Intisari Khutbah Jum’at tanggal 16 Januari 2026.
Khotib: Dr. KH. Iskandar Mirza, M.Ag.

Isra Mi’raj, Peristiwa yang Menakjubkan
سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ ١
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
[QS. Al-Isra’ [17]: 1]
Tanggal 27 Rajab adalah hari peringatan dari sebuah peristiwa yang besar. Subhanallah, Maha Suci Allah, kalimat yang sering kita ucapkan ketika melihat hal-hal yang luar biasa dan menakjubkan. Maka, ayat perihal peristiwa ini dimulai dengan kalimat tasbih. Peristiwa ini adalah Isra Mi’raj.
Bayangkan teknologi di masa lalu yang belum mencapai kemajuan seperti saat ini. Namun, atas izin-Nya, Rasulullah Saw. telah mengalami perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian Mi’raj dari Masjidil Aqsa hingga ke Sidratul Muntaha.
Subhanallah, ini adalah ayat yang disampaikan langsung oleh Allah Yang Maha Suci. Dengan demikian, pastilah informasi tentang peristiwa ini tidak akan ada kedustaan sedikit pun di dalamnya. Isra Mi’raj adalah sebuah peristiwa yang menakjubkan dan kebenarannya bersifat sejati.
Perintah Langsung Allah: Shalat
Makna besar lainnya dari peristiwa Isra Mi’raj adalah diperintahkannya shalat secara langsung oleh Allah Swt. tanpa perantara kepada Rasulullah Saw. Lantas, apa makna dari perintah shalat tersebut?
Shalat adalah ibadah yang dapat menunjukkan keimanan seseorang. Itulah bukti sejati dari pengabdian seorang muslim. Orang yang tidak menjalankan shalat sama saja dengan meruntuhkan tiang agama. Dan tidak peduli sebaik dan sesaleh apapun seseorang jika tidak melaksanakan shalat maka semua kesalehan itu menjadi tidak berguna dan gagal. Hal itu dikarenakan Rasulullah Saw. telah mengingatkan kita bahwa shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab di sisi Allah. Jika baik, maka baiklah semua amalnya. Jika rusak, maka rusaklah seluruh amalnya.
Shalat itu Senjata
Shalat mempunyai makna yang sangat luar biasa. Semua ulama dalam berbagai kitabnya sepakat dalam satu hal, shalat itu doa. Adapun Rasulullah Saw. bersabda bahwa doa itu adalah senjata bagi orang muslim. Maka kesimpulan dari kedua pernyataan tersebut: shalat itu senjata.
Shalat adalah senjata terbaik yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya. Senjata ini mampu menghancurkan rintangan apapun, bahkan dengan perkembangan teknologi yang sudah sangat pesat. Apapun masalahnya, maka dengan shalat, Insya Allah semua akan dapat diselesaikan.
Bukti pertama keabsahan shalat sebagai senjata berasal dari Rasulullah Saw. sendiri. Ketika menjalani Isra Mi’raj, kondisi beliau sedang sangat tertekan dan sedih. Dakwahnya kepada kaum kafir Quraisy selalu buntu. Para pendukung dakwahnya dikunci rapat-rapat oleh mereka. Bahkan beberapa lainnya termasuk salah satunya sang istri Khadijah berpulang ke sisi Allah.
Namun, setelah berakhirnya Isra Mi’raj, dengan berlandaskan shalat yang telah diperintahkan, Rasulullah berhasil membuka jalan dakwahnya. Kehadiran sosok Abu Bakar menjadi kunci pertama dari seluruh kunci dakwah Rasulullah yang kemudian terus terbuka hingga akhirnya dakwahnya tersebar luas.
Maka, waktunya kita untuk membuktikan sendiri. Jika rumah tangga diliputi banyak masalah dan konflik, selesaikan dengan shalat. Rezeki tidak kunjung datang, undang dengan shalat.
Target Utama Shalat: Iblis
Manusia sering terjerumus dalam kemaksiatan karena tertunduk pada bisikan iblis. Namun, shalat dapat digunakan sebagai senjata untuk melawan musuh yang terlaknat itu. Takbiratul ihram saja sudah menjadi ikrar untuk manusia menghancurkan seluruh godaan-godaan tersebut. Mereka yang sudah melaksanakan takbiratul ihram telah berhasil melawan iblis yang menahannya dari memulai shalat.
Dalam setiap gerakan shalat juga banyak senjata kita untuk melawan iblis. Sujud, misalnya, adalah bentuk penghambaan kita kepada Allah, menjalankan fungsi kita sebagai hamba sebagaimana firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ٥٦
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
[QS. Adz-Dzariyat [51]: 56]
Sujud adalah perintah Allah yang iblis tolak. Maka, melihat manusia sujud dalam shalat menjadi jeritan penuh kesengsaraan bagi iblis, melihat tipu dayanya gagal menahan kita dari mengabdikan diri kepada-Nya.
Dengan menyingkirkan pengaruh iblis, maka kita akan lebih mudah menjalankan amal kebaikan dan terhindar dari melakukan amal keburukan. Maka Allah telah menjanjikan untuk mereka yang menjalankan shalat dalam firman-Nya:
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ
Dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.
[QS. Al-Ankabut [29]: 45]
Untuk itu, manusia tidak boleh sekalipun meninggalkan shalat. Tidak peduli jika dia itu adalah seorang pendosa, yang bahkan sebesar zina sekalipun, tetaplah laksanakan shalat. Insya Allah, seiring dengan shalat yang terus dijalankan, maka dosa itu akan perlahan-lahan dapat ditinggalkan. Shalatlah sesibuk apapun kegiatan kita. Semoga Allah memberi kita kekuatan dan senjata melawan hawa nafsu dan godaan iblis melalui shalat yang kita laksanakan.