Intisari Kapita Selekta hari Sabtu tanggal 27 September 2025
Penceramah: Dr. H. Bambang Budiono

Indonesia, Luar dan Dalam
Pada hari Selasa tanggal 23 September lalu, Presiden RI, Prabowo Subianto telah menyampaikan pidato di hadapan Majelis Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam orasinya yang berlangsung sekitar 20 menit, Presiden menyampaikan pentingnya untuk menghentikan perang di Gaza dan memberikan hak kemerdekaan kepada Palestina. Inilah yang menjadi komitmen bangsa kita untuk menghapus penjajahan di seluruh dunia sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Namun, di sisi lain, keadaan internal bangsa kita sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai pro-pejabat dan kontra-masyarakat, ditambah dengan perilaku para pejabat yang tidak etis meledakkan masyarakat untuk turun berdemonstrasi. Segala kericuhan yang terjadi, termasuk jatuhnya beberapa korban jiwa merupakan sebuah keprihatinan tersendiri.
Lantas, muncul sebuah pertanyaan di balik Indonesia yang digdaya di luar, “Apakah negeri ini akan hancur akibat kerusakan di dalam negeri kita sendiri?”
Dikhianatinya Amanah
Rasulullah Saw. dalam berbagai riwayatnya menjelaskan bagaimana banyak peradaban dan negeri yang dahulu sangat berjaya namun bisa seketika runtuh. Salah satu peringatan keras yang beliau berikan adalah bagaimana suatu negeri dipimpin oleh orang yang tidak amanah dan tidak berkompeten. Secara lengkap, dalam sebuah hadis dari riwayat Bukhori:
بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam suatu majelis membicarakan suatu kaum, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui lalu bertanya: “Kapan datangnya hari kiamat?” Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap melanjutkan pembicaraannya.
Sementara itu sebagian kaum ada yang berkata; “beliau mendengar perkataannya akan tetapi beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya itu, “ dan ada pula sebagian yang mengatakan; “bahwa beliau tidak mendengar perkataannya.”
Hingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan pembicaraannya, seraya berkata: “Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?” Orang itu berkata: “saya wahai Rasulullah!”.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat”. Orang itu bertanya: “Bagaimana hilangnya amanat itu?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamat“. [HR. Bukhari No. 57]
Merajalelanya Korupsi
Hal lain yang dapat menghancurkan suatu negeri adalah ketika kejujuran dan kebohongan sudah terbalik. Pada masa kini, sudah sering kita lihat bagaimana orang-orang yang jujur dikesampingkan, sementara mereka yang berdusta justru diangkat.
Inilah yang menjadi awal dari banyak kerusakan, termasuk adanya korupsi, mengambil harta secara tidak sah. Mereka ini yang telah melanggar firman Allah Swt.:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَـٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَـٰرَةً عَن تَرَاضٍۢ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًۭا ٢٩
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. [QS. An-Nisa [4]: 29]
Keadilan yang Miring
Sudah sering kita lihat peristiwa ketika para pejabat yang tersangkut kasus hukum justru dipidana secara ringan, meskipun dampaknya sangat besar. Sebaliknya, masyarakat umum sering dihukum dengan berat hanya untuk tindakan kecil yang sebenarnya mungkin terpaksa akibat faktor ketidakmampuan yang baik langsung ataupun tidak adalah efek kegagalan kebijakan pemerintah.
Rasulullah Saw. adalah contoh seorang pemimpin yang tidak akan pandang bulu. Beliau menyatakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra.:
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Wahai sekalian manusia, hanyasanya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah, ketika orang-orang terpandang mereka mencuri, mereka membiarkannya (tidak menghukum), sementara jika orang-orang yang rendahan dari mereka mencuri mereka menegakkan hukuman had. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, sungguh aku sendiri yang akan memotong tangannya.” [HR. Muslim No. 3196]
Rasulullah Saw. dengan tegas menyatakan bahwa hukum tidak boleh pandang bulu, tidak berbasis keluarga atau jabatan. Siapapun yang bersalah haruslah diberikan sanksi sesuai peraturan yang berlaku, meskipun itu anak Rasulullah Saw. sendiri. Inilah yang jauh dari realita di masa kini.
Cinta Dunia dan Takut Mati
Banyak pejabat memiliki penyakit wahn yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Tsauban:
« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ »
“Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” [HR. Abu Daud No. 4297 dan Ahmad No. 278]
Dalam hadis di atas, Rasulullah memperingatkan bahwa penyakit wahn dapat merusak sebuah kaum yang bahkan jumlahnya sangat banyak sehingga tidak memiliki kekuatan sedikitpun. Masalahnya, jika bahkan pejabat suatu negeri sudah terkena penyakit ini, maka hendak dibawa kemana arah negeri tersebut? Wajar saja jika masyarakatnya pada akhirnya juga ikut terkena wahn.
Peringatan yang Relevan
Semua peringatan di atas disampaikan oleh Rasulullah Saw. sekitar 1400 tahun yang lalu. Namun, harus diakui bahwa hal-hal tersebut masih relevan di masa kini, bahkan semuanya terjadi persis seperti apa yang beliau khawatirkan.
Sebagai umat Muslim, sangat pantas untuk kita meneladani Rasulullah Saw. Maka, mestilah kita mengingat kembali semua peringatan beliau sehingga negeri kita menjadi aman, damai, dan makmur sehingga terhindar dari kerusakan dan kehancuran.