayarannya.
Adapun Nabi Yunus As. kemudian dimakan oleh sebuah ikan besar. Perut ikan itu sangat gelap dan sempit. Dalam kondisi yang serba sulit inilah akhirnya beliau menyadari apa yang telah dilakukannya. Bagaimana kekecewaannya telah mengalahkan tujuannya untuk terus berdakwah kepada kaumnya. Inilah yang dijelaskan dalam Al-Qur’an:
وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبًۭا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَـٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ ٨٧
Dan (ingatlah kisah) Żun Nūn (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”
[QS. Al-Anbiya [21]: 87]
Kunci dari do’a Nabi Yunus As. ini adalah kalimat tasbih. سُبْحَـٰنَكَ (subhanaka), “Maha Suci Engkau.” Maka dengan kalimat itu, Allah mengeluarkannya dari perut ikan itu sehingga beliau terdampar di sebuah tempat yang tandus. Dalam kondisi yang masih lemah dan sakit, Allah menumbuhkan semacam tanaman labu untuk dimakan Nabi Yunus As.
Setelah pulih kembali, Nabi Yunus As. memutuskan untuk kembali kepada kaumnya yang ternyata tidak terkena azab Allah. Justru setelah berulang kali berdakwah, baru kali ini mereka akhirnya beriman kepada Allah. Akhir kisah inilah yang diceritakan dalam Surat Yunus:
فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ ءَامَنَتْ فَنَفَعَهَآ إِيمَـٰنُهَآ إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُوا۟ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ ٱلْخِزْىِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَمَتَّعْنَـٰهُمْ إِلَىٰ حِينٍۢ ٩٨
Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat baginya selain kaum Yunus. Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu.
[QS. Yunus [10]: 98]
Renungan untuk Negeri Ini
Akhir-akhir ini di negeri Indonesia kita telah terjadi banyak musibah. Dari bulan November lalu ketika Sumatera dihantam banjir bandang dan tanah longsor akibat curah hujan tinggi, hingga saat ini masih banyak korban yang belum ditemukan. Beberapa korban selamat juga masih berada dalam kesulitan.
Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin jika kita mengambil kesan dari kisah kaum Nabi Yunus As., mereka masih belum bisa mewujudkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah dalam kehidupannya. Hujan yang harusnya menjadi rahmat justru menjadi bencana karena mereka tidak sadar akan kelestarian lingkungan sebagaimana telah Allah ciptakan.
Semua pohon, pasir, dan gunung yang telah diamanahkan-Nya untuk dijaga oleh manusia sebagai khalifah justru dirusak, maka datanglah bencana akibatnya, mungkin sebagai peringatan agar mereka kembali kepada jalur ketakwaan.
Tasbih, Kunci Kesabaran
Poin penting lain dari kisah Nabi Yunus As. adalah bagaimana beliau yang merupakan seorang rasul sekalipun bisa kehilangan kesabaran dalam melaksanakan tugas dakwahnya. Padahal sifat itu seharusnya tidak boleh timbul dalam dirinya yang menjadi penyebar ajaran Allah.
Setelah menyadari kezalimannya, Nabi Yunus As. akhirnya mendapatkan kunci untuk kesabaran diri dan hatinya, yaitu kalimat tasbih. Dengan mengagungkan Allah, maka bantuan dan perlindungan-Nya akan hadir, sebagaimana Nabi Yunus As. dikeluarkan dari perut ikan.
Tasbih adalah salah satu bentuk dzikir kepada Allah dan dzikir adalah amalan yang sangat dicintai-Nya. Barangsiapa memperbanyak berdzikir, maka Allah Swt. akan selalu melindunginya dari segala keburukan dan hal-hal lain yang tidak diinginkan.
Selain itu, tasbih adalah amalan yang sangat ringan dilaksanakan dengan lisan, namun timbangannya sangat berat. Allah akan menambah pahala dan mengurangi dosa hamba-hamba-Nya yang terus meneruskan bertasbih. Dengan tasbih pula, pintu rezeki akan dibuka kepada mereka.
Mempersiapkan Ramadhan dengan Tasbih
Sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan. Dengan balasan amal yang berlipat ganda, maka bertasbih dan berdzikir menjadi salah satu kesempatan meraih pahala yang sangat besar. Perlu diingat, bahwa tasbih tidak hanya sekadar “Subhanallah” atau “Subhanaka,” tapi juga kalimat-kalimat baik (thoyyibah) lainnya.
Dengan memperbanyak tasbih menjelang dan memasuki bulan Ramadhan, semoga Allah memberikan kita keberkahan, karena tidak semua orang yang menemui bulan suci ini menerima keberkahan.
Semoga dengan kekuatan tasbih, Allah mengangkat bencana yang terjadi di negeri ini, menggantinya dengan keberkahan, dan memberi kita kesabaran dalam memasuki bulan Ramadhan yang suci.