Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 1 Februari 2026.

Mengenal Mazhab Syafi’i
Mazhab Syafi’i adalah mazhab yang paling sering digunakan di Indonesia. Dasar dari hukum-hukum mazhab Syafi’i adalah kitab Safinatun Najah. Bahasan dari berbagai aspek fiqih dituliskan dalam kitab ini. Dalam kajian kali ini, akan dibahas tentang salah satu poin dalam bahasan fiqih shalat, yaitu takbiratul ihram.
Syarat Takbiratul Ihram
Syarat adalah hal-hal yang harus dipenuhi dalam suatu ibadah. Jika bahkan salah satunya tidak terpenuhi, maka ibadah tersebut dapat menjadi batal.
Menurut Mazhab Syafi’i dalam kitab Safinatun Najah, terdapat 16 (enam belas) syarat dalam takbiratul ihram. Namun, berikut akan dibahas beberapa poin yang sering terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya.
Poin rawan yang pertama adalah memanjangkan hamzah pada awal lafadz jalallah (الله). Sekilas, syarat ini cukup sederhana, namun untuk membacanya dengan sempurna perlu dilatih karena terkadang kesalahan ini terjadi secara tidak sengaja. Dikarenakan sifat huruf lam (ل) yang harus mengalir, seringkali hal ini mengakibatkan kesalahan dalam membaca huruf hamzah sebelumnya, misal dengan dibaca panjang, terlalu tebal, atau menyerupai bunyi huruf o.
Dua poin berikutnya yang rawan kesalahan terdapat pada huruf ba dalam kata اكبر (akbar). Pertama, huruf ba terkadang dipanjangkan, baik karena mencari langgam yang indah untuk imam atau memang sudah terbiasa. Semestinya huruf ba dalam hal ini dibaca pendek. Lebih lanjut, huruf ba juga terkadang ditebalkan seperti bertasydid karena terpengaruh oleh huruf ra tafkhim (tebal) setelahnya. Cara ini tidak diperbolehkan karena huruf ba tetap harus dibaca sesuai sifatnya dengan memasukkannya ke huruf ra tebal yang mengikutinya.
Titik lain yang sering menimbulkan kesalahan adalah antara dua kata, Allahu (الله) dan Akbar (اكبر). Tidak boleh ada jeda antara kedua kata ini sehingga makna kalimat takbir menjadi terpecah. Kemudian, tidak boleh juga menambah huruf wau (و) sehingga bunyi hu menjadi panjang atau transisi ke kata akbar terkesan mengandung wa seperti “Allahu Wakbar.”