Intisari Kajian Hadis bersama Ust. H. Zubair Alam, M.Pd., M.Hum. hari Ahad tanggal 11 Januari 2026.

Mempersiapkan Kedatangan Ramadhan
Tidak terasa bahwa saat ini kita telah mencapai penghujung bulan Rajab. Selanjutnya, akan datang bulan Sya’ban sebelum akhirnya kita tiba di bulan suci Ramadhan. Terhitung bahwa per hari ini, Ramadhan tinggal berjarak 40 hari lagi. Maka, sangat penting untuk kita mulai mempersiapkan diri untuk kedatangan bulan Ramadhan.
Tentu, Ramadhan akan terasa lebih membahagiakan jika kita mengikutsertakan keluarga dalam setiap langkahnya. Untuk itu, dalam rangka mempersiapkan keluarga kita memasuki bulan Ramadhan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan.
Pertama, mengenal hukum-hukum amalan dan berbagai keutamaan dan kemuliaan di bulan Ramadhan. Dengan mengetahui ilmu ini, maka akan timbul semangat untuk terus beribadah demi meraup pahala luar biasa di bulan Ramadhan. Misal, bagaimana keutamaan dari puasa sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah Saw. dari Abu Hurairah ra.:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (ridha Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.
[HR. Bukhari]
Kedua, mempersiapkan keperluan Idul Fitri sebelum memasuki Ramadhan. Kita sering melihat bahwa banyak orang mencari berbagai keperluan logistik untuk Idul Fitri seperti baju baru menjelang akhir Ramadhan. Hal ini sebenarnya sangat merugikan mengingat istimewanya sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk itu, akan jauh lebih baik jika keperluan Idul Fitri yang dapat dipersiapkan dari jauh-jauh hari untuk diadakan dari sebelum Ramadhan. Dengan demikian, kita akan lebih fokus untuk beribadah di bulan suci Ramadhan.
Ketiga, berniat untuk melakukan amalan-amalan terbaik. Dengan segala keutamaan dan pahalanya yang berlipat-lipat, maka mestilah kita mengusahakan amal-amal yang terbaik dalam momentum Ramadhan. Terlebih di momentum malam-malamnya, terutama di sepuluh terakhir. Hal ini berdasarkan redaksi lain dari hadis sebelumnya dalam riwayat An-Nasa’i yang juga menjelaskan perihal malam Lailatul Qadar.
مَنْ صَامَ شَهْرَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَا تَأَخَّرَ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Siapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni baginya dosa yang telah lalu dan yang akan datang. Dan siapa yang berdiri (menghidupkan) Malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni baginya dosa yang telah lalu.
[HR An-Nasai]
Niat Yang Perlu Dipersiapkan
Sebelum memasuki bulan Ramadhan, sangat perlu untuk menetapkan niat perihal apa saja yang akan dilakukan di dalamnya. Hal ini dikarenakan hanya dengan niat yang lurus, pahala sudah didapatkan sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.:
إِذَا أَرَادَ عَبْدِيْ أَنْ يَعْمَلَ سَيِّئَةً ؛ فَلَا تَكْتُبُوْهَا عَلَيْهِ حَتَّى يَعْمَلَهَـا ، فَإِذَا عَمِلَهَا فَاكْتُبُوْهَا بِمِثْلِهَا ، وَإِنْ تَرَكَهَا مِنْ أَجْلِـيْ فَاكْتُبُوْهَا لَهُ حَسَنَةً ، وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْمَلَ حَسَنَةً فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوْهَا لَهُ حَسَنَةً ؛ فَإِذَا عَمِلَهَا فَاكْتُبُوْهَا لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِـهَا إِلَى سَبْعِمِائَةٍ
Jika hamba-Ku berniat melakukan kesalahan, maka janganlah kalian menulis kesalahan itu sampai ia (benar-benar) mengerjakannya. Jika ia sudah mengerjakannya, maka tulislah sesuai dengan perbuatannya. Jika ia meninggalkan kesalahan tersebut karena Aku, maka tulislah untuknya satu kebaikan. Jika ia ingin mengerjakan kebaikan namun tidak mengerjakannya, tulislah sebagai kebaikan untuknya. Jika ia mengerjakan kebaikan tersebut, tulislah baginya sepuluh kali kebaikannya itu hingga tujuh ratus (kebaikan).’”
[HR. Bukhari no. 7501]
Lantas, apa saja niat yang perlu untuk ditetapkan ketika memasuki bulan Ramadhan? Setidaknya ada lima hal sebagai berikut.
Pertama, bertaubat dengan sebenar-benarnya, yaitu dengan taubat nasuha. Menyesali dengan sungguh-sungguh kesalahannya dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
Kedua, selalu menjaga lisan dan berbuat baik kepada makhluk lain. Niat ini tidak terbatas hanya pada manusia, melainkan juga kepada hewan dan tumbuhan. Juga termasuk dalam niat ini adalah menjaga lingkungan untuk kebaikan semua makhluk.
Ketiga, mengkhatamkan Al-Qur’an dengan peningkatan. Yang dimaksud peningkatan dalam hal ini bukan hanya sekadar berulang kali mengkhatamkan Al-Qur’an, melainkan disertai dengan pemaknaan lebih lanjut melalui kajian tafsir dan tadabur atau dengan meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an melalui tahsin.
Keempat, memperbanyak ketaatan. Termasuk di dalamnya adalah silaturahmi, sedekah, memberi makanan untuk buka puasa, dan memaafkan orang lain.
Kelima, merealisasikan taqwa sebagai tujuan dari puasa. Inilah tujuan utama dari semua ibadah di bulan Ramadhan, terutama puasa sebagaimana firman Allah Swt.:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ١٨٣
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
[QS. Al-Baqarah [2]: 183]
Program Pelaksanaan
Untuk mewujudkan niat tersebut, terdapat beberapa program yang dapat dilaksanakan, di antaranya adalah sebagai berikut.
Menyambut Ramadhan
Ramadhan datang ditandai dengan adanya hilal. Maka, jika memungkinkan, ajak keluarga untuk melihat hilal secara langsung. Mengikuti proses rukyatul hilal akan memberi pendidikan fiqih dan falak/astronomi, terutama untuk anak-anak.
Datangnya Ramadhan patut disyukuri, untuk itulah memberikan ucapan “Marhaban Ya Ramadhan” sangat dianjurkan untuk memberitahukan kerabat atau bahkan khalayak umum bahwa Ramadhan akhirnya tiba. Ucapan ini dapat disebarkan baik secara lisan, telepon, chat, bahkan diposting di media sosial sebagai bentuk syiar Islam. Ucapan ini juga menjadi bentuk menampakkan kebahagiaan atas kehadiran bulan Ramadhan.
Dengan banyaknya ibadah di bulan Ramadhan yang akan dilakukan bersama, maka sudah semestinya setiap keluarga untuk mempersiapkan tempat khusus untuk shalat dan beribadah di rumah, misalnya di ruangan mushola, jika ada. Selain itu, perlu juga dipersiapkan mushaf Al-Qur’an. Tentu tidak semua keluarga cukup konsisten bertadarus setiap hari. Maka, penting untuk mushaf-mushaf dipersiapkan agar kebiasaan itu dapat dimulai dari bulan Ramadhan ini.
Pembiasaan Ibadah
Untuk membiasakan diri dalam fokus ibadah di bulan Ramadhan, maka mulai lakukan beberapa perubahan dan penyesuaian. Hal pertama dapat dimulai dari shalat Shubuh. Biasakan diri untuk berjama’ah di masjid dan kemudian tetap berada di masjid, berdzikir ataupun bertadarus hingga tiba waktu matahari terbit untuk melaksanakan shalat Syuruq.
Amal lain yang harus dibiasakan di bulan Ramadhan adalah bersedekah. Bukan masalah besar atau kecilnya, yang lebih penting adalah konsisten dan istiqomah setiap hari.
Hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah tentang berbuka puasa. Pastikan selalu berdoa sebelum berbuka dan tidak berlebihan dalam mempersiapkan hidangan berbuka. Tentu akan lebih baik jika sebagian hidangan tersebut disedekahkan untuk makanan berbuka bagi orang lain di lingkungan sekitar, terutama bagi yang belum memilikinya.
Kebiasaan lain yang perlu ditanamkan adalah meningkatkan ukhuwah (persaudaraan) Islamiyah. Hal ini bisa dilakukan minimal dengan cara mendoakan saudara sesama muslim di waktu-waktu mustajab. Pada tingkat maksimal, hal itu bisa diwujudkan dengan bersedekah secara nyata.
Perubahan yang penting lainnya adalah memperbanyak menuntut ilmu melalui majelis ta’lim. Selalu usahakan untuk menyisihkan waktu di bulan Ramadhan untuk mengikuti majelis ilmu, baik itu di masjid atau menyelenggarakan secara mandiri bersama keluarga di rumah.
Menarik Anak-Anak
Dalam sebuah keluarga, anak seringkali agak sulit untuk diajak mengikuti program Ramadhan. Umumnya ini terjadi karena kegiatan ibadah Ramadhan dianggap kurang menarik. Untuk itu, ada beberapa strategi dari orang tua yang bisa dilakukan untuk menarik anak-anak kita sebagai berikut.
Pada awalnya, mulai dari membentuk suasana di rumah. Pasang berbagai stiker atau kartu berwarna-warni di rumah yang berisi hadis-hadis dan dalil-dalil tentang keutamaan bulan Ramadhan. Dengan media dakwah yang menarik, anak-anak akan tertarik perhatiannya dan diharapkan dengan dalil-dalil yang disampaikan akan menambah motivasi mereka untuk beribadah di bulan Ramadhan.
Adapun pada akhirnya, berikan apresiasi khusus untuk anak atas capaiannya di bulan Ramadhan. Pencapaian anak di bulan Ramadhan termasuk di antaranya adalah berpuasa penuh (terutama bagi yang baru pertama kali), mengkhatamkan Al-Qur’an, dan menambah hafalan Al-Qur’an.
Pada akhirnya, Ramadhan sebagai bulan yang istimewa harus pula disambut dan dipersiapkan dengan spesial.