Intisari Kajian Tafsir Al-Qur’an dan Fiqih Ibadah bersama Dr. H. Mad Ali, MA. hari Rabu tanggal 20 Agustus 2025.

Sumpah Allah Demi Waktu
فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ ١٦ وَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ ١٧ وَٱلْقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ ١٨
(16) Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja, (17) dan demi malam dan apa yang diselubunginya, (18) dan demi bulan apabila jadi purnama,
Pada tiga ayat ini, Allah bersumpah atas beberapa hal yang mengatur aspek waktu.
Senja dan malam menandakan bagaimana dunia akan beranjak meninggalkan kita. Suatu saat, manusia akan memasuki waktu senja, pertanda bahwa sebentar lagi tiba waktunya untuk meninggalkan dunia. Inilah yang menjadi salah satu informasi yang akan dijelaskan pada ayat-ayat berikutnya.
Penekanan utama berada pada ayat ke-18. Perubahan bulan dari keadaaan bulan mati, sabit, separuh, bungkuk, hingga purnama menunjukkan adanya tahapan-tahapan bulan menuju purnama, termasuk tahapan setelahnya yang mundur kembali: purnama, bungkuk, separuh, sabit, dan kembali ke bulan mati. Ini akan dijadikan gambaran untuk menjelaskan ayat berikutnya.
Tahapan-Tahapan Manusia
لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍۢ ١٩
(19) Sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).
Bagian awal dari ayat ini dapat ditinjau dari segi kebahasaan kata dalam Bahasa Arab. Huruf لَ dalam ayat ini berarti “sesungguhnya” yang bersifat harf, yaitu kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Untuk itu, diperlukan penjelasan dengan disandingkan dengan kata isim (kata benda) atau fi’il (kata kerja). Maka, hanya jika kalimat tersebut dilengkapi menjadi لَتَرْكَبُنَّ maka diperoleh arti yang “sesungguhnya kamu akan mengalami.” Apa yang dialami? Yaitu طَبَقًا عَن طَبَقٍۢ, fase demi fase, tingkat demi tingkat.
Manusia dimulai dari sperma (air mani yang memancar) dan sel telur yang bertemu menjadi nutfah yang bercampur. Kemudian jadilah ‘alaq, segumpal darah yang menempel pada dinding rahim. Dengan nutrisi dari ibunya, jadilah mudgah, segumpal daging dan kemudian izhamah yaitu tulang-belulang. Barulah tulang-belulang itu dibungkus kembali dengan daging dan jadilah makhluk yang baru, yaitu manusia dengan ditiupkan ruh kepadanya.
Setelah kita lahir, maka kita mengalami fase kehidupan: dari bayi, balita, anak, remaja, dewasa, lanjut usia, hingga berakhir dengan kematian. Kita kemudian akan menjalani fase kubur, pembangkitan, pengumpulan (mahsyar), hisab, mizan, shirat, dan barulah kita masuk ke fase terakhir: surga atau neraka.