Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 25 Januari 2026.

Pentingnya Jiwa
Manusia tidak dapat hidup jika jiwanya tidak sehat, meskipun fisiknya sebaik apapun juga. Pentingnya kesehatan jiwa dan raga ditegaskan dalam berbagai karya, termasuk salah satunya lagu kebangsaan Indonesia Raya melalui lirik “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.”
Sama halnya dengan kesehatan fisik yang dapat diraih melalui latihan secara rutin, kesehatan jiwa dan hati juga dapat diperoleh melalui latihannya tersendiri yang juga harus dilaksanakan secara rutin. Beberapa buku dari Imam Al-Ghazali diantaranya Ihya’ul Qalbi (Menghidupkan Hati) dan Tazkiyatun Nufus (Menyucikan Jiwa) membahas perihal latihan jiwa dan hati dengan berbagai cara.
Selain perlu dilaksanakan secara rutin, latihan-latihan tersebut harus berlandaskan tekad yang sesuai. Kesalahan dalam tekad dan niat dapat menyebabkan kegagalan dalam pembinaan jiwa maupun raga.
Ambil pemisalan, bagaimana seorang binaraga berolahraga dengan niat dan tekad untuk memperkuat diri sehingga hasilnya terlihat jelas. Bandingkan dengan seseorang yang berolahraga hanya untuk mengisi waktu dan bersenang-senang, tentu hasilnya tidak akan sebaik binaraga tersebut.
Demikian pula dengan ibadah yang dilakukan untuk menyucikan jiwa dan hati. Misal, jika shalat kita laksanakan hanya karena terpaksa atau riya, maka dampaknya terhadap jiwa akan minimal atau bahkan nihil. Hanya dengan niat yang lurus hanya karena Allah maka manfaat dari shalat dan ibadah lainnya akan maksimal.
Apa itu Tarbiyah Ruhiyah?
Dalam perspektif Islam, tarbiyah ruhiyah atau pembinaan jiwa harus berlandaskan dua hal, yaitu ikhlas dan istiqomah. Jika salah satu dari dua aspek tersebut tidak terpenuhi, maka jiwa tidak akan terbentuk dengan sempurna.
Allah telah menjelaskan betapa beruntungnya orang-orang yang membina jiwanya dengan sempurna dan bagaimana ruginya untuk mereka yang sebaliknya.
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠
(9) Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). (10) Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.
[QS. Asy-Syams [91]: 9-10]
Tujuan Tarbiyah Ruhiyah
Lantas apakah tujuan dalam melakukan tarbiyah ruhiyah?
Pertama, untuk menghidupkan hati. Karena kunci dari kesehatan jiwa adalah hati yang bersih. Jika seandainya hati seorang hamba sudah kotor dan terkunci, maka akan sangat sulit untuknya menerima kebenaran apapun dari Allah.
Kedua, mendapat rasa diawasi oleh Allah Swt. Diibaratkan seperti seseorang yang enggan berbuat buruk di hadapan orang lain karena takut merasa malu dan reputasinya hancur, lantas apakah Allah lebih pantas untuk kita malu terhadap-Nya Yang Maha Melihat jika kita melakukan kesalahan?
Ketiga, melatih keikhlasan. Tentu pada awal melakukan tarbiyah, akan ada rasa keterpaksaan. Namun, jika tidak dicoba, mau sampai kapan? Begitu kita mulai terbiasa, maka perlahan-lahan akan timbul rasa keikhlasan.
Dari keikhlasan ini akan membawa kita ke poin keempat, yaitu bisa menjadikan ibadah sebagai kebutuhan jiwa. Hati terasa kosong jika tidak melaksanakan ibadah. Setiap shalat, tadarus, dan infaq tidak lagi menjadi ganjalan melainkan menjadi sumber kebahagiaan dan kepuasan bagi diri sendiri.
Pada akhirnya, tarbiyah ruhiyah ini memiliki tujuan akhir untuk melahirkan akhlakul karimah (akhlak yang mulia). Inilah janji Allah pada dalil Surat Asy-Syams sebelumnya, bahwa mereka yang membersihkan hati akan diarahkan pada jalan menuju-Nya.
- Menghidupkan hati.
- Merasa diawasi oleh Allah Swt.
- Melatih keikhlasan.
- Menjadikan ibadah sebagai kebutuhan jiwa.
- Melahirkan akhlak yang mulia.
Pilar Tarbiyah Ruhiyah
Sama halnya dengan latihan fisik yang memerlukan dasar-dasar seperti metode latihan dan asupan nutrisi untuk mencapai hasil maksimal, latihan jiwa juga memerlukan pilar-pilar untuk mencapai keberhasilan. Berikut adalah beberapa pilar dari tarbiyah ruhiyah.
Pilar pertama adalah iman yang sahih. Jika tarbiyah ruhiyah didasari dengan iman yang salah, maka hasilnya pun akan melenceng. Iman yang sahih berpatokan pada dalil-dalil yang sahih pula seperti Al-Qur’an dan hadis-hadis yang telah teruji keasliannya. Hanya meyakini tidak cukup untuk dikatakan sebagai iman yang sahih, melainkan diperlukan juga aksi yang nyata.
Adapun pilar kedua dan seterusnya terdiri atas ibadah-ibadah yang menjadi aksi nyata dalam keimanan yang sahih. Ibadah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
- Ikhlas
- Dzikir
- Membaca Al-Qur’an
- Shalat dan Qiyamul Lail
- Muhasabah dan Taubat