Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 14 September 2025.

Nikmat Keamanan dan Rezeki
Keamanan dan rezeki berlimpah termasuk salah satu dari nikmat Allah yang telah dijanjikan langsung dalam beberapa ayat Al-Qur’an.
فَلْيَعْبُدُوا۟ رَبَّ هَـٰذَا ٱلْبَيْتِ ٣ ٱلَّذِىٓ أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍۢ وَءَامَنَهُم مِّنْ خَوْفٍۭ ٤
(3) Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah), (4) yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan. [QS. Quraisy [106]: 3-4]
Ayat di atas secara spesifik merujuk pada kaum Quraisy yang tinggal di tanah suci Makkah. Allah telah memberi mereka kelapangan dengan berlimpahnya makanan serta terjaminnya keamanan tempat tinggal mereka. Namun, ketika Rasulullah Saw. hadir sebagai seorang nabi yang diutus kepada mereka, maka tidaklah mereka mengikuti beliau karena khawatir bahwa umat Rasulullah akan mengusir mereka dari Makkah. Hal ini yang Allah firmankan dalam sebuah ayat lainnya:
وَقَالُوٓا۟ إِن نَّتَّبِعِ ٱلْهُدَىٰ مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَآ ۚ أَوَلَمْ نُمَكِّن لَّهُمْ حَرَمًا ءَامِنًۭا يُجْبَىٰٓ إِلَيْهِ ثَمَرَٰتُ كُلِّ شَىْءٍۢ رِّزْقًۭا مِّن لَّدُنَّا وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ٥٧
Dan mereka berkata, “Jika kami mengikuti petunjuk bersama engkau, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” (Allah berfirman) Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) sebagai rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. [QS. Al-Qashash [28]: 57]
Dalam konteks keseluruhan, kedua dalil di atas berlaku untuk seluruh umat di negeri manapun. Allah Maha Melindungi dan Maha Kaya untuk menjamin keamanan dan keberkahan suatu negeri. Namun, dengan Maha Kuasa-Nya, maka Allah juga mampu membalikkan keadaan suatu kaum dengan mencabut nikmat keamanan dan rezeki tersebut.
Dicabutnya Nikmat Aman dan Rezeki
وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًۭا قَرْيَةًۭ كَانَتْ ءَامِنَةًۭ مُّطْمَئِنَّةًۭ يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًۭا مِّن كُلِّ مَكَانٍۢ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلْجُوعِ وَٱلْخَوْفِ بِمَا كَانُوا۟ يَصْنَعُونَ ١١٢
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) suatu negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat. [QS. An-Nahl [16]: 112]
Ayat di atas menjelaskan bagaimana suatu negeri dapat dicabut nikmat keamanan dan keberkahannya sehingga masyarakatnya menjadi ketakutan dan kelaparan. Kalimat kunci pada ayat di atas adalah “disebabkan apa yang mereka perbuat.” Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak mencabut nikmat tersebut tanpa alasan, melainkan diakibatkan oleh perbuatan masyarakatnya, terutama yang menyimpang dari syariat Islam.
Salah satu contoh yang paling nyata adalah negeri kita Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, telah terjadi demonstrasi besar-besaran yang mengganggu keamanan, baik secara lokal maupun nasional. Sebagai dampak lanjutan, terjadi kelangkaan sembako dengan harga-harganya meningkat tajam. Penyebab dari hal ini adalah banyaknya kezaliman yang dilakukan para pemangku jabatan. Mereka menikmati segala tunjangan yang diberikan untuk mereka sendiri dan hanya sedikit yang memperhatikan amanah mereka sebagai pelayan bagi masyarakat.
Di sisi lain, peristiwa di Palestina terjadi karena perbuatan manusia, meskipun bukan dari dalam negeri melainkan dari luar. Para zionis Israel ingin mencaplok wilayah Palestina yang sebenarnya bukan haknya. Namun, akibat keras kepalanya mereka, maka dipaksakanlah perang yang hingga sekarang masih terus berlangsung. Negeri Palestina yang dahulu aman sebagai Baitul Maqdis dengan keberkahan secara alami dan juga secara religius dengan adanya Masjidil Aqsa kini berada dalam situasi mencekam dan serba sulit dalam peperangan.
Mengembalikan Nikmat yang Tercabut
Lantas bagaimana caranya untuk mengembalikan nikmat yang telah Allah cabut itu? Jawabannya telah diberikan dalam Al-Qur’an:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًۭا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۙ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ ٥٣
Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. [QS. Al-Anfal [8]: 53]
Maka, jika kita ingin Indonesia kembali mendapatkan keamanan dan keberkahannya, tidak ada pilihan lain kecuali mengubah diri kita sendiri. Ini meliputi semua pihak, dari masyarakat hingga para pejabatnya. Ini pula yang akan bisa mengubah Palestina. Mereka harus berjuang dengan darah dan keringat, karena jika hanya diam saja, maka tidak akan mungkin mereka meraih kemenangan.
Ayat ini juga berlaku secara umum, bukan hanya untuk sebuah kaum tapi juga untuk individu. Jika kita ingin mengubah nasib diri, merasa lebih aman dan mendapat lebih banyak rezeki, maka semua harus dengan perjuangan.